Tujuh Ide untuk Kota Tua

Gagasan-gagasan revitalisasi Kota Tua Jakarta pada pameran Jakarta Old Town Reborn.

Author
Pameran Jakarta Old Town Reborn di Tjipta Niaga, Kota Tua. (foto: Paskalis Khrisno)

Pameran Jakarta Old Town Reborn yang sudah berlangsung 21-22 Juni 2014 di Tjipta Niaga, Kota Tua, dan 13 Juli-15 Agustus 2014 di Erasmus Huis, Kuningan, menampilkan berbagai gagasan dalam merevitalisasi Kota Tua Jakarta. Pameran yang dikuratori oleh Yori Antar ini merupakan lanjutan dari seminar dan lokakarya pada tanggal 9-14 Desember 2013, yang mempertemukan arsitek, pemerintah, dan para pemangku kepentingan untuk mendiskusikan upaya revitalisasi Kota Tua Jakarta.

3 konsultan arsitektur dari Indonesia (Han Awal & Partners + SHAU, andramatin, Djuhara + Djuhara) dan 4 konsultan arsitektur dari Belanda (OMA, MVRDV, KCAP, Niek Roozen Landscape Architects + Wageningen University) menyajikan tujuh karya intervensi pada enam bangunan dan satu ruang luar untuk menciptakan ruang-ruang aktivitas baru pada Kota Tua. Ide archipunctural urban renewal strategy melandasi ketujuh karya. Dengan orientasi desain berskala kecil dan lokasi yang tersebar, berbagai program ruang yang berbeda "disuntikkan" ke ruang-ruang yang sudah ada. Berikut karya-karya mereka.

 

andramatin - Kantor Pos Kota Tua

Karya revitalisasi arsitektur yang digagas biro arsitektur andramatin mengambil lokasi di Kantor Pos Kota Tua. Bangunan ini merupakan cagar budaya golongan A, sehingga upaya pembaruan bangunan ini punya batas yang ketat. Sejak 1972 sampai tahun lalu, implementasi preservasi hanya sebatas renovasi fisik semata, tidak menghasilkan fungsi baru ataupun tampak baru pada bangunan yang lama.

Andra Matin, bersama Lina Madiyana, Martinus Anton, dan Talisa Dwiyani, berupaya menghadirkan pengalaman urban yang menyenangkan di Kantor Pos Kota Tua, dengan tetap mempertahankan nilai historisnya. Batas ketat intervensi direspons tidak dengan mengurangi apa yang sudah ada, melainkan dengan menambahkan struktur di dalamnya. Keberadaan struktur tambahan itu menghadirkan jukstaposisi antara yang baru dan yang lama, dan menghasilkan pengalaman ruang di antara.

Selain memberikan nuansa ruang yang baru, program baru yang selaras dengan peran awal Kantor Pos Kota Tua sebagai wadah penghubung masyarakat dihadirkan. Salah satunya melalui Visitor Center, fungsi baru yang menjadi bagian terdepan bagi bangunan Kantor Pos sekaligus area Kota Tua itu sendiri, dan galeri seni kontemporer, yang dihadirkan di lantai kedua untuk menyeimbangi museum-museum yang sudah banyak ada di Kota Tua.

 

 

Djuhara + Djuhara - Gedung Sadeli

Djuhara + Djuhara menggagas revitalisasi Gedung Sadeli, bangunan yang awalnya adalah kantor. Ahmad Djuhara, bersama Wendy Djuhara, Zumar Muzzamil, Rinaldy Santoso, Edward Gautama, Al­ando S Krishna, Yuanita, dan Evelyn Gasman, mengintervensi bangunan eksisting dari Gedung Sadeli untuk mewadahi fungsi perdagangan, sosial, budaya, dan pendidikan. Bangunan baru berupa empat lantai bawah tanah kemudian ditambahkan di belakang bangunan lama untuk mewadahi fungsi hunian, dengan ruang kolektif terbuka di bagian tengah dan ramp yang menghubungkan satu sisi dengan sisi lainnya.

Gedung Sadeli dibayangkan menjadi suatu wadah yang menampung banyak fungsi di dalamnya, sekaligus berinteraksi dengan aktivitas di luar, yaitu kawasan kanal Kali Besar lengkap dengan sungai, boulevard, dan arkadenya. Desain arsitektur Gedung Sadeli ini diharapkan dapat mengembalikan intensitas kehidupan di Kota Tua seperti dulu kala sebagai kawasan yang tidak hanya didatangi, tetapi juga ditinggali.

 

OMA - Tjipta Niaga

OMA mengangkat gagasan Ruang Ragam, ruang dengan ragam aktivitas yang bisa dilakukan secara kolektif, seperti ruang tinggal, institusi, dan aktivitas bisnis. Ruang-ruang interior dalam gedung Tjipta Niaga dibagi menjadi unit kecil-kecil sehingga harga sewanya lebih terjangkau masyarakat dan laba investasi cepat kembali. Intervensi arsitektur yang independen dan temporer seperti partisi digunakan untuk mengurangi biaya restorasi dibandingkan dengan perbaikan bangunan secara keseluruhan.

Intervensi direncanakan dalam tiga tahap. Tahapan pertama adalah menyuntikkan fungsi-fungsi utama seperti institusi, area komersial, dan ruang publik yang berukuran besar. Kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua, penambahan fungsi-fungsi kecil yang memenuhi area depan dan samping bangunan. Tahap terakhir, kemudian mengintegrasikan seluruh fungsi heterogen yang memenuhi bangunan Tjipta Niaga ini.

Intervensi yang dilakukan oleh David Gianotten, Diana Ang, Erick Kristanto, Michael Kokora, Patriot Negri, Jenny Ni Zhan, Rizki Supratman, dan Shinji Takagi ini tidak mengubah tampilan fisik bersejarah dari bangunan ini. Elemen-elemen baru dibuat menyatu dan kontras dengan yang lama, seperti atap baru dan struktur penguat tahan gempa, untuk melindungi bangunan warisan. 

 

 

Han Awal & Partners- Rumah Akar

Han Awal & Partners mengajukan gagasan rebranding untuk Rumah Akar yang berlokasi sekitar 200 meter dari Taman Fatahillah. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, bangunan ini digunakan sebagai kantor perniagaan VOC dan sempat beralih fungsi menjadi sebuah gereja, sebelum akhirnya terbakar dan dibiarkan begitu saja. Seiring berjalannya waktu, bangunan menjadi tidak terawat dan ditumbuhi pohon dan akar di seluruh bagian bangunannya.

Gagasan Kota Bawah ini memanfaatkan keunikan akar yang tumbuh pada bangunan eksisting, serta lokasi bangunan yang strategis. Perwujudannya ada pada penambahan fasilitas untuk mendukung kegiatan dan pariwisata Kota Tua, antara lain Artspace yang dikhususkan untuk menampung segala kegiatan yang berhubungan dengan Kota Tua dan sejarah kota Jakarta, serta hostel, gift shop, dan cafe sebagai fasilitas penunjang.

Konsep Past and Present Architecture merekam jejak waktu dan memberi napas baru pada bangunan. Akar-akar yang telah tumbuh menembus dinding bangunan eksisting akan dipertahankan, diperkuat dengan struktur baja baru di dalamnya, dan dilapis dengan dinding kaca sebagai secondary skin. Struktur ini akan membantu dinding eksisting di lantai 1 dan 2, serta menopang lantai 3-6 yang akan ditambahkan di atasnya. Sedangkan sisi luarnya akan menggunakan secondary skin dari material kayu, sama seperti bagian dengan bangunan eksisting.

 

 

 MVRDV - Kerta Niaga

Biro arsitektur MVRDV mengambil judul Smart Nature untuk gagasan revitalisasi bangunan Kerta Niaga. Strategi revitalisasi mereka adalah menggunakan area Kota Tua untuk perlahan-lahan membawa alam kembali ke keseharian Kota Jakarta. MVRDV juga memasukkan program baru untuk Kerta Niaga, menjadikannya ruang dengan peran baru untuk publik, menaikkan kesadaran dan penyegaran untuk area bangunan peninggalan ini.

Perubahan yang dilakukan MVRDV adalah dengan membuat bukaan pada jendela dan void, sehingga cahaya matahari bisa masuk menembus massa bangunan dan bergeraknya aliran udara di dalam bangunan. Volume bangunan menjadi terbuka ke atas dan ruang-ruang saling berhubungan. Beberapa bagian atap diganti dengan kaca, sehingga ruangan dalam menjadi lebih terang. Koleksi tanaman yang beragam ditambahkan ke dalam ruang sehingga atmosfernya menjadi lebih segar dan nyaman. Setelah itu ruang tersebut dapat digunakan untuk aktivitas publik seperti restoran, cafe, dan toko-toko seni. 

 

 

Niek Roozen Landscape Architects + Wageningen University - Green City

Niek Roozen Landscape Architects + Wageningen University juga mengusung ruang hijau. Niek Roozen, bersama Michelle de Roo, Henk van Reuler, dan Marco Hoffman, menyadari bahwa taman dan plaza yang tersebar di kawasan Kota Tua dapat mengurangi kondisi temperatur yang ekstrim, sekaligus menyediakan area publik untuk menikmati suasana di siang dan malam hari. Tempat-tempat tersebut harus diberi penghijauan tanaman lokal yang sudah beradaptasi dengan iklim dan lingkungan kota, sehingga lebih nyaman untuk berteduh. Ada empat faktor keberhasilan ruang rekreasi kota, yaitu ketersediaan, fungsi, aksesibilitas, dan penggunaan. Semuanya harus tercapai untuk mengakomodasi kebutuhan rekreasi masyarakat.

Selain memperindah, tanaman tersebut juga dapat meningkatkan nilai ekonomis perumahan, menghemat penggunaan energi dalam bangunan, menyediakan area bersantai, sosialisasi, wisata, dan rekreasi dalam lingkungan hunian atau kantor. Elemen-elemen dan penataan lanskap ini akan menyatukan dan menjembatani seluruh intervensi desain yang berbeda-beda pada revitalisasi Kota Tua.

 

 

KCAP - Gedung Samudera 

Kees Christiaanse Architect & Planners (KCAP) memilih Gedung Samudera, yang dibangun pada tahun 1910-1920. Pada tahun 2008, setengah sisi sebelah kanan dari fasad bangunan runtuh. Sejak saat itu, gedung dikosongkan dari kegiatan perkantoran PT. Samudera.

KCAP merespons dengan pertama-tama mengembalikan fasad yang asli dengan sebuah instalasi, sebelum restorasi lebih lanjut dilakukan oleh PT.Samudera, yang hendak menjadikannya kafe atau galeri publik. Instalasi ini berupa repetisi struktur bambu yang menyerupai fasad bangunan aslinya. Bambu dipilih sebagai bahan yang murah dan kuat, yang juga lazim digunakan sebagai struktur bangunan di Indonesia.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu