Catatan Tentang Ketukangan

Lagi, amatan personal tentang Paviliun Indonesia.

Author

Beruntung rasanya, ketika pertama kalinya Indonesia berpartisipasi dalam Venice Architecture Biennale, saya masih dalam proses menyelesaikan studi di Piacenza, Italia. Untuk pergi ke Venesia, hanya butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan dengan kereta. Harganya pun tidak terlalu mahal jika sudah dipesan jauh-jauh hari.

Dengan tema umum Absorbing Modernity: 1914-2014 yangkemudian diterjemahkan, oleh tim kurator Paviliun Indonesia, menjadi Ketukangan: Kesadaran Material, saya melihat banyak potensi yang bisa digali.

Saya belajar dalam sistem pendidikan arsitektur yang lebih menekankan mahasiswa dalam petak “merancang” dan hanya sedikit merambah petak “membangun”. Hal ini paling kentara saat pertama kali saya masuk ke sebuah firma dan harus menangani tantangan-tantangan konstruksi di lapangan. Itu sebabnya, tema ketukangan, di satu sisi menggenapi sudut pandang bahwa arsitektur tak hanya perkara “merancang”, di sisi lain juga dekat dengan praksis arsitektur sehari-hari.

Setelah melewati paviliun Monditalia—yang menurut saya agak sulit untuk dipahami—dan beberapa paviliun negara lainnya di Arsenale, akhirnya sampai juga ke paviliun Indonesia.

Akan tetapi, dengan segala ekspektasi yang ada, saya terkejut menyaksikan ruang yang hampir kosong. Hanya ada tujuh panel kaca yangdiposisikan secara diagonal. Seluruh materi ditampilkan dalam medium film yang diproyeksikan ke panel kaca tersebut. Perbandingan antara luas ruangan dan sajian materinya terkesan tidak proporsional.

Memang, ruangan kosong bisa membuat konten pameran terasa lebih monumental, seperti Paviliun Belgia yang tampil minimalis dengan ruangan yang lega dan serba putih, namun mampu menjaga daya impresinya. Atau saat satu panel beton yang masif mampu menguasai salah satu ruangan di Paviliun Chili.

Paviliun Belgia (foto: David Hutama)

Sayangnya, kesan monumental tersebut kurang saya rasakan di Paviliun Indonesia. Mungkin karena tiang besi yang berada di tengah ruang membelah jarak antara pengunjung dan panel pameran, sementara dinding ruangan bangunan Arsenale itu sendiri “berbicara” melalui teksturnya. Mungkin juga hanya karena kekecewaan akan konten pameran yang dikemas dalam sajian yang tidak sebanyak yang saya kira sebelumnya.

Konten pameran yang ditampilkan sebetulnya selaras dan konsisten dengan tema yang diusung. Kesadaran material nampak dari bangunan-bangunan yang ditampilkan melalui video: bagaimana eksplorasi perancangan diimbangi dengan pengetahuan produksi dan pengalaman membangun dapat menghasilkan bangunan-bangunan yang unik.

Namun, terbatasnya panel proyeksi, dan banyaknya konten yang ingin disajikan, membuat tiap bangunan hanya tampil sekilas, tak sampai setengah menit. Akhirnya, video-video tersebut terkesan seperti sebuah teaser film.

Sementara itu, konten suara yang terlalu sedikit juga mengurangi kekuatan penyampaian informasi. Paviliun Indonesia menggunakan satu suara untuk seluruh video, yaitu suara tukang yang sedang mengolah material dengan menggunakan berbagai peralatan kerja. Suara tersebut berulang dalam satu putaran video.

Saat menyaksikan video konstruksi rumah adat Wae Rebo di Paviliun Indonesia, misalnya, saya melihat kerja kolektif masyarakat yang menggugah. Andai kumpulan suara-suara yang terekam saat mereka bekerja diputar di Paviliun Indonesia ini. Saya bayangkan paviliun ini bisa membawa pengunjung merasakan bagaimana suasana gotong-royong saat kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung, suasana yang menurut saya tidak terlalu terlihat dalam budaya konstruksi di Eropa.

Rekonstruksi rumah adat di Wae Rebo (Foto: Konteks.org)

Beberapa hari setelah saya kembali ke Piacenza, didorong oleh rasa penasaran akan bagaimana pendapat mahasiswa asing tentang Paviliun Indonesia, saya meminta pendapat dua teman yang baru kembali dari Venesia. Cukup mengejutkan karena mereka tidak menyadari bahwa Indonesia ikut berpartisipasi dalam biennale tahun ini. Baru setelah saya deskripsikan, mereka ingat dan memberikan opininya masing-masing.

Bagi kedua teman saya, sulit untuk mendapatkan gambaran utuh akan ketukangan, sebagaimana yang disebut dalam pengantar Paviliun Indonesia, sebagai  “komitmen untuk mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya... disertai kepekaan kepada apa yang terpaut. ” Apa yang mereka dapat adalah berbagai macam bangunan dengan eksplorasi-eksplorasi material yang terpilih dan, menurut mereka, bangunan-bangunan yang ditampilkan sangat menarik.

Mereka sendiri mengakui tidak meluangkan waktu yang cukup untuk menyaksikan keseluruhan video yang ditampilkan. Di tengah masifnya sajian pameran di Venice Biennale, mereka memang pada akhirnya harus memilih pameran mana yang ingin mereka lihat dan hanya menghabiskan waktu sebentar untuk melihat pameran yang mereka sekadar lewat. Berbeda dengan pameran yang memang kita datangi secara khusus, biennale memang lebih seperti pasar jajanan: Anda berjalan ke sana kemari, lalu memilih mana yang mau “dibeli”.

Terlebih lagi, konten Paviliun Indonesia disajikan melalui media video. Pengunjung harus meluangkan waktu untuk betul-betul menangkap benang merah kontennya. Ini disebabkan narasi video bersifat linear, tidak seperti panel tercetak yang memungkinkan pengunjung bisa melihat dengan sekejap.

Keterbatasan waktu itu yang, saya pikir, membuat sebagian besar pengunjung hanya sepintas melihat konten-konten pameran yang disajikan. Dan mungkin, seperti yang saya alami dalam hal Monditalia, kedua teman saya mengalami hal serupa di Paviliun Indonesia.

Memang, perbedaan persepsi mengenai sebuah konten pameran adalah hal yang wajar. Kedekatan dengan materi pameran juga mempengaruhi ketertarikan audiens untuk mau meluangkan waktu dan memperhatikan sajian pamerannya dengan utuh. Dalam biennale semacam ini, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menyampaikan pesan dengan cepat dan tepat mengingat keterbatasan-keterbatasan tadi. Karena menurut saya, dengan pesan yang tepat, pengunjung akan lebih mudah mengingat konten yang disajikan.

Mungkin banyak hal yang membuat saya kurang puas akan Paviliun Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa tahun ini adalah pertama kalinya kita berpartisipasi dalam Venice Architecture Biennale. Saya kira ini pengalaman berharga untuk penyelenggaraan selanjutnya, dan saya harap, saya masih bisa menikmati Paviliun Indonesia berikutnya.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu