Tradisi Pameran Arsitektur Dua Tahunan di Venezia

Sekilas sejarah Venice Biennale for Architecture

Author

Tahun 2010 boleh jadi istimewa bagi ranah arsitektur Indonesia dalam khazanah arsitektur dunia. Di World Expo Shanghai, Indonesia mempunyai sebuah paviliun[1] yang dirancang oleh Budi Lim, terbangun bersama paviliun-paviliun dari 66 negara, 4 paviliun bertema khusus, dan 13 paviliun lain dari organisasi internasional[2]. Paviliun Indonesia dikunjungi oleh 8.150.230 pengunjung sampai pada hari terakhir Expo tanggal 31 Oktober 2010[3]. Pagelaran arsitektur yang dimeriahkan oleh sekian banyak peserta tersebut tidak hanya menarik para pelaku dan pemerhati arsitektur, melainkan juga khalayak umum. Bisa dikatakan ini adalah parade pameran desain arsitektur dalam ukuran yang sebenarnya.

Pameran desain arsitektur yang ekstravagan seperti World Expo tentu tidak selalu dapat terjadi, terutama karena masalah operasional dan biaya yang mahal. Namun, World Expo bukan satu-satunya cara untuk menikmati dan memahami arsitektur. Di Venezia, ada tradisi berpameran lain yang nuansanya berbeda dari pameran seperti di Shanghai, yaitu Venice Biennale. Pameran dua tahunan ini diselenggarakan di Venezia, Italia, bergantian antara arsitektur dan seni rupa. Venice Biennale saat ini menjadi salah satu ajang yang selalu ditunggu dan dikunjungi banyak orang dari mancanegara.

Giardini, salah satu area pameran Venice Biennale di mana masing-masing negara memiliki bangunan paviliunnya sendiri.

Sejarah Venice Biennale of Architecture diawali dari sebuah wacana. Vittorio Gregotti, pada tahun 1975, memulai tradisi pameran arsitektur ini dengan sebuah pameran tentang gudang tua yang terbengkalai di Giudecca. Gregotti mengundang para artis, arsitek, dan pihak-pihak lain untuk mengajukan proposal visi terhadap kincir tersebut. Pameran ini menjadi yang pertama dalam konteks Venice Biennale, yang memajang karya arsitektural sebagai materi pameran. Setelah lima tahun secara rutin menyelenggarakan pameran yang bersifat arsitektural, pada tahun 1980 dengan resmi pameran arsitektur ini diselenggarakan terpisah dan disebut Venice Biennale of Architecture. Arsitektur, seperti yang dikatakan oleh Gregotti dalam sebuah wawancara, adalah sebuah karya seni namun bukan seni visual. Arsitektur adalah sebuah karya seni khusus yang lahir justru dari rajutan kerumitan dan ketegangan—sebuah karya seni yang lahir dari pertanyaan-pertanyaan.

Pameran pertama Venice Biennale of Architecture dikuratori oleh Paolo Portoghesi dan diberi judul The Presence of The Past. Untuk pertama kalinya juga, Venice Biennale menggunakan Arsenale, bangunan bekas gudang senjata, sebagai tempat pameran. Dalam pameran pertama ini, instalasi Strada Novissima menjadi wacana pameran arsitektur yang kuat dan kental. Portoghesi mengundang para arsitek untuk merancang sebuah façade dalam skala 1:1 dan meletakkannya di dalam Corderie dell’Arsenale. Para pengunjung diajak untuk masuk dan mengalami ruang arsitektur—sebuah jalan yang diiringi oleh desain-desain façade dari berbagai arsitek terkenal.

Arsenale, bekas gudang senjata, yang digunakan untuk area pameran Venice Biennale.

Paolo Portoghesi, Aldo Rossi, dan Francesco Dal Co bergantian menguratori pameran Venice Biennale of Architecture sampai tahun 1991. Pameran kelima yang dikuratori oleh Francesco Dal Co adalah sebuah titik penting dalam sejarah pameran arsitektur ini. Ide untuk menghadirkan paviliun negara-negara lain mulai dikembangkan. Sejak saat itu, pameran arsitektur dua-tahunan di Venezia ini mulai mendapat bentuknya. Oleh karena itu, ada juga yang menyebut Biennale tahun 1991 sebagai Venice Biennale of Architecture yang pertama.

Sampai dengan tahun 2012 lalu, sudah ada 8 arsitek yang ditunjuk sebagai kurator utama dari pameran ini. Tiap kurator selalu mengusung pertanyaan dan wacana baru. Seperti yang dikatakan oleh F. Dal Co, tiap kurator dari Venice Biennale of Architecture selalu berusaha membawa pertanyaan-pertanyaan yang relevan pada masanya. Tahun 1996, Hans Hollein menguratori pameran ini dengan judul Sensing the Future yang dilanjutkan oleh Massimiliano Fuksas dua tahun kemudian dengan judul Less aesthetic, more Ethics. Setelah Deyan Sudjic, Kurt W. Foster, dan Richard Burdett menjadi kurator secara berturutan dari tahun 2002, 2004 dan 2006, pada tahun 2008 Aaron Betsky ditunjuk untuk menguratori Biennale yang ke-11. Judul pamerannya adalah Out there: Architecture beyond building. Dalam pameran ini Betsky hendak mengajak untuk melihat arsitektur sebagai bagian dari jaringan kehidupan manusia yang lebih luas. Warna yang, terlepas dari kesengajaan, terasa terhubung dengan tema dua biennale berikutnya: People Meet Architecture, yang dikuratori oleh Kazuyo Sejima di tahun 2010 dan Common Ground, yang dikuratori oleh David Chipperfield di tahun 2012. 

Jika kita merunut perkembangan Venice Biennale of Architecture dari pertama kali dirintis tahun 1975 sampai Biennale ke-13 tahun 2012, terasa warna dan karakter ajang pameran ini dari pameran arsitektur lainnya. Ajang pameran arsitektur dua tahunan di Venezia ini selalu memosisikan arsitektur bukan sebagai entitas yang berdiri tunggal. Arsitektur adalah milik khalayak yang lebih luas bukan hanya arsitek saja. Paolo Baratta, presiden dari Venice Biennale (1998-2000, 2007-sekarang) menggambarkan ajang ini sebagai sebuah teater arsitektur; pengunjung harus “mengalami” arsitektur bukan dalam artian meruang secara fisik, melainkan dengan kesadaran, pengetahuan dan juga kekritisan. Ada interaksi dan dialog antara khalayak, arsitek, dan arsitekturnya.

Spanduk pameran Vennice Biennale di jembatan Rialto.


[1] Pavilion berasal dari Bahasa Perancis “pavillon” atau Bahasa Latin “papilio” dan dapat dipahami sebagai dua hal. Pemahaman pertama adalah sebagai sebuah obyek yang berdiri sendiri secara struktur (free-standing structure) yang terletak tidak jauh dari bangunan hunian utamanya. Pemahaman lain adalah sebagai satu bagian yang berfungsi sebagai pengakhiran dalam sebuah massa utama komplek bangunan biasanya pada arsitektur klasik. Saat ini kata ‘pavilion’ dalam ranah arsitektur lebih dipahami sebagai sebuah obyek yang berdiri sendiri, bersifat sementara dan mempunyai ekspresi tertentu.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu