Taman Inklusif atau Taman Imajinatif?

Ruang publik bagi teman-teman disabilitas

Author
Potret Taman Inklusi Bandung, Indonesia (Foto oleh: Gilbert Antonious)

Di dunia ini, ada orang yang terlahir dengan anggota tubuh yang lengkap tanpa keterbatasan apapun. Tetapi, ada juga mereka yang terlahir dengan anggota tubuh yang tidak lengkap atau memiliki keterbatasan. Teman-teman kita yang mengalami kekurangan fisik terkadang membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Tetapi ada saat di mana mereka harus menjadi seorang yang mandiri dan melakukan aktivitas mereka sendiri. Keterbatasan fisik yang dimiliki menjadikan aktivitas yang dapat dilakukan menjadi terbatas juga. Namun, bisakah kita menciptakan sebuah fasilitas yang dapat mendukung mereka dalam beraktivitas? Fasilitas seperti apa yang dibutuhkan oleh orang-orang difabel dan disabilitas.

Fasilitas yang akan menjadi topik pembahasan tulisan ini adalah taman. Taman merupakan sebuah area yang biasanya dapat ditemui pada alun-alun kota atau pada pekarangan rumah tinggal. Dalam sebuah taman, terdapat penggabungan antara elemen-elemen organik (flora dan fauna) dengan elemen-elemen anorganik (bebatuan, air mancur, patung, dan sebagainya). Area yang hijau, segar, sejuk, dan indah ini seringkali dijadikan sebagai tempat rekreasi keluarga atau sekedar untuk menyegarkan pikiran sejenak. Namun, pernahkah Anda mendengar istilah ‘taman inklusif’?

 

Mengenai Inklusif, Taman Inklusif, dan BIT

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “inklusif” berarti “termasuk” atau “terhitung”. Kata inklusif di sini ditujukan kepada para disabilitas, dalam arti mereka dipandang sebagai orang yang memiliki hak dan kebutuhan yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya. Taman inklusif berarti sebuah taman yang dapat memfasilitasi semua orang, tak terkecuali orang difabel dan disabilitas. Fasilitas dapat mencakup tempat duduk, jalanan setapak, toilet umum, tempat parkir, dan lain-lain.

Bandung Inclusive Trip (BIT) adalah sebuah acara yang diadakan oleh Gaung Bandung pada tahun 2018 di Bandung, Indonesia. Acara ini mengangkat isu “Inklusi dalam Akses” sebagai topik pembahasan utamanya. Dalam acara ini, partisipan yang mayoritas merupakan mahasiswa-mahasiswi desain secara langsung diajak untuk menganalisis rupa taman yang inklusif bersama para disabilitas. Partisipan bergantian menjalani simulasi secara langsung bagaimana rasanya jika mereka menjadi seorang tuna netra atau penyandang disabilitas. Mereka berkeliling taman dengan mata tertutup atau menggunakan kursi roda. Dengan melakukan simulasi seperti ini, partisipan diharapkan dapat menjadi lebih kritis dengan indra mereka dalam menganalisis elemen-elemen taman.

Selain itu, mereka juga memberikan partisipasi mereka dalam mewujudkan kota inklusif guna menciptakan kota ramah huni. Para peserta berkontribusi melalui sayembara mendesain ulang taman-taman yang mereka kunjungi agar menjadi lebih inklusif. Sebelum mendesain ulang taman, peserta dibekali dengan beberapa loka karya dan berkunjung ke setiap taman untuk melakukan analisis. Adapun taman-taman tersebut antara lain: Taman Balai Kota; Taman Inklusif; dan Taman Maluku. Taman-taman ini tergolong sebagai taman yang inklusif yang penggunanya beragam, baik dari segi fisik, maupun dari segi aktivitas yang dapat dilakukan.

Unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah taman pada umumnya berupa pepohonan, bunga-bunga, burung-burung, berbagai macam serangga, hiasan berupa patung, jalanan setapak, dan bangku-bangku yang tersebar di seluruh area taman. Setiap unsur ini memiliki kualitas yang dapat diterjemahkan oleh indra manusia dari segi penciuman, pendengaran, dan penglihatan. Namun, bagi orang difabel, salah satu kualitas ini tidak dapat diterjemahkan oleh indra mereka. Lantas apakah mereka menggunakan imajinasi mereka untuk menerka kualitas-kualitas taman tersebut? Ternyata, sebuah taman inklusif memiliki beberapa fasilitas yang dapat membantu para disabilitas dalam menjelajahi area taman.

 

Sebuah bantuan bagi tuna netra

Kegiatan yang biasanya dilakukan ketika sedang berkunjung ke sebuah taman adalah berjalan menyusuri jalanan setapak sembari menikmati pemandangan taman. Namun, tuna netra tidak dapat menikmati kualitas taman dalam bentuk penglihatan. Mereka tidak dapat berkeliling taman sebebasnya sambil menikmati keindahan taman tanpa dituntun oleh orang lain. Tuna netra dapat ditolong dengan adanya tactile block atau guiding block yang dipasang di sepanjang jalanan setapak taman. Tactile block merupakan sejenis paving block yang memiliki motif di permukaannya sebagai penanda jalan, khususnya bagi tuna netra. Bahan penutup lantai yang berdimensi 30 x 30 cm dengan ketebalan 3 cm ini terbagi menjadi dua sesuai motifnya. Tactile block yang bermotif garis lurus mengisyaratkan jalanan lurus, sedangkan tactile block yang bermotif titik-titik mengisyaratkan berhenti atau mengisyaratkan adanya transisi jalanan.

Jenis-jenis tactile block di Taman Inklusi

Jenis-jenis tactile block di Taman Inklusi (Foto oleh: Gilbert Antonious)

Tetapi karena harus mencakup seluruh area taman, pemasangan tactile block memiliki beberapa kelemahan. Pertama, semakin luas area taman, maka semakin banyak tactile block yang dibutuhkan dan semakin besar pula anggaran yang diperlukan. Kedua, taman merupakan area publik, sehingga resiko kerusakan-kerusakan fasilitas taman tidak dapat dihindari, termasuk resiko tacting block yang pecah atau tertutup oleh rumput liar. Ketiga, lanskap taman tidak selamanya datar, sehingga terkadang pemasangan tacting block tidak bisa selamanya datar dan menerus. Keempat, tactile block belum memiliki motif yang dapat mengisyaratkan adanya tempat beristirahat atau tempat berkumpul, sehingga menjadi sebuah masalah bagi tuna netra dalam menentukan arah di sekitar taman.

 

Sebuah bantuan bagi tuna rungu

Salah satu faktor penting bagi sebuah taman adalah suara. Ada berbagai macam suara yang terdapat di taman dan terjadi dalam waktu yang bersamaan, mulai dari kebisingan pengunjung taman, suara burung, dan suara ranting pohon yang ditiup angin. Akan tetapi, tuna rungu tidak dapat menikmati kualitas tersebut dalam bentuk pendengaran. Tuna rungu akan lebih mengandalkan penglihatan mereka, sehingga fasilitas yang dibutuhkan untuk membantu mereka merupakan penanda-penanda visual. Penanda-penanda ini bisa dalam bentuk infografis ataupun tulisan. Biasanya infografis berupa papan dengan gambar untuk menyampaikan sebuah hal, seperti larangan atau penunjuk arah. Dengan adanya penanda seperti ini, diharapkan tuna rungu bisa memperoleh informasi di sekitar area taman mengenai flora dan fauna yang ada di sekitar, ataupun mengenai bagian-bagian taman dan titik berkumpul. Namun sayangnya Taman Balai Kota, Taman Inklusi, dan Taman Maluku terlihat belum memiliki fasilitas seperti ini di sekitar area tamannya.

Infografis di Taman Balai Kota

Contoh infografis di Taman Balai Kota (Sumber: infobdg)

 

Sebuah bantuan bagi penyandang disabilitas

Taman bagi para disabilitasbisa menjadi sebuah hal yang mustahil dikunjungi. Lanskap taman yang tidak datar dan memiliki banyak tangga merupakan penghalang bagi mereka yang menggunakan tongkat dan kursi roda. Mereka yang menyandang disabilitas fisik mengalami kesulitan dalam hal aksesibilitas taman. Namun, masalah ini bisa diselesaikan dengan membuat lereng (ramp) di sekitar area akses taman.

Kontur tanah Taman Balai Kota yang tidak rata

Kontur tanah Taman Balai Kota yang tidak rata (Sumber: Pinterest)

Lerengan (ramp) merupakan sebidang tanah atau jalanan yang memiliki sudut kemiringan. Lerengan pada umumnya dibuat dengan kemiringan sudut sembilan atau sepuluh derajat, sedangkan standar kemiringan lereng yang dapat digunakan oleh penyandang disabilitas adalah tujuh derajat. Panjang lereng tidak boleh melebihi 900 cm dan lebar minimumnya 95 cm. Kalaupun panjang lereng terpaksa melebihi 900 cm, maka harus diberikan bordess setiap 900 cm. Di kedua sisi lereng diberikan susuran tangga untuk memudahkan penyandang disabilitas dalam mobilisasi.

Ramp dan tangga sebagai akses jalan di Taman Inklusi

Ramp dan tangga sebagai akses jalan di Taman Inklusi (Foto oleh: Gilbert Antonius)

Taman Balai Kota, Taman Inklusi, dan Taman Maluku, ketiganya memiliki kendala dalam hal aksesibilitas. Sebuah akses sangat penting untuk menentukan sirkulasi pergerakan pengunjung taman. Hal ini yang masih perlu dipertimbangkan oleh ketiga taman. Akses Taman Maluku berupa tangga dan tidak memiliki lerengan sama sekali, sedangkan lerengan Taman Balai Kota dan Taman Inklusi belum sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kemiringan lerengan di kedua taman adalah sembilan derajat, sedangkan standar kemiringan lereng bagi penyandang disabilitas adalah tujuh derajat. Kemiringan lerengan yang tidak sesuai standar hanya akan menghambat akses dan ruang gerak penyandang disabilitas di area tersebut. Selain itu, lerengan di kedua taman tidak memiliki susuran tangga sama sekali, sehingga beresiko menyebabkan kecelakaan bagi penyandang disabilitas. Kelemahan lain berupa pencahayaan di sekitar daerah akses yang sama sekali tidak ada.

Akses Taman Maluku yang hanya berupa tangga tanpa lerengan (ramp)

Akses Taman Maluku yang hanya berupa tangga tanpa lerengan / ramp (Foto oleh: Gilbert Antonius)

 

Sebuah bantuan bagi lansia

Taman digunakan dan dikunjungi oleh siapa saja tanpa terbatas fisik dan umur. Oleh karena itu, sebuah taman harus mampu memfasilitasi kegiatan-kegiatan pengunjungnya termasuk yang lansia. Mereka yang lansia biasanya melakukan jogging, senam, atau hanya sekedar duduk bersantai di bangku taman. Keterbatasan dalam usia menyebabkan mereka juga terbatas dalam hal tenaga fisik. Lansia tidak dapat berjalan mengelilingi taman dalam durasi yang lama. Mereka cenderung duduk dan mengamati aktivitas orang-orang di sekitar mereka. Merespon kebutuhan ini, furnitur publik (terutama bangku) yang berada di taman harus didesain senyaman mungkin digunakan bagi semua orang.

Tempat duduk di taman tidak hanya berupa bangku. Di taman biasanya terdapat verboden – area yang diisi tanah dan ditanami pepohonan – yang ukuran sisi-sisinya sedikit dilebihkan ke luar sehingga biasanya dijadikan sebagai tempat duduk. Verboden biasanya terbuat dari beton atau menggunakan material yang sama dengan bahan penutup lantai taman. Dengan menggunakan verboden, terjamin ketersediaan fasilitas tempat duduk di sepanjang area taman. Namun, tidak semua desain verboden bisa menjadi sebuah tempat duduk yang nyaman. Ini merupakan salah satu masalah yang dapat ditemukan di Taman Balai Kota, Taman Inklusi, dan Taman Maluku.

Potret Verboden di Taman Inklusi

Potret Verboden di Taman Inklusi (Foto oleh: Gilbert Antonius)

Agar tempat duduk tidak terasa terlalu tinggi atau terlalu rendah, tinggi verboden pada umumnya dibuat 50 cm. Karena material yang digunakan cenderung beton atau material yang sama dengan bahan penutup lantai, tekstur material tersebut terkadang tidak nyaman dijadikan sebagai tempat duduk. Dari ketiga taman, tidak terlihat adanya verboden yang menggunakan sandaran punggung dan sandaran lengan. Penggunaan sandaran punggung dan sandaran lengan pada tempat duduk mempengaruhi kenyamanan pengguna saat hendak duduk dan berdiri. Di ketiga taman ini juga dapat diperhatikan terdapat verboden yang tidak terawat kualitasnya.

Sebuah pandangan

Jika dibandingkan dengan sejumlah taman-taman yang lain, Taman Balai Kota, Taman Inklusi, dan Taman Maluku tergolong sudah dapat memfasilitasi setiap golongan masyarakat dengan cukup baik. Akan tetapi dari analisa di atas, ketiga taman tersebut bisa dibilang masih memerlukan banyak perbaikan dan perubahan dalam desainnya, walaupun ketiganya tergolong sebagai taman yang inklusif. Masih terdapat beberapa kelemahan di area-area tertentu yang berpotensi mengubah taman ini menjadi sebuah taman yang bersifat imajinatif. Suatu taman dikatakan sebagai taman imajinatif ketika tidak semua pengunjung dapat menikmati kualitas taman dengan maksimal, atau dengan kata lain ketika mereka menjelajah ruang taman dengan menggunakan terkaan dan imajinasi mereka mengenai kualitas taman tersebut. Oleh karena itu, sebuah taman yang inklusif patut menghindari masalah seperti ini.

Elemen-elemen yang harus dimiliki sebuah taman inklusif adalah tactile block sebagai penanda jalan, penanda area taman dan informasi dalam bentuk visual, aksesibilitas berupa tangga dan lerengan yang sesuai dengan standar, fasilitas yang nyaman serta dapat mendukung aktivitas pengunjung taman dengan baik. Kehadiran elemen-elemen ini sangat membantu mereka yang memiliki keterbatasan secara fisik. Dengan demikian, para pengunjung khususnya orang-orang difabel dan disabilitas tidak perlu menerka-nerka arah dan merasa dirinya memiliki keterbatasan saat mengunjungi area publik, termasuk taman.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu