Sou Fujimoto: Menangkap Konteks yang Tersirat

dari arsitektur, rumah, hingga buku favoritnya.

Author

Setelah acara simposium Atap Jakarta, saya berkesempatan mewawancarai Sou Fujimoto. Momen itu mengingatkan saya pada percakapan fiktif antara dia dan Avianti Armand, yang mengenalkan saya pertama kali pada pemikiran arsitekturnya. Situasi hari itu, hanya saja, berbeda 180 derajat. Tidak ada musim semi yang manja, sinar matahari yang sayu, atau bajing-bajing kecil yang sibuk; percakapan kami berlangsung di sebuah restoran di pusat perbelanjaan, diiringi gaduh obrolan-obrolan di meja sekitar.

Sou adalah orang yang menyenangkan, yang hampir selalu tersenyum, baik saat hendak memulai maupun setelah menuntaskan jawabannya. Ia juga terlihat begitu santai dengan sepatu sport dan kemeja putihnya. Namun ketika membicarakan arsitektur, imannya kukuh. Arsitektur baginya selalu tentang relasi—bagaimana hubungan-hubungan antar bagian, juga hubungan-hubungan antar hal-hal yang bertentangan, melebur dan menciptakan kualitas yang sublim. Seperti yang ia ungkap dalam buku magnum opus-nya Primitive Future (2008),

“Eksterioritas bukan arsitektur. Interioritas bukan arsitektur. Arsitektur terwujud pada bagaimana eksterioritas dan interioritas saling berhubungan.”

 

Anda kerap merefleksikan alam sebagai sesuatu yang alami: hutan, gua, pohon, dan sebagainya. Bagaimana Anda mempertimbangkan konteks—“alam” tempat karya itu sendiri berada—dalam arsitektur Anda?

Konteks sangat penting—salah satu hal yang terpenting. Termasuk di dalamnya iklim, lingkungan, gaya hidup, latar belakang budaya, dan tentunya kebutuhan klien. Awal titik mula arsitektur adalah konteks. Saya mulai dari situ, bentuk tapak dan lainnya. Jika berbagai hal berbeda di dalam konteks bisa Anda integrasikan dalam satu ruang, itu bisa menjadi arsitektur yang menakjubkan.

Melihat sekilas, karya-karya arsitektur Anda tampak seperti alien bagi sekitarnya.

Karena saya selalu berusaha untuk menangkap konteks yang tersirat, bukan sekadar konteks yang kasat mata. Juga termasuk konteks masa depan. Itu sebabnya karya-karya saya kerap tidak tampak serasi dengan sekitarnya.

Dalam presentasi tadi, Anda menyebutkan tujuan desain adalah untuk menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam hidup. Apakah ada tanggung jawab yang Anda emban dalam arsitektur Anda?

Saya berpikir isu kelestarian lingkungan (sustainability) krusial untuk negara-negara Eropa. Namun, isu kelestarian lingkungan untuk tempat seperti Jepang atau Jakarta berbeda. Tidak hanya perkara melindungi bangunan dari iklim eksterior, tapi lebih bagaimana menikmati iklim, menghadirkan perbedaan, dan hal-hal semacam demikian. Jadi, dalam hal ini, saya memikirkan kelestarian yang berbeda. Lebih berkomunikasi dengan alam. Kita perlu mendefinisikan ulang makna kelestarian di dunia.

Apa makna interioritas dan eksterioritas bagi Anda?

Eksterior adalah eksterior, tidak ada makna lain. Bagaimana mendefinisikan interior, itulah tantangan besarnya (arsitektur). Definisi interior itu sendiri adalah gagasan arsitektur, dan bagi saya, interior lebih seperti sebuah gradasi—situasi yang beralih perlahan. Semakin ke dalam, semakin mendapatkan privasi, semakin dalam lagi sampai bertemu dengan ruang dalam yang paling nyata. Namun, di sisi sebaliknya, semakin keluar semakin terbuka, sampai di satu titik berada hampir di paling luar—eksterior. Itulah yang saya maksud dengan gradasi.

Adakah “berada di dalam” di karya-karya Anda?

Sebetulnya ada, namun memang perlahan berubah. Anda tidak akan melihat batasnya dengan nyata. Anda hanya akan merasa suatu ketika kemudian berada di dalam.

Sebelum Anda kesohor, apakah sulit mencari orang yang mau tinggal di dalam arsitektur Anda?

Ya, sangat sulit. Jadi, saya menunggu saja. Hahaha.

Rumah Anda: sarang burung atau gua?

Rumah saya apartemen biasa. Tidak ada yang spesial. Saya tidak terlalu peduli dengan rumah saya sendiri. Saya tidak suka merancang rumah untuk saya sendiri, karena itu bisa jadi proses pencarian ide yang tiada henti—tidak ada deadline. Mengerikan.

Beberapa buku yang penting buat Anda?

Saya mendapatkan pengaruh dari beberapa buku. Salah satunya, buku berjudul Order out of Chaos: Man's new dialogue with nature, ditulis oleh Ilya Prigogine, ilmuwan yang mendapatkan Hadiah Nobel. Buku itu berkutat pada tatatan dan kekacauan, kompleksitas dan diversitas. Buku lain ditulis oleh Roland Barthes, judul bukunya Empire of Signs. Ia adalah pria Perancis yang datang ke Jepang, lalu menulis sebuah buku tentang kebudayaan Jepang, dari sudut pandang kebudayaan Perancis. Buku itu sangat menarik buat saya karena menawarkan perspektif yang berbeda untuk memahami kebudayaan kami. Sangat membukakan pikiran.

 Baca Juga: Ruang Luar, Ruang Dalam, dan Ruang-ruang di Antaranya



comments powered by Disqus
 

Login dahulu