Yang Sayang Bila Dilewatkan di Kota Tua Creative Festival

Demi tidak merugi, ini bermacam aktivitas yang patut kau nikmati di Kota Tua Creative Festival 2014.

Author

Pada akhir abad-19, cara untuk meramaikan Taman Fatahillah adalah dengan menggantung seseorang. Masyarakat Jakarta akan datang berbondong-bondong untuk menyaksikan prosesi itu.

Lebih dari seabad setelah tradisi itu tidak dilakukan lagi, Taman Fatahillah ramai dengan alasan berbeda. Bukan tubuh yang digantung, melainkan ribuan kertas fiber transparan dengan warna-warna cerah. Kertas-kertas itu membentuk parade layang-layang seperti pergola. Bila sebelum prosesi penggantungan mati seseorang diminta mengucapkan kata-kata terakhirnya, pada kertas-kertas itu tertulis berbagai harapan warga akan Jakarta di masa depan.

Ada untungnya para pengunjung tak mengetahui sejarah kelam Kota Tua. Setidaknya mereka tak akan membayangkan tontonan yang tidak-tidak. Sebaliknya, pada dua hari ini, 21 dan 22 Juni 2014, Kota Tua Creative Festival 2014, dengan slogannya ideas for the future of our past,mengisi Kota Tua dengan acara-acara segar. Mereka menghadirkan aktivitas baru di ruang yang sama. Kekelaman Kota Tua bereinkarnasi menjadi pesta. Tak tanggung-tanggung, Ahok (Basuki Tjahja Purnama) sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta turun tangan meresmikan festival itu pada pagi harinya.

Hari pertama festival telah berlalu. Kini hanya sisa sehari lagi. Ini beberapa aktivitas yang sungguh sayang kalau kau lewatkan.

Jelajah taman-taman yang tak biasa

Rumah Akar, Kali Besar Timur (Foto: Diana Ang)

Jika sejuk adalah apa yang biasa kau dapatkan ketika berkunjung ke taman, tidak demikian ceritanya pada taman-taman di dalam dua bangunan ini. Apa yang akan menyambut adalah perasaan ganjil yang mengantar khayalanmu ke entah berantah.

Taman pertama adalah Rumah Akar di Jalan Kali Besar Timur. Biasanya kau perlu merogoh kocek hingga seratus ribu rupiah untuk bisa masuk ke dalam dan berfoto-foto di dalamnya. Tetapi tidak untuk kali ini; kau bisa masuk dan berfoto narsis gratis, hanya selama acara Kota Tua Creative Festival. Berkat ketidak terawatannya, bangunan zaman Belanda ini jadi antik. Pohon-pohon besar menumbuhi sekujur dinding tua dari bata yang lapisannya telah terkelupas. Ditambah siraman cahaya matahari dari atap yang sebagian besar sudah tak ada, mungkin inilah tempat paling surealis di Kota Tua.

Taman kedua adalah instalasi Smart Nature di gedung Kerta Niaga, juga di Jalan Kali Besar Timur. Karya instalasi ini dirancang oleh MVRDV dan dikerjakan oleh Tropica Greeneries. Dalam bangunan tua yang remang-remang, kau akan disambut oleh lansekap tanaman hias yang rimbun—sedari pintu masuk hingga ke ruang utamanya. Petualanganmu akan semakin aduhai berkat iringan musik house lengkap dengan DJ dan sound system-nya.

Kedua taman ini bisa kau datangi pukul 10.00-20.00, 21-22 Juni 2014.

Smart Nature, karya MVRDV (Foto: Konteks.org)

Menelusuri bazaar benda-benda unik

Jika kau berdiri di depan kantor pos sambil melihat panggung di depan Museum Fatahillah, ekor mata kananmu akan melihat deretan tenda putih. Setiap tenda itu ditempati oleh para penjual kerajinan tangan yang unik. Berbagai komunitas dan toko kreatif menawarkan produknya. Di tenda paling ujung, yang dekat dengan Café Batavia, ada komunitas Indonesia Sketcher. mereka menjual tumbler, kartu pos, dan poster dengan sketsa tangan tentang Jakarta. Pada tenda yang lain, Heimlo juga menjual barang-barang dengan tema Jakarta melalui produk notebook, dompet, poster dan kartu pos.

Tak hanya barang-barang unik bertema Jakarta saja yang dijual. Kiniakara, yang bermarkas di Bandung, menjual kaos, tas, dompet dengan gaya etnik. Ada juga Monstore, yang menjual produk serupa dengan sajian yang lebih kekinian. Tenda-tenda lain berisi pernak-pernik yang terbuat dari kulit, benda-benda daur ulang, rajutan, dan material-material lain.

Bazaar dibuka pukul 10.00 sampai 21.00.

Menatap harapan-harapan di instalasi Clouds of Thoughts

Instalasi Clouds of Thoughts (Foto: Diana Ang)

Bolehlah dikata ini menggantungkan harapan sebenar-benarnya.

Di Taman Fatahillah, ribuan fiber film warna-warni transparan berbentuk persegi digantung tinggi. Isinya: harapan-harapan warga Jakarta untuk ibukota tercinta. Misalnya harapan Anky Prasetya, seorang editor film: “Semoga anak-anak di Jakarta bisa melihat bintang di malam hari tanpa harus pergi ke planetarium.” Ada juga harapan Priyanka Tobing, seorang konsultan hukum, yang mendoakan agar “Jakartaku harus jadi sumber sukacita, bukan penimbun luka.” Ahok tak ketinggalan menggantungkan harapannya: “Kota Tua bisa menjadi permatanya kota Jakarta.”

Instalasi karya SHAU dan Diana Ang ini akan ada pada tempatnya selama 21-29 Juni 2014.

Salah satu harapan yang tergantung di instalasi Clouds of Thoughts (Foto: Konteks.org)

Menyaksikan hiburan panggung

Tepat di depan Museum Fatahillah, sebuah panggung didirikan lengkap dengan dua layar besar di sisi kanan dan kirinya. Ada beberapa artis yang menggunakannya.

Pada malam pertama, pukul 20.00, Payung Teduh membius para pengunjung yang duduk bertebaran di Taman Fatahillah. Perhatian pengunjung terfokus ke arah panggung. Setiap sehabis lagu, tepuk tangan bergemuruh. Tak lama setelah itu, suara digantikan oleh teriakan pedagang minuman yang menjajakan dagangannya. Mungkin para pengunjung tidak sadar bahwa selagi musik berdendang, para pedagang itu duduk di antara mereka. Suasana begitu cair dan santai.

Setelah Payung Teduh, giliran Jiung yang bertugas membius para penonton. Istilah membius sebenarnya kurang jitu, karena Jiung membuat para penonton tertawa lewat aksi-aksi lucunya.

Pada hari kedua, panggung itu akan digunakan oleh musik keroncong, pertunjukan musik jalanan dan JPG Percusion. Pada malam harinya, yang bertugas membius penonton sebelum acara ditutup adalah Float. Suasana yang mereka ciptakan bisa setara dengan apa yang diciptakan Payung Teduh pada malam yang pertama.

Menikmati instalasi bambu Samudera: Collapse. Redesign. Revived

Instalasi Samudera: Collapse. Redesign. Revived, karya KCAP (Foto: Konteks.org)

Ada banyak bangunan tua di Kota Tua yang telah roboh karena tak terurus, salah satunya gedung Samudera di Kali Besar Barat.

Menanggapi fakta itu, KCAP, konsultan perencana dari Belanda, merancang instalasi wajah bangunan dari bambu tepat di depan sisa reruntuhan gedung Samudera—seolah gedung itu berdiri tegak lagi. Wajah bambu tersebut dibuat menyerupai wajah bangunan kolonial di sebelahnya yang memang masih berdiri utuh. Walau serupa, karakter bambu, yang ringan dan tidak permanen, menjadikannya kontras dengan bangunan tersebut, apalagi dengan gedung hotel De Rivier (dulunya Omni Batavia) yang juga ada di sebelahnya. Di balik wajah tersebut, tampak kain-kain putih yang menyelimuti sisa reruntuhan, seperti sebuah pernyataan berkabung.

Instalasi ini masih bisa kau saksikan sampai 22 Juni 2014.

Berkunjung ke pameran seni dan arsitektur

Pameran Jakarta Old Town Reborn (Foto: Konteks.org)

Gedung Tjipta Niaga perlu disebut secara khusus kali ini, karena, selain ruang dalam bangunan ini sungguh bagus (sayang, lagi-lagi, tidak terawat), ada dua pameran berlangsung di dalamnya.

Pameran pertama adalah Jakarta Old Town Reborn. Tujuh karya arsitek ternama Indonesia dan Belanda dipamerkan di sana. Karya-karya tersebut berisi gagasan-gagasan intervensi pada bangunan-bangunan dan ruang publik di kawasan Kota Tua. Selain kontennya, penyajian karya berbentuk panel-panel prisma yang menyala terang yang bertemu dengan interior lawas gaya Art Deco, bikin suasananya unik betul.

Kalau kau tak terlalu suka arsitektur, jelajahlah lantai dua dari bangunan ini. Di situ, dapat kau temukan pameran kedua, yaitu Ars longa, vita brevis. Pameran seni kontemporer yang dikuratori Rizki A. Zaelani ini menampilkan puluhan karya seniman muda.

Kedua pameran ini akan dibuka sampai pukul 20.00, 22 Juni 2014. Setelah itu, pameran Jakarta Old Town Reborn masih bisa dinikmati di Erasmus Huis, Kuningan.

Program lengkap dari Kota Tua Creative Festival 2014 bisa dilihat di sini.

Selamat ulang tahun, duhai Jakarta!



comments powered by Disqus
 

Login dahulu