Finalis Volume Ideas – The Public Project

Berbagi ide segar dalam merancang fasilitas publik untuk kota.

Author

Volume Factory telah mengumumkan tiga karya terbaik dari Volume Ideas–The Public Project. Presentasi akhir para finalis akan diadakan Sabtu, 29 Maret 2014, pukul 15:00, di Waga Gallery, Kemang.

Volume Ideas merupakan wadah bagi mahasiswa dan fresh graduate untuk berbagi ide lewat karya, baik itu karya baru maupun karya studio atau sayembara yang pernah dikerjakan sebelumnya. Lewat topik Volume Ideas kali ini, Volume Factory mencoba mengumpulkan berbagai ide dalam merancang fasilitas publik untuk kota. Ketiga proposal para finalis menunjukkan pengamatan tajam pada konteks dan pengolahan definisi ruang yang segar, disertai beragam macam strategi dalam memanfaatkan celah pada kondisi eksisting.

Berikut cuplikan karya-karya mereka, lengkap dengan komentar para juri yaitu Rizki M. Supratman (OMA-HK), Muhammad Sagitha (SUB), dan Wiyoga Nurdiansyah (SUB).

Ruang sosialisasi untuk penderita Skizofrenia - Silvia Adityavarna

Silvia melakukan pengamatan pada persepsi-persepsi yang muncul ketika kita berinteraksi,baik pada masyarakat umum maupun pada penderita skizofrenia yang menjadi fokus bahasan karyanya. Dari pengamatan tersebut, ia merumuskan pola-pola sosialisasi—bagaimana orang menempatkan diri pada ruang publik dan berinteraksi—lalu menerjemahkannya ke dalam bentuk-bentuk ruang arsitektural.

Program utama dari desainnya adalah galeri taman terbuka dengan ruang-ruang yang cenderung privat dan area sosialisasi terbuka yang memungkinkan interaksi bebas. Ia menghadirkan kedua program utama tersebut sebagai sebuah sekuens: dimulai dari ruang-ruang tanpa interaksi langsung, bertransisi menuju ruang-ruang dengan interaksi langsung.

Kata juri:

Landasan desain argumentatif; memungkinkan terjadi interaksi antar kaum marjinal dengan warga kota lainnya; mudah diaplikasikan dan terjangkau.— Rizki M. Supratman

Inovasinya mencoba menjelajahi pemikiran masyarakat, bentuk bentuk persepsi sosialisasi, keterkucilan, keterbelakangan dengan sebuah eksistensi bangunan di ruang kota; mudah diaplikasikan karena modul geometri sederhana.— Muhammad Sagitha

Solutif dan menawarkan ide-ide baru akan fungsi publik untuk pengidap skizofrenia.— Wiyoga Nurdiansyah

 

Junk Street Market- Edwin Adinata

Mengambil tapak di Jalan Djuanda 1, Kecamatan Sawah Besar, Edwin mengamati maraknya kegiatan pemilahan sampah yang berlangsung di sepanjang jalan, yang mengganggu sirkulasi maupun aktivitas lingkungan setempat. Ia lalu berpikir untuk mengubah ruang-ruang sisa menjadi ruang yang, selain bisa mewadahi proses pemilahan sampah, juga berguna sebagai ruang publik warga bersama.

Desain Edwin berupa modul-modul independen dari material-material bekas, antara lain palet kayu dan drum bekas. Fungsinya sebagai tempat pemilahan sampah terintegrasi dengan ruang-ruang untuk tempat berjualan, workshop, dan pameran. Modul-modul tersebut ditata di sepanjang area di bawah jalur layang rel kereta.

Kata juri:

“Meringankan permasalahan kota; skala mikro, dapat mengintegrasikan daerah sekitar; mudah diaplikasikan.” — Rizki M. Supratman

“Memaksimalkan potensi lingkungan sekitar menjadi lebih baik; didesain secara modular dan mudah untuk diulang dan berkembang dengan terarah.” — Muhammad Sagitha

Isu urban yang kuat lebih memberikan solusi publik untuk orang banyak.” — Wiyoga Nurdiansyah

 

Stasiun Berita Televisi untuk Jurnalis Warga – Melanie Sugiarti

Perkembangan jurnalisme warga yang selalu bertempat di ruang maya membuat Melanie heran. “Padahal untuk membangun kredibilitas,” katanya dalam board presentasinya, “haruslah dimulai dengan keadaan ruang yang visible.”

Berangkat dari pertanyaan tersebut, Melanie mendesain sebuah ruang nyata bagi jurnalisme warga di Jalan Joglo Raya, Jakarta, menyatu dengan lahan privat milik stasiun televisi. Ide tersebut memberikan peluang bagi bentuk ruang publik baru, di mana warga bisa bertukar informasi dan bertransaksi dengan pihak swasta pemilik stasiun televisi.

Kata juri:

“Sensitivitas terhadap perkembangan interaksi sosial dalam mengakses dan menyiarkan informasi; Strategi aktivasi ruang publik bukan dengan cara membangun fasilitas publik di ruang publik kota, tetapi memasukan fungsi publik ke dalam fasilitas privat.” — Rizki M. Supratman

“Inovasinya bagus karena berfikir bangunan privat bisa memberikan fasilitas publik baik secara harafiah arsitektur maupun secara tidak nyata.” Muhammad Sagitha

Ide yang original, ide baru untuk menyatukan 2 fungsi yang sulit untuk digabungkan. Setiap ruang bisa dijadikan ruang-ruang publik.” — Wiyoga Nurdiansyah

 ____________

Volume Factory adalah suatu tim yang yang terdiri dari desainer, dosen dan mahasiswa yang fokus pada berbagai macam area seperti arsitektur, perkotaan, seni, desain, teknologi, pendidikan dan sistim keberlanjutan. Volume Factory menekankan isu-isu kontemporer kehidupan urban melalui desain, open studios, workshop penelitian, pameran dan publikasi. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi ide-ide baru, bereksperimen, menciptakan solusi untuk kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan di masa yang akan datang.

 

 

Update terbaru :

Saat ini pemenang sayembara Volume Ideas telah diumumkan, yaitu Edwin (Junk Street Market) sebagai juara pertamanya. Diikuti oleh Silvia (Socialization Space for Schizophrenics) dan Melanie (Television News) sebagai juara kedua dan ketiga. Selamat kepada para pemenang!



comments powered by Disqus
 

Login dahulu