Sketsa Ichsan Harja—Tentang Kesadaran, Interaksi, dan Antisipasi

Lewat sketsa, ia berkenalan dengan tempat.

Author

Saya bertemu dengan Ichsan Harja di Taman Jomblo, Bandung. Hari itu persis sebulan setelah Ridwan Kamil, Walikota Bandung yang juga teman satu kosnya semasa berkuliah di ITB, meresmikan taman kecil di bawah Jalan Layang Pasupati itu.

Ichsan datang dengan bersepeda. Dari kantor konsultan arsitektur tempatnya bekerja, ia menghabiskan limabelas menit. Keringat membasahi kemeja birunya sesampainya ia di taman, tetapi wajahnya tidak menyiratkan rasa lelah. “Kalau saya pakai sepeda, ada toko, bengkel sepeda, atau restoran Sunda yang baru buka, saya akan sadar. Tapi kalau saya pakai motor atau mobil kesadaran itu tidak ada karena kita sibuk di jalan,” tegasnya, di tengah bising lalu lalang kendaraan yang menyemarakkan perbincangan santai kami.

Mensketsa, baginya, sebelas duabelas dengan bersepeda. Sketsa memberikannya kesempatan untuk lebih menyadari dan memperhatikan sekitar. Lebih jauh lagi, sketsa membuka pintu untuk melebur dengan tempat dan berinteraksi dengan orang-orang lain.

“Orang-orang yang biasanya menghindar ketika difoto, seperti tukang becak, pedagang kaki lima, tukang parkir, atau preman, justru paling sering mengajak kita mengobrol ketika kita mensketsa,” cerita Ichsan. “Mereka senang, dan beberapa kali saya alami ketika pedagang kaki lima tahu saya sedang menggambarnya, ia justru mendekatkan dagangannya dan minta digambar lebih detail.”

Dalam praktik menggambarnya, Ichsan banyak merekam kota. Studinya di bidang perancangan perkotaan membangun tertarik pada bangunan-bangunan tua dan bersejarah. Bersama beberapa rekannya, ia pernah membuat seri buku Cities in Watercolor, buku yang berisi lukisan-lukisan cat air bangunan-bangunan bersejarah dan pemandangan jalan di Jakarta, Bandung,  dan Provinsi Sumatera Selatan.

Baik dalam melukis maupun mensketsa, Ichsan banyak menggunakan medium cat air. Ia tampak memiliki hubungan intim dengan medium tersebut. Ketika saya menanyakan alasannya, ia menjelaskan bahwa di dalam cat air terdapat unsur antisipasi, yang ia coba gambarkan bagai kamera film: kita tidak bisa menebak persis bagaimana hasil potretnya sebelum kita melalui segala proses pencucian film yang panjang. Begitu halnya dengan cat air, yang tak bisa kita duga hasilnya hingga tetes cat terakhir. “Lain dengan cat poster, cat akrilik, atau cat minyak, yang kita bisaperbaiki terus tanpa kelihatan bekas-bekas perbaikannya,” tambahnya.

Ichsan lalu menceritakan dua buku sketsanya. Keduanya ia beli saat berada di Jepang, tahun 2012. Ketika itu, ia mendapatkan beasiswa dari Asian Public Intellectuals (API) Fellowship untuk tinggal di Kyoto selama setahun dan membuat buku serupa Cities in Watercolor.

Tak seperti lukisan-lukisannya yang tampak tuntas dan begitu nyata, sketsa-sketsa di dalam buku yang ia tunjukkan tampak lebih luwes dan kaya eksperimen, dari segi gaya, medium, hingga nuansa warna. Di buku itu, tampak berbagai macam ujicobanya, dari menggambar dengan tinta untuk pertama kalinya—kala itu di Kota Cirebon—hingga menggambar dengan siwak, sikat gigi Arab yang terbuat dari kayu. Di lembar lain, terdapat coretan namanya dengan menggunakan aksara Sunda. Ada juga gambar-gambar aneka hewan oleh keponakannya yang suatu ketika ingin ikut menggambar tetapi tidak mau di buku miliknya sendiri.

Rupa-rupa ikon Kota Bandung mendominasi kedua buku gambarnya, dari Warung Kopi Purnama, Masjid Salman, Selasar Sunaryo Art Space, Savoy Homann, hingga Gedung Sate. Di antaranya, banyak terdapat cap Bandung Sketchwalk, kegiatan jalan-jalan sambil mensketsa yang ia dirikan bersama teman-temannya. 

Di akhir obrolan kami, saya memintanya untuk mensketsa. Dengan menggunakan pena tinta yang tampaknya selalu menyertainya ke manapun ia berada, ia menggambar Taman Jomblo. Tangannya begitu gesit, tak kalah dengan mesin printer. Objek di hadapannya yang ia gambar seperti sudah terekam di kepalanya, hingga ia hanya perlu sesekali melihatnya. Tak sampai lima menit, bertambah satu lagi ikon Kota Bandung di buku sketsanya.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu