Survival of The Fittest

Ketika produk arsitektur sebagai lingkungan binaan justru semakin membinasakan, saatnya mempertanyakan kembali peran dan tanggung jawab.

Author
Tribute in Light, di lokasi bekas World Trade Center, New York City. (Foto oleh Caruba)

Satu poin yang sangat dirayakan dalam gerakan arsitektur Modern, adalah kompetisi untuk menghasilkan hal-hal yang serba “ter-”. Akibat revolusi industri, perlombaan di dalam arsitektur pun terjadi dengan berlandaskan ketersediaan bahan-bahan industrial massal seperti baja, kaca, dan beton, yang pararel dengan kemajuan pesat perhitungan saintifik dalam dunia keteknikan.

Di awal abad ke-20, kompetisi yang tadinya dilakukan dengan trial-error (seperti temuan Brunelleschi dome), sudah dapat dilakukan dengan perhitungan akurat dan memiliki tingkat kepastian yang sangat tinggi. Muncul perlombaan menghasilkan bangunan tertinggi, bentang terlebar, bidang kaca terbesar, terbanyak, dan lain sebagainya, sampai di satu titik kita dihadapkan pada situasi absurd. Untuk apa itu semua? Berapa harga yang harus dibayar (bukan sekadar isu uang)? Apakah akan “langgeng” sebagai sebuah karya arsitektur? Apakah tidak berbahaya untuk dilanjutkan?

Brunelleschi dome, yang dikerjakan selama 28 tahun (Foto oleh Stuart Caie)

Pertanyaan-pertanyaan ini di arsitektur mengacu pada diktum Marcus Vitruvius Pollio, tentang Firmitas, Utilitas, dan Venustas. Harapan zaman pencerahan atas dunia yang lebih baik bahkan semakin jauh dari angan-angan. Perlombaan untuk tampil “ter-” lalu  memberi sumbangsih besar pada kerusakan bumi dan manusia. Gandhi menyimpulkannya dalam satu kalimat, “The world has enough for everyone’s need, but not for everyone’s greed.”

Kebangkrutan Eropa dan Amerikas Serikat saat ini sebetulnya membangun kesadaran berarsitektur yang lebih membumi. Namun apakah kesadaran “baru” tersebut akan bertahan? Saya kira cuma akan sementara. Keserakahan dan narsisisme adalah bagian dari dunia yang berhubungan erat dengan penghargaan atas tampilan visual. Dan arsitek-arsitek sudah terjebak permainan, dalam tuntutan perlombaan tampilan visual, yang di zaman ini begitu heboh dirayakan secara gegap gempita di media-media sosial. Publikasi arsitektur di Indonesia secara umum, saat ini sudah masuk mood “Farhat Abbas”. Apa saja jadi berita asal heboh, asal ada berita panas setiap minggu. Arsitektur bagus seringkali dinilai dari sisi kehebohan tampilan daripada tanggung jawab arsitek akan kehadiran karya-karya. Soal kebaikan bukan isu yang dianggap serius. Dua tulisan lalu di Konteks seperti mewakili kegalauan ini.

(baca juga: Arsitektur dan Iklim dan Idealisme Arsitektur dan Kenyataannya di Indonesia)

 

Peran dan tanggung jawab arsitektur

Produk arsitektur adalah lingkungan binaan, dengan menghadirkan bangunan-bangunan dan penataan alam. Yang justru terjadi sebenarnya adalah tindakan merusak alam dengan pembenaran untuk menghasilkan sebuah keseimbangan baru. Alam ditoreh, bumi dirobek—ditusuk dan diisap sari patinya. Bumi yang dilukai ini diasumsikan akan menjadi bumi yang lebih baik bagi manusia.

Untuk itu, mutlak untuk mengaitkan seluruh kegiatan berarsitektur terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Berbeda dengan seni murni yang menjadikan terobosan-terobosan Sang Artis sebagai puncak pencapaian, arsitektur seharusnya tetap dipandang sebagai bagian dari Functional Arts. Ada tanggung jawab besar karena kehadiran karya arsitektur adalah untuk jangka waktu yang sangat panjang (kecuali pada karya-karya instalasi) dan ada isu tentang lingkungan hidup dan manusia yang bersinggungan dengan kehadiran baru tersebut.

Keinginan untuk menghasilkan terobosan-terobosan, terutama terobosan visual, harus dikaitkan dengan isu rutinitas kehidupan yang akan berlangsung dan terus berlangsung seumur karya tersebut. Menjadi “bagus” adalah bagian dari baik-indah. Di zaman bising komunikasi yang cenderung narsisistik (Facebook=my face, Twitter=my tweet, Instagram= my angle), terlihat sekali betapa diskusi kritis tentang arsitektur menjadi hal absurd. Arsitek sibuk bergagah lewat media, menggagas pameran-pameran, tanpa menyajikan kedalaman yang cukup. Peran arsitek sebagai pengubah peradaban sudah berubah di zaman ini. Kita cuma salah satu dari pesolek yang ditunggu media-media mingguan, sekali berarti—semoga—lantas mati.

 

Sukses dan sempurna

Diskusi mengenai kesuksesan seorang arsitek-biro arsitek Indonesia, selalu berakhir menghasilkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Beberapa klasifikasi sukses selalu dikaitkan dengan pencapaian-pencapaian kuantitatif, jumlah proyek yang berhasil dikerjakan, jumlah publikasi,sampai besaran perolehan fee. Bahkan penilaian IAI award yang kita junjung tinggi menurut saya, sebagai orang yang pernah menjadi juri, dilakukan dengan tidak serius. Tidak ada ulasan secara mendalam serta waktu cukup untuk melakukan wawancara dengan pengguna dan sekitar.

Sukses sangat berkaitan dengan kesempurnaan (Excellence—versi Weld Coxe dan Nina Hartung). Ia adalah sebuah proses yang panjang dan berkelanjutan. Perjalanan membangun reputasi dan portfolio dari karya ke karya terbangun adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak mungkin dilakukan secara instan. Setiap karya memberi pelajaran di dalam proses dan di kehadiran nyatanya. Kerja arsitektur adalah kerja yang berproses dan itu butuh waktu yang panjang. Sejarah tidak pernah mencatat munculnya arsitek seperti fenomena Justin Bieber.

Publik arsitektur yang sebenarnya adalah pengguna, masyarakat yang bersinggungan dengan sebuah karya. Apa yang mereka rasakan adalah sebuah kegunaan berjangka panjang, bukan sekadar kekaguman secara visual. Tujuan kehadiran karya arsitektur harus menjadi fokus dari perancangan secara menyeluruh. Sebuah rumah dibangun untuk dihuni, tumbuh berkembang bersama usia dan dinamika keluarga. Ada ketidakpastian yang mungkin terjadi dalam kurun waktu yang panjang, seperti kelahiran, kematian, pasang surut kesehatan dan rejeki, dan sebagainya. Sebuah rumah tidak dibangun untuk merayakan sebuah kemenangan gaya arsitektur, apalagi sampai menegasi alam tempatnya berada (iklim dan kondisi geografis). Demikian pula tujuan-tujuan kehadiran tipe-tipe bangunan lain.

Mendalami tujuan dari setiap tipe, mengerti sebuah program yang akan bekerja secara terbuka terhadap perubahan adalah sebuah keharusan. Karya arsitektur yang  baik seharusnya merespon hal tersebut, bukan sekedar sebuah kenikmatan fotogenik. Sebuah usaha keras perlu dilakukan untuk memutar kecenderungan pemanfaatan media yang tidak responsif terhadap situasi hidup dan alam secara holistik. Sebagai arsitek yang juga merancang proyek-proyek interior, saya meilhat dengan jelas perbedaan antara keduanya. Proyek interior , terutama proyek-proyek publik  komersial adalah proyek temporer, dibangun dengan asumsi bahwa dalam waktu lima sampai sepuluh tahun, akan dirombak bahkan kadang diganti total. Kompetisi ketat mengharuskan setiap proyek untuk hadir unik dan heboh agar dalam waktu pendek kehadirannya, sejak hari pertama peresmian, bisa menghasilkan ketertarikan berujung profit. Pendekatan semacam ini tidak cocok, misalnya untuk rumah tinggal, rumah sakit, atau hotel, di mana perubahan yang terjadi akan sangat mengganggu perjalanan kehidupan di dalam karya tersebut.

Peta kehidupan arsitektur di Indonesia akan segera berubah, seiring dengan terbukanya pasar kita, pasca berlakunya perjanjian pasar bebas Asia Pasifik. Arsitek dan calon arsitek kita dihadapkan pada situasi mengkhawatirkan, terbiasa berpraktik tanpa keketatan standar merancang dan membangun yang baik karena tidak ada klausul “liabilitas”. Dunia pendidkan arsitektur (terutama S1) perlu merespons situasi ini dengan menjelaskan posisinya, apakah mau menghasilkan lulusan dalam konteks praprofesional, atau memperkuat dasar-dasar yang akan dikembangkan kemudian di S2 ataupun sekolah profesi lanjutan. Bagi lulusan baru, kesiapan memasuki lapangan kerja akan menjadi keunggulan untuk berkompetisi dengan para tenaga asing yang sudah mulai masuk ke Indonesia.

Saya harap kompetisi itu tidak menjadi brutal, seperti kompetisi hewani ala Darwin.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu