Author
Narasumber dan para tamu (Sumber: Beritajakarta)

Selasa (4/9/2018) di Hotel Aryaduta, Tugu Tani, Jakarta Pusat diadakan seminar berjudul “Transforming Lives and Human Cities: Who Build Cities?”. Acara yang diselenggarakan ini adalah gagasan dari kerjasama empat institusi di Indonesia yaitu School of Design Universitas Pelita Harapan, Sekolah Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Program Magister Institut Teknologi Bandung, Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, dan Urban and Regional Development Institute (URDi). Seminar "Transforming Lives" sebelumnya diadakan pada tahun 2016 dan dua seminar berikutnya diadakan pada tahun 2017. Seri seminar berfokus pada satu pertanyaan penting: Bagaimana pembangunan perkotaan dapat mengubah kehidupan orang menjadi lebih baik? Seminar pertama bertema "Manusia dan Kota" membahas mengenai hubungan intim antara ruang publik perkotaan dan penduduk perkotaan yang seharusnya terjadi. Pembahasan ini menyangkut cara-cara untuk meningkatkan kelayakan hidup kota dengan membangun pembangunan yang berorientasi transit dan berkelanjutan yang bisa diwujudkan dengan pembangunan jalan yang lebih baik dan lebih mudah dijelajahi. 

Seminar ini diadakan dalam dua sesi dengan topik yang berbeda. Sesi pertama diisi oleh Mochtar Riady selaku Chairman dari Lippo Group dan Gubernur DKI Jakarta yaitu Anies Baswedan dengan topik “Policy and its impact on Transforming Cities”. Dilanjutkan dengan sesi kedua yang diisi oleh Wicaksono Sarosa selaku Director and Chief Knowledge Worker Ruang Waktu-Knowledge Hub for Sustainable Urban Development dan Bernardus Djonoputro selaku Country Head of Infrastructure of Capital Projects Deloitte dengan topik “Identifying Key Factors in Transforming Cities”.

 

Jakarta dengan Program Penataan Sosial, Ekonomi untuk Urban

Sesi pertama dimulai oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan mengambil topik pembicaraan yang berkaitan dengan program kerja DKI Jakarta. Program DKI Jakarta ini dimulai dengan membahas tren pertumbuhan urban. Dimulai dengan penjelasan tentang kota yang memakan 2% lahan di bumi namun menyerap 75% sumber daya alam di bumi ini. Angka tersebut bisa menjadi indikator untuk seorang planner atau praktisi untuk  bisa mengelola bumi dengan sumber daya alam lebih serius lagi. Kemudian beliau membicarakan empat faktor utama yang memiliki pengaruh besar untuk pertumbuhan urban yaitu Demografi dari kota tersebut, harus lebih paham lagi dengan kondisi kota dan sekitarnya. Kemudian perubahan iklim, untuk mengantisipasi ketahanan kota terhadap iklim yang tidak menentu. Geopolitik yang mencakup praktik analisis, prasyarat, dan pemakaian kekuatan politik terhadap suatu wilayah dan harus lebih menguntungkan. Dan yang paling utama dari faktor Teknologi yang menjadi tantangan terbesar dalam pertumbuhan Urban. Teknologi akan terus berkembang seiring berjalannya waktu, dan penataan urban akan terus diuji untuk tetap terus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi tersebut dengan menyesuaikan penggunaan teknologi dengan kebutuhan pada masa itu.

Beliau mengatakan, sebagai seorang pemimpin kita harus mempunyai pemikiran sistematis yang bisa menciptakan sebuah solusi yang terinstitusi agar solusi tersebut bertahan untuk periode-periode selanjutnya. Beliau memastikan, seiring berjalannya waktu dan periode yang silih berganti, permasalahan akan muncul dengan konten masalah yang berbeda-beda. Itulah kenapa sebagai pemimpin, harus tetap bekerja secara benar, dan mempersilahkan waktu untuk menentukan hasilnya. Pemimpin terutama dalam pemerintahan juga harus aktif berkolaborasi dengan masyarakatnya tuturnya. Terkait hal tersebut, beliau beranggapan dengan adanya kolaborasi tersebut, pertumbuhan kota tidak akan menimbulkan polemik-polemik didalamnya. Minimnya polemik tersebut, bisa menjadi parameter terhadap kesuksesan kota dalam berkembang.

Anies Baswedan

Anies Baswedan dalam acara seminar “Transforming Lives and Human Cities”  (Gambar oleh: Jennifer G.)

Berbeda dengan sesi selanjutnya yang diisi oleh Mochtar Riady selaku Chief Director of Lippo Group, beliau menekankan bahwa membangun kota jangan disamakan dengan kita membangun rumah. Membangun kota itu mesti melihat aspek ekonomi yang merata, dari desa hingga ke kota. Pemerataan ekonomi ini menjadi kunci untuk pembangunan yang terjamin dengan baik. Pria berusia 90 tahun ini bercerita pengalamannya selama bekerja di World Bank. Pengalamannya tersebut menuturkan, ekonomi menjadi indikator paling penting dalam pembangunan kota, karena semua sumber modal pembangunan berasal dari ekonomi kota yang baik. Tanpa adanya ekonomi yang baik, kota akan kekurangan modal dalam proses pertumbuhan kota tersebut.

Mental atau moral masyarakat juga sama pentingnya terkait pertumbuhan kota tersebut. Mengelola mental masyarakat untuk lebih realistis terhadap permasalahan kota dan pencarian solusi akan memberikan sumbangsih terbesar dalam pertumbuhan kota, karena mental manusia yang baik bisa membawa pertumbuhan yang optimal dan menyelaraskan dengan kondisi global dari waktu ke waktu.

Mochtar Riady

Mochtar Riady dalam acara seminar “Transforming Lives and Human Cities” (Gambar oleh: Jennifer G.)

 

Strategi untuk mencapai predikat “Liveable Cities”

Ir. Bernardus Djonoputro selaku Country Head of Infrastructure & Capital Projects Deloitte sebagai pembicara ketiga pada sesi kedua ini mengangkat topik tentang bagaimana mendesain kota sekitar yang nyaman dari segi infrastruktur yang mutakhir dan tertata. Lulusan Planologi ITB tahun 1983 ini mengatakan penataan ruang khususnya di ibukota ini masih perlu diperhatikan secara mendalam terutama pada bagian utilitas dan teknologinya. Jakarta menurut beliau sedang berada pada fase “Kota Instan”. Penyebutan yang dimaksud tersebut adalah Jakarta dengan kemudahannya terutama dari segi teknologi. Terkait hal tersebut, Jakarta bisa mendapatkan predikat “smart city” apabila bisa memilih teknologi yang tepat untuk kenyamanan dan kemudahan masyarakat yang menggunakannya. Teknologi seperti aplikasi transportasi untuk lebih efisien dan dipermudah pengoperasiannya. Tidak hanya itu, jangka waktu teknologi tersebut juga patut diperhatikan. Beliau juga menuturkan lima kunci yang harus dicapai agar Jakarta bisa disebut sebagai “Liveable City” diantaranya Density Development, Transit Oriented, Mixed Land Use, Walkable, dan Green.

RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) menurutnya juga bisa menjadi kunci permasalahan. Penataan ruang yang amburadul dan tidak menyesuaikan dengan kemampuan masyarakat akan menjauhkan kota dari predikat “Liveable City”. Lima poin utama menurut beliau dalam pengelolaan RTRW yang baik yaitu Visi Long term harus jelas agar tetap terarah dan tidak terlalu ekspresif hanya pada sektor-sektor makro. Penduduk harus ikut andil dalam pengelolaan, agar tak menciptakan banyak polemik. Kapasitas Ekologi harus diperhatikan agar tidak melebihi batas kemampuan ekologi dalam menerima hasil kelola tersebut. Dokumen Tata Ruang harus jelas dan tertulis. Dan yang terakhir adalah Strong Governor selaku salah satu aktor dalam pengelolaan RTRW yang harus berkolaborasi dengan masyarakatnya. Dengan memperhatikan strategi tersebut, kota akan menciptakan keadilan, kesetaraan dan kelayakan untuk masyarakatnya, maupun infrastrukturnya.

Sama halnya dengan pembahasan Bernardus, Ir. Wicaksono Sarosa, Ph.D selaku Director & Chief Knowledge Worker Ruang Waktu – Knowledge Hub for Sustainable Urban Development juga menuturkan hal yang serupa terkait “Liveable City”. Beliau lebih menuturkan dari segi aktor dan faktor dalam transformasi kota ini. Kota sebagai pusat pengembang/sentra utama dianggap sebagai cerminan dari peradaban dan masyarakatnya. Keadaan kota yang sekarang, adalah hasil dari kebiasaan, perilaku dan citra masyarakat di dalam kota tersebut. Pemerintah, Developers, Komunitas bahkan para tokoh professional turut andil menjadi faktor sebagai aktor dari pembangunan kota tersebut. Aktor-aktor ini menjadi pengaruh terbesar sebagai penentu arah pembangunan kota tersebut.

Bernardus Djonoputro dan Moderator

Bernardus Djonoputro dan Moderator dalam acara seminar “Transforming Lives and Human Cities”  (Gambar oleh: Jennifer G.)

Pemerintah menurutnya terbagi menjadi dua, ada politisi sebagai pembuat dan pengubah peraturan, serta birokrat yang menjalankan peraturan. Pembagian ini bertujuan untuk memahami aktor dibalik peraturan yang berpengaruh kepada Developers. Developers sebagai salah satu aktor yang mempunyai dampak dalam peraturan untuk pembangunan kota dan berdampak pada sebuah model urban developments.  Urban developments bisa dikatakan menjadi dasar peraturan mutlak dari sektor pemerintahan dalam mencapai pembangunan kota yang terarah. Kemudian, komunitas sebagai pelaksana kehidupan akan menyesuaikan diri dengan Urban Developments tersebut. Bapak Wicaksono mengambil contoh dari negara Belanda. Pada era sebelum kemerdekaan, Belanda dianggap mempunyai tata kota yang oriented, dilihat dari segi transportasi dan sirkulasi. Semua berubah ketika terjadi demonstrasi besar yang dilakukan warganya sehingga muncul budaya baru yaitu budaya bersepeda. Dari situ, bisa terlihat bagaimana Urban Developments yang tidak sesuai dengan warganya akan berdampak pada perubahan Urban Developments. Kebutuhan komunitas itulah yang kemudian dikembangkan dan diperbaiki oleh para tokoh professional. Mereka akan mencetuskan ide dan inovasi baru untuk memaksimalkan kebutuhan komunitas.

Wicaksono Sarosa

Wicaksono Sarosa dalam acara seminar “Transforming Lives and Human Cities” (Gambar oleh: Jennifer G.)

 

Interaksi antar aktor dengan faktor dalam pembangunan kota

Prof. Gunawan Tjahjono dipilih untuk menutup sekaligus memberikan konklusi dari topik-topik yang dibahas oleh para pembicara. Beliau menuturkan, bahwa pertumbuhan kota memang akan selalu melibatkan banyak aktor dan memperhatikan faktor-faktor dalam prosesnya. Kolaborasi antar aktor seperti pemerintahan, masyarakat dan para ahli walau memiliki peran masing-masing diharapkan untuk terus berjalan seiring pertumbuhan kota yang dinamis. Para aktor tersebut juga diharapkan untuk melibatkan aspek-aspek seperti ekonomi, sosial, dan politik khususnya sebagai pendorong keberhasilan pertumbuhan kota tersebut. Pertumbuhan kota akan mengarah menyesuaikan dengan hasil kolaborasi aktor dan pertimbangan aspek.

Selain itu, beliau juga mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap kinerjanya, untuk lebih produktif, aktif dan tidak mudah di persuasi. Oleh karena itu, masyarakat yang terbilang sebagai aktor utama dengan sumbangsih besar harus ikut andil untuk membantu pertumbuhan kota, dimulai dari mental yang baik dan peka terhadap kondisi terkini kota.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu