Wanita yang Melahirkan Desain Arsitektur

Para wanita yang melahirkan karya di dunia arsitektur karena kepercayaan dirinya.

Author

“Pada kenyataanya, saya tidak pernah merasakan adanya diskriminasi. Semua itu hanya terdapat dalam pikiran dan perasaan saya, bahwa dengan adanya perbedaan gender, saya akan didiskriminasi dan tidak didukung.” ujar Gonca Pasolar,  co-founder dari biro arsitektur Emre Arolat Architects-Istanbul, Turki, dalam seminar mengenai Women in Architecture.

Pepatah lama yang mengatakan bahwa kamu adalah apa yang kamu pikirkan, dapat membentuk rasa percaya diri pada seseorang. Namun  bagaimana kepercayaan diri dalam seorang wanita dapat mendukung karirnya dalam dunia arsitektur?

Isu mengenai ketidaksetaraan gender memang bukan isu hangat karena saat ini sudah banyak wanita yang berkiprah pada profesinya masing-masing. Namun tetap saja, apa yang dihadapi kaum wanita selalu berbeda dengan para pria. Wanita mungkin kerap kali diposisikan sebagai pribadi yang lemah lembut, yang kurang memiliki potensi dalam bidang intelektual. Tradisi, budaya, maupun lingkungan sekitar merupakan salah satu alasan mengapa wanita sering tidak percaya diri ketika berhadapan dengan pekerjaan. Hal ini pernah dialami oleh Jane Duncan, presiden baru Royal Institute of British Architects (RIBA), yang menjadi perempuan ketiga dalam institusi tersebut untuk memimpin organisasi arsitek professional yang telah berdiri sejak 75 tahun silam.

Jane Duncan

Ayah dari Jane Duncan adalah seorang arsitek. Ketika menginjak 16 tahun, Duncan mengutarakan niatnya untuk mengikuti jejak sang ayah. Tetapi tanpa kompromi, ayahnya hanya berkata bahwa arsitek bukanlah profesi untuk perempuan.

Dalam dunia konstruksi tahun 1950-an dan 1960-an, ayah Duncan belum pernah melihat seorang wanita yang bekerja selain sebagai sekretaris. Duncan pun sadar, hal ini pasti menjadi tantangan besar baginya. Jadi, mengapa wanita harus belajar arsitektur? Singkatnya, menurut Duncan, arsitektur menuntut seseorang untuk kreatif dan intuitif. Arsitektur memiliki banyak variasi dan sangat menantang. Sementara itu, wanita hidup, bekerja dan bermain di lingkungan yang dibangun, hanya 20 persen dari mereka yang berlatih menjadi arsitek. Padahal, arsitektur memiliki persentase tertinggi perempuan di industri ini, sementara insinyur hanya enam persen. Namun, jumlahnya harus terus tumbuh mengingat lingkungan yang berkembang. Baik domestik maupun internasional, jumlah klien pun semakin beragam.

Kompas.com pernah mengadakan survey bahwa meskipun wanita sekarang mewakili 44% di kualifikasi tahap awal, mereka menghilang sebelum masuk ke tahap selanjutnya, yaitu pelatihan hingga benar-benar mencapai kualifikasi profesional.

Di Indonesia, masih terdapat berbagai pendapat usang yang berpandangan bahwa wanita tidak seharusnya sekolah tinggi-tinggi, karena kelak akan menjadi ibu rumah tangga. Hal ini menyebabkan profesi arsitek lebih melekat pada kaum pria.

Dalam teritori yang lebih luas, hal tersebut disetujui oleh Veronica dan Cynthia Erlita Wuisang, 2 wanita arsitek Indonesia yang mengukir prestasi di Adelaide, Australia. Mereka mengakui bahwa kaum perempuan masih kurang terdengar gaungnya di dunia arsitektur, tidak hanya berlaku di Indonesia, melainkan di Australia dan berbagai negara lain. Menurut Veronica, jumlah perempuan yang mempelajari arsitektur di sebuah fakultas atau jurusan bisa saja setara dengan laki-laki, namun ketika terjun ke dunia kerja biasanya arsitek laki-laki lebih mudah maju dan dikenal. Hal ini bisa saja dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa seorang arsitek seringkali harus bekerja sampai larut malam, sehingga perempuan yang sudah berkeluarga cenderung menghindarinya.

Tetapi, apakah benar bahwa terdapat diskriminasi gender dalam dunia kerja arsitektur?

Isu tersebut muncul pada sebagian rangkaian World Architecture Festival pada tahun ini (WAF 2015). Beberapa topik dan kehadiran arsitek wanita mengingatkan kembali kepada dunia bahwa beragam tokoh wanita telah muncul dan melahirkan berbagai ide maupun karya menawan yang mampu mengambil peran yang cukup besar dalam dunia arsitektur. Pada WAF 2015 Zaha Hadid menjadi salah satu contohnya. Ia adalah penerima Pritzker Prize pada tahun 2004. Ia berada di barisan paling depan 'wanita arsitektur dunia', karena sejak tahun 1979 - 2015, belum ada seorang pun wanita yang menerima penghargaan Pritzker. Zaha Hadid menampilkan karyanya dalam bidang sport di galeri WAF 2015. Terdapat pula, Manuelle Gautrand yang menjadi salah satu pembicara utamapada hari kedua WAF 2015 dengan presentasinya Cities of Tomorrow: Paris Reconsidered serta menjadi salah satu dari ke 5 juri yang menilai para pemenang di hari kedua WAF 2015. Contoh-contoh tersebut menunjukan tentang adanya sebuah kesetaraan gender yang sudah terjadi sekaligus  memperlihatkan adanya berbagai pandangan yang salah mengenai wanita, diskriminasi dan arsitektur.

Manuelle Gautrand

Berbagai pertanyaan seperti, “Apakah benar terdapat diskriminasi bahwa wanita haruslah mengurus rumah tangga dan baiknya tidak bekerja?”; “Tidakkah sulit bagi seorang wanita untuk bekerja di luar dan mengurus keluarga pada waktu yang bersamaan?” telah terjawab melalui berbagai seminar yang berlangsung pada WAF 2015. Para pembicara dalam WAF 2015, telah membagikan berbagai pengalaman dan pandangan mereka dalam menjawab pertanyaan ini.

Contohnya adalah Angelene Chan, deputy CEO biro DP Architects, dalam seminar Women in Architecture. Angele Chan berkata, “Memang bukanlah hal yang mudah. Saya adalah seorang ibu dari dua remaja. Ini adalah sebuah kerja keras, penuh perjuangan, guncangan, dan kurang tidur. Walaupun demikian, pada akhirnya semua akan baik – baik saja karena saya berusaha mengejar sesuatu yang saya perlukan.”

women in architecture

Pernyataan dari Angele Chan pada seminar di panggung utama WAF 2015 tersebut disetujui oleh Julie Eizenberg dan Gonca Pasolar. Julie Eizenberg, seorang pimpinan biro arstiketur Koning Eizenberg, menambahkan, “Semua ini merupakan bagian dari membuat dunia arsitektur yang baik. Dalam membuat arsitektur yang baik, kita dipengaruhi oleh tradisi kita, pendidikan serta lingkungan, bukan dikarenakan oleh jenis kelamin kita.”

Gender tidaklah membatasi kapabilitas dan kemampuan tiap individu dalam berjuang dan memberikan sumbangan di dalam dunia arsitektur. Namun, kemauan, kerja keras dan kreativitaslah yang akan mengangkat para generasi muda arsitek di seluruh dunia untuk mencapai panggung yang lebih tinggi lagi di kancah Internasional. Angele Chan bercerita, saat masih muda ia dan seorang pria yang menjadi patnernya, pernah mengikuti sebuah kompetisi arsitektur dengan kurang lebih 50 orang pria yang menonton presentasinya. Saat itu Angele merasa tidak mungkin memenangkan kompetisi tersebut karna ia adalah satu - satunya wanita pada ruangan tersebut. Namun, ternyata para juri maupun peserta yang hadir tidak ada yang menilai Angele berdasarkan jenis kelaminnya, tetapi benar - benar berdasarkan isi presentasi dan konsep desainnya.

“Percaya diri adalah hal yang paling penting. Bekerja keraslah dan perbanyak melihat, membaca, mendengar hal – hal mengenai arsitektur dan berfikir mengapa saya menyukai hal tersebut. Benar – benar berpikir mengenai hal tersebut, belajar memahami diri sendiri, mencari tahu mengapa saya harus melakukan hal ini dan itu membuat kita semakin menjadi kritis.”,  pesan Christine Murray selaku kepala editor majalah The Architectural Review kepada para kaum muda khususnya perempuan yang sedang belajar dan bergerak dalam bidang arsitektur. Karena menurut Christine Murray, dengan mengerti dan memahami diri sendiri dengan benar, di saat itulah kita bisa mencintai segala hal yang kita lakukan, hingga dapat menciptakan berbagai karya arsitektur yang kreatif dan menakjubkan.

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu