Tropicality : Revisited

Pameran arsitektur dalam rangka Indonesia menjadi tamu kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015

Author

Pada tanggal 28 Agustus 2015, pameran arsitektur Tropicality:Revisited yang berlangsung di DAM (deutschesarchitektur museum), Frankfurt, Jerman akan dibuka oleh Fauzi Bowo (duta besar Indonesia di Jerman). Pameran yang akan berlangsung sampai  27 Januari 2016 ini merupakan bagian dari rangkaian acara Frankfurt Book Fair 2015 dimana Indonesia menjadi Guest of Honour dengan mengusung tema 17.000 Island of Imagination. Dikuratori oleh Avianti Armand, Setiadi Sopandi dan Peter Cachola Schmal dengan asisten kurator Robin Hartanto dan Andreas Yanuar, pameran ini menghadirkan dua bagian. Bagian pertama yang dinamakan Tropicality menghadirkan timeline yang mengulik isu tropikalitas sejak abad 17 sampai saat ini. Bagian kedua yang diberi nama Tropicality:Revisited menghadirkan 12 karya arsitek Indonesia. Karya-karya tersebut merupakan studi kasus tentang bagaimana arsitek Indonesia menghadapi keadaan tropis di Indonesia.

Pada bagian pertama, timeline tropicality dibagi menjadi 7 kategori yaitu: The Tropics, Climate Hygiene and Building, Climatology, Dutch East Indies Architectural Discourse, The History of Tropical Architecture, Towards An Indonesian Architecture dan The Reinvention of Tropical Discourse. Sekilas, dari judul tujuh kategori tersebut, pembagian ini memberikan impresi bahwa isu tropikalitas di Indonesia tidak hanya berbicara tentang hunian tapi juga isu kesehatan, lingkungan, tata kota dan isu-isu lain yang terekam dalam sejarah. Timeline ini juga menggambarkan bahwa isu tropikalitas Indonesia tak bisa lepas dari pengaruh asing dan perkembangan isu serta teknologi di dunia.

Bagian kedua memuat karya-karya 12 arsitek yang  merupakan seleksi dari berbagai macam karya yang diajukan. Pada November 2014, melalui blog tropicalityrevisited.wordpress.com, kurator mengundang siapapun yang dapat memenuhi kriteria pameran. Melalui undangan terbuka tersebut, pada Januari 2015 ada 86 karya arsitektur dari 43 arsitek Indonesia sebagai kandidat. Proses itu berujung pada pemilihan karya 12 arsitek dan 12 karya yang diumumkan pada bulan Mei 2015 di blog yang sama.

 

Rumah Andra Matin - andramatin

Karya 12 arsitek tersebut digunakan sebagai studi kasus tentang bagaimana perlakuan mereka pada karyanya dalam menanggapi kondisi tropis di Indonesia. Karya-karya tersebut antara lain Rumah Baca (Achmad Tardiyana), Studi-O-Cahaya (mamostudio), Rumah Wisnu (djuhara+djuhara), Rumah Andra Matin (andramatin), Kineforum Misbar (Csutoras & Liando), Tamarind House (d-associates), Almarik Restaurant (EFF Studio), Rumah Eko Prawoto (Eko Prawoto Architecture Workshop), Rumah Kayu Ciledug (Kristoporus Primeloka & Akanoma), House #1 at Labo. The m o r I (LABO.), IZE (Studio TonTon) dan Masjid Baiturrahman (Urbane). Keduabelas karya tersebut ditampilkan kembali dalam bentuk foto oleh Paul Kadarisman (kecuali karya Kineforum Misbar).

 

Studio-o Cahaya - Mamostudio

Pada 28 Agustus 2015, delapan arsitek Indonesia akan hadir di Frankfurt untuk mepresentasikan karya mereka. Sebelum dibuka oleh Fauzi Bowo, akan ada presentasi singkat oleh Carolina Romahn (Head of the Cultural Department, Frankfurt am Main), Peter Cachola Schmal (kurator dan direktur DAM), dan Avianti Armand (kurator).

Pembukaan pameran Tropicality:Revisited ini dilakukan bersamaan dengan hari pertama museumsuferfest frankfurt (museum embankment festival) yang setiap tahun didatangi sekitar 3 juta orang. Festival yang akan berlangsung selama 3 hari ini (28-30 Agustus 2015) menjadi kesempatan baik agar internasional untuk memperlihatkan wacana tropikalitas dan 12 karya arsitek Indonesia sebagai tanggapannya.

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu