Arsitektur Rimpang dan Jebakan-jebakannya

Catatan tentang karya-karya peserta Kompetisi Nasional Mahasiswa: Arsitektur Rimpang.

Author
Analisis tapak industri terasi rumahan di desa Ngaglik, Tuban, Jawa Timur, oleh Reni Dwi Rahayu.

Saya sering bayangkan seperti sedang study tour ketika datang ke presentasi atau pameran karya kompetisi mahasiswa arsitektur. Lumayan juga, bisa “mengunjungi” kampus-kampus tanpa perlu bepergian jauh, mengamati ragam pendekatan desain dan penyajian presentasi, dan menemukan kenakalan-kenakalan dalam merancang yang sudah sulit ditemukan pada kompetisi arsitektur untuk profesional.

Itu sebabnya, saya menikmati kompetisi mahasiswa arsitektur, termasuk ketika Senin lalu, 7 Juli 2014, datang ke presentasi dan penjurian Kompetisi Nasional Mahasiswa: Arsitektur Rimpang di kantor Aboday. 

(Baca juga: Reportase Presentasi dan Penjurian Kompetisi Nasional Mahasiswa: Arsitektur Rimpang)

Topik sayembara arsitektur yang diadakan Aboday dan jurusan arsitekur Universitas Pelita Harapan ini cukup spesifik. Fokusnya ada pada industri rumahan di Indonesia. Kata rimpang, yang berarti umbi yang bercabang-cabang, saya tangkap sebagai analogi dari mekanisme industri rumahan, yang jejaringnya bertumbuh secara organik namun memiliki kekuatan solid.

Ketimbang topik-topik klise semacam desain urban kontemporer, ramah lingkungan, atau modern tropis, topik ini saya pikir dekat dan nyata dengan keseharian masyarakat Indonesia. Agung Dwiyanto, salah satu juri yang juga pengusul tema ini, menyebutkan bahwa hunian yang rangkap fungsi sebagai industri punya dampak signifikan bahkan pada skala kota. Saya sepakat betul. Arsitektur rimpang sejatinya arsitektur yang rempong, yang membuka banyak peluang untuk intervensi desain. Di kompleks perumahan dempet tempat saya tinggal, sebagian rumah merangkap industri tekstil. Karyawan-karyawan datang dan pergi setiap hari. Beberapa rumah malah buka ekspedisi, sehingga truk-truk besar kerap parkir di depan bahkan masuk ke dalam kompleks.

Kekaguman saya, setelah menyaksikan seluruh presentasi, ada pada teknik penyajian peserta yang sepenuhnya menggunakan video. Rafael David, salah satu prinsipal Aboday yang juga penggagas kompetisi ini, menyebutkan bahwa video, sebetulnya, diminta hanya untuk penyajian observasi tapak. Namun, seluruh peserta kompak menampilkan semua presentasi mereka dalam video, dengan kualitas yang baik. Para peserta memanfaatkan imposisi footage video, rendering tiga dimensi, foto, diagram, gambar skematik, bahkan musik, untuk tak hanya menceritakan informasi, tapi juga memberikan impresi pada audiens dengan jitu—tidak bertele-tele dan tepat waktu.

Dalam hal desain, sayangnya, ada jebakan-jebakan yang menggeser fokus sebagian peserta dari esensi temanya.

Jebakan pertama adalah kecenderungan untuk merancang objek arsitektur fisik yang masif. Padahal, seperti yang disampaikan pada TOR kompetisi, aspek utama pada sayembara ini justru melampaui hal-hal fisik: “kepekaan dan pemahaman pada jejaring ruang kota yang terbentuk akibat keberadaan industri rumahan.”

Tiga peserta menghadirkan intervensi fisik skala kawasan, sedangkan satu peserta melakukan intervensi fisik skala bangunan seukuran gedung pasar. Hanya satu yang melakukan intervensi skala kecil namun modular.

Bukannya saya mengharamkan intervensi berskala besar. Namun, saya pikir arsitektur rimpang akan lebih mengakar kuat ketika ia ramping. Dengan begitu, ia bisa bergerak gesit, tapi tetap berjejaring. Tidak kegemukan untuk bertumbuh ke sana ke mari.

Grow up, karya Hikmatyar Abdul Azis, misalnya, memilih tapak di Kampung Kali Code—pemilihan yang berani mengingat jejak Romo Mangunwijaya di sana—dan melakukan intervensi besar-besaran. Setelah analisis lokasi yang mantap, Hikmatyar, sayangnya, justru memutuskan untuk merancang ulang seluruh situs dengan menimpa semua objek fisik yang telah ada. Ia hadirkan desain rumah-rumah atap pelana khas Romo Mangun yang tertata rapi dan plaza terbuka yang bisa dipakai untuk menjual hasil industri setempat. Desainnya tampak rampung, namun tidakkah itu justru meniadakan yang rimpang?

Grow up, intervensi di Kampung Kali Code (Hikmatyar Abdul Azis)

Jebakan kedua, adalah gairah peserta untuk menuntaskan seluruh masalah pada lokasi melalui solusi arsitektural. Desain, akhirnya, teralih pada penyelesaian masalah yang heroik namun tidak esensial.

Misalnya Pasar Kampung Kue Surabaya, karya Firdiansyah Fathoni. Intervensinya di industri kue rumahan di Jalan Rungkut Lor, Surabaya, menjawab ketiadaan tempat berjualan, ruang sosialisasi, ruang informasi, dan penghijauan dengan membuat modul naungan yang bisa dilipat.  Energi desainnya ia tumpahkan untuk mewadahi ruang berjualan—inipun entah esensial atau tidak—yang multifungsi: untuk tempat duduk-duduk, tempat menggantung pot, hingga tempat menyajikan informasi.

Soal bagaimana arsitekturnya merespons proses produksi kue itu sendiri, dari bagaimana bahan-bahan mentah dihasilkan dan distribusikan, hingga kemudian diolah menjadi kue, tidak banyak terbahas. Begitupun perincian kompleksitas sistem berjualan kue di depan rumah—sebuah aktivitas baru yang ia tambahkan melalui arsitekturnya—jadi tidak tersajikan dengan jernih.

Modul shelter lipat untuk Pasar Kampung Kue Surabaya (Firdiansyah Fathoni)

Hal serupa terjadi juga pada karya Evelyn Witono Putri, Re-Imaji Pasar Loak di Kawasan Poncol, yang hendak mengatasi masalah kemacetan, banjir, kriminalitas, kondisi kios yang memprihatinkan, hingga sirkulasi yang buruk. Di satu sisi, berbagai masalah besar tersebut tentu tidak akan bisa diselesaikan hanya oleh arsitektur. Di sisi lain, masalah dan potensi dari industri pasar loak itu sendiri, yang sejatinya punya natur berbeda dengan pasar-pasar biasa, jadi tidak kelihatan.

Jebakan terakhir adalah penghargaan pada ruang publik yang tampaknya pada sayembara-sayembara arsitektur sekarang ini sudah menjadi semacam kewajiban moral. Desain Grow Up yang sudah saya sebut, misalnya, hendak menyuntikkan ruang publik untuk umum, bukan hanya untuk penduduk setempat, ke Kali Code. Pasar Kampung Kue Surabaya ingin menghadirkan ruang berjualan di gang-gang depan rumah, yang artinya membuka ruang tersebut untuk publik bebas. Begitupun dengan desain Watu Kuning, karya Angga Dwi Susilohadi, di sebuah Kampung Ikan di Surabaya, yang hendak menjadikan kampung tersebut, yang ia sebut pada analisisnya sebagai kampung yang introvert, terbuka untuk turis.

Publik, dalam hal ini, bisa terdengar indah dan ideal, namun tanpa pertimbangan yang masak rentan jadi sesuatu yang naif. Sementara, potensi publik yang lain, yaitu warga-warga setempat itu sendiri, yang tentunya punya karakteristik yang lebih spesifik, justru tidak tertelisik.

Desain Reni Dwi Rahayu, Smell-ended Village yang menjadi juara pertama, saya kira berhasil terhindar dari jebakan-jebakan itu. Ia fokus mengamati proses dan mekanisme kerja industri terasi rumahan untuk menemukan masalah dan potensi yang bisa ia intervensi. Desainnya, walau berskala masif, tidak tampak berlebihan karena punya ikatan yang jelas dengan jejaring industri itu sendiri. Ia juga tidak terjebak pada ilusi menciptakan ruang publik yang anonim; seluruh desainnya ditujukan untuk masyarakat industri setempat.

Lepas dari jebakan-jebakan itu, saya sungguh mengapresiasi karya para peserta kompetisi ini. Topiknya segar, tapak-tapaknya menarik, dan desain-desainya berani. Saya menikmati study tour kali ini dan senantiasa menunggu Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur ini yang berikutnya, tahun depan.

 Smell-ended Village (Reni Dwi Rahayu)



comments powered by Disqus
 

Login dahulu