Heatherwick Studio, Si Desainer Serba Bisa

Liputan kuliah umum Ole Smith dari Heatherwick Studio di Indonesia

Author
(Foto: William Sutanto)

Salah satu kekhasan Heatherwick Studio adalah rentang lebar dari objek yang mereka rancang, mulai dari bangunan, patung, instalasi, kartu ucapan, pohon natal, tas, obor olimpiade, bus, hingga jembatan. Bermodal keterampilan cakap dalam mengolah material dan membuat produk, proyek bermacam-macam jenis, rupa, dan skala seakan bukan perkara susah bagi Heatherwick Studio. Sebut saja bagaimana mereka memanfaatkan kelenturan fiber glass dalam UK Pavilion untuk menciptakan sosok bangunan yang bergerak-gerak, atau pada Zip Bag, tas merk Longchamp yang menggunakan satu ritsleting panjang untuk menggandakan kapasitas isinya.

Hal itu pula yang menjadi daya tarik dari kuliah umum Heatherwick Studio, 14 Maret 2015, di Gedung Hope, Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, yang diadakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia EU Chapter (IAI-EU) bersama Universitas Pelita Harapan (UPH), British Council, dan Konteks.org. Kurang lebih tiga ratus orang memenuhi ruang auditorium dengan segudang rasa penasaran akan bagaimana mereka mengerjakan semua itu.

Arsitek yang bukan arsitek

Kuliah hari itu dibawakan oleh Ole Smith, Project Architect di Heatherwick Studio. Pria yang sudah bekerja di Heatherwick Studio selama 10 tahun dan telah menyaksikan bagaimana Heatherwick Studio berkembang dari 13 orang menjadi lebih dari 160 orang ini mengantar presentasinya dengan pembawaan yang enerjik.

Ole Smith (Foto: William Sutanto)

Di awal presentasi, Ole memberikan pengantar yang singkat seputar Heatherwick Studio dan sosok Thomas Heatherwick. Latar belakang Thomas Heatherwick, prinsipal sekaligus penggagas Heatherwick Studio, yang mengenyam pendidikan di jurusan 3D Design Manchester Polytechnic, Manchester, dan di jurusan Design Products Royal College of Arts, London, memang memberikan warna berbeda dalam praktik desain studionya dibandingkan dengan konsultan-konsultan arsitektur lain.

Ia lalu memaparkan berbagai macam profesi yang terlibat di dalam Heatherwick Studio seperti, arsitek, artis, desainer, dan juga maker—mereka yang ahli dalam bidang membangun dan membuat apapun.  Menurutnya, Thomas selalu tertarik untuk mengerjakan semua jenis proyek mulai dari skala kecil hingga skala besar. Ini tergambarkan pada beberapa proyek-proyek terbaik dari Heatherwick Studio selama 5 tahun terakhir yang disampaikan Ole kemudian.

60.000 batang serat optik untuk UK Pavilion

UK Pavilion (Foto: Iwan Baan)

Proyek pertama yang diungkap Ole adalah UK Pavilion untuk Shanghai World Expo, 2010. Paviliun tersebut memang menjadi salah satu karya studio Heatherwick yang paling ramai diperbincangkan di acara taraf dunia itu.

Pihak pemerintah Inggris mengharuskan paviliunnya masuk menjadi 5 karya terbaik di antara 195 negara lainnya. Menanggapi hal itu, Heatherwick kemudian menghindari desain yang sekadar merchandising

“Kami berpikir, kami tidak akan memakai keseluruhan site yang diberikan, kami hanya akan menggunakan seperlima bagian dari site dan mengubah sisanya menjadi taman, sehingga orang bisa duduk di sana dan menikmatinya .”

Paviliun itu dibentuk dari 60.000 batang serat optik yang mengarah pada satu titik pusat dan ditopang oleh struktur kayu berbentuk boks. Cahaya matahari dapat masuk melalui setiap batang serat optik dan menciptakan kesan dramatis pada ruang dalamnya. Batang-batang tersebut juga berbeda satu sama lain karena berisi biji-bijian berbagai jenis untuk menggambarkan negara London yang dulunya merupakan salah satu kota ter-“hijau” di dunia.

Pavilion UK  menghasilkan hal-hal yang tidak diduga sebelumnya, seperti siluet Union Jack (Bendera Nasional UK), yang terdapat pada tampak bangunannya. Akibat penggunaan serat optik dan pantulan serta biasan cahaya yang terjadi di sana, pavilion ini terasa surreal. “Bangunan ini lebih terlihat seperti hasil render komputer, kami bahkan sempat tidak percaya bahwa ini adalah bangunan aslinya,” ujar Ole Smith sembari tersenyum.

Mengolah pengalaman naik London Bus

London Bus (Foto: Heatherwick Studio)

Proyek berikutnya berhubungan dengan moda transportasi umum di London, yaitu Routemaster. Ia merupakan bus dua tingkat  yang pertama kali difungsikan pada 1952 dan menjadi salah satu ikon kota London. Seiring perkembangannya, masyarakat London membutuhkan Routemaster yang lebih panjang. Muncul lah tantangan dalam proyek ini: mendesain Routemaster yang baru tanpa kehilangan esensi serta ciri khas dari Routemaster sebelumnya.

“Apabila kami hanya membuatnya sedikit lebih panjang, maka bus itu akan terkesan masif seperti boks raksasa. Jadi kami memutuskan untuk melengkungkan segi-seginya, bukan untuk alasan aerodinamik tetapi agar terkesan lebih kecil dan tidak masif,” ujar Ole. Lewat desain segi yang melengkung, London Bus yang baru hadir dengan menawarkan atmosfer bus lama, namun dengan gaya dan bentuk yang lebih modern.

Tim studio Heatherwick juga menyadari bahwa salah satu hal yang menarik dari pengalaman naik bus adalah melihat pemandangan kota London, sehingga mereka memutuskan untuk mendesain jendela bus yang menerus, mengikuti tangga naik dan turun. Jendela supir juga dibuat lebih rendah agar supir bisa leluasa melihat jalanan.

Lantai bus juga didesain ulang dengan pola tertentu sehingga menambahkan kualitas dalam ruang Routemaster. Ole kemudian memperlihatkan foto-foto  detail  jendela, lantai, tangga hingga lampu Routemaster. Ia menekankan bahwa detail memegang peranan penting dalam menentukan keseluruhan hasil desain, “Suatu proyek bisa menjadi sangat menarik bila setiap orang yang terlibat mau mendesain dan menaruh perhatian lebih pada setiap detailnya.”

Detail ruang dalam London Bus (Foto: Heatherwick Studio)

Jembatan yang tak sekadar menghubungkan

“Mungkin kalian tidak terlalu merasakan pentingnya suatu taman karena kalian memiliki banyak taman, bahkan di UPH ini saja tamannya sudah luar biasa. Tetapi di London kami sangat membutuhkan area hijau  terbuka di tengah kota,” ujar Ole Smith mengawali penjelasannya akan proyek Garden Bridge.

London merupakan area padat yang terbagi atas London Utara dan London Selatan. Untuk mengakses keduanya, masyarakat harus menggunakan jembatan. Semua jembatan yang ada tidak memiliki atmosfer yang nyaman bagi para pejalan kaki. Suara-suara bising dari kendaraan yang melewati jembatan juga memperparah keadaan.

Garden Bridge (Gambar: Heatherwick Studio)

Dalam proyek Garden Bridge, Heatherwick Studio ingin menghasilkan desain jembatan yang ramah bagi pejalan kaki. Desainnya terinspirasi dari High Line, New York. Tim desain melihat bahwa keberadaan taman sebagai jembatan seperti di New York membawa dampak bagus pada kotanya, seperti berkurangnya angka kriminalitas dan semakin banyaknya masyarakat yang mau menggunakan jembatan penyeberangan. Lewat kehadiran berbagai macam tanaman dan pohon, Garden Bridge di London diharapkan mampu menghasilkan atmosfer yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki. Fungsi jembatan tak lagi hanya sebagai penghubung dari titik A ke B, melainkan juga tempat bagi pejalan kaki untuk menikmati pemandangan dan ruang terbuka hijau. 

Berutang pada tukang-tukang Asia

Proyek terakhir yang diceritakan Ole adalah Learning Hub di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Proyek ini berawal dari sebuah kompetisi dengan tantangan agar bangunan tersebut dapat digunakan oleh mahasiswa dari semua jurusan untuk belajar, bertemu, dan berinteraksi. Pada dasarnya setiap kelas yang ada bisa dipakai oleh mahasiswa dari jurusan-jurusan berbeda, dan diharapkan mereka mampu memulai bisnis bersama dan bahkan, seloroh Ole, menjadi tempat mereka saling “jatuh cinta” karena Singapura sedang menghadapi masalah angka kelahiran yang rendah.

Pada saat bersamaan, NTU menerapkan metode pembelajaran baru, yaitu dalam kelompok kecil yang terdiri dari 6 orang dan didampingi oleh dosen yang bertindak sebagai fasilitator. Karena itu, pihak Heatherwick Studio memutuskan untuk membuat bentukan kelas yang oval agar proses belajar bisa menjadi lebih cair. Setiap kelas menghadap koridor dan atrium, sehingga masing-masing ruang kelas dapat saling melihat dan masing-masing murid dapat saling mengetahui dan mengamati pembelajaran yang berlangsung di setiap kelas.

Learning Hub, NTU (Foto: Hufton and Crow)

Area koridor dan atrium yang terbuka mendapatkan ventilasi silang alami dari bukaan pada lantai bawah serta atas bangunan. Pada beberapa area bangunan juga diletakkan taman-taman terbuka hijau untuk tempat sirkulasi udara dan berkumpulnya mahasiswa. Bangunan ini mendapatkan Green Mark Platinum Award karena setiap ruang kelas dilengkapi dengan sistem pendinginan pasif yang dirancang atas usulan pihak NTU.

Sisi menarik dari proyek ini adalah bagaimana Heatherwick Studio mengolah material, terutama untuk pengolahan fasadnya. “Setelah bekerja di Asia selama 10 tahun, kami meyadari bahwa ada banyak hal yang bisa kami lakukan di sini yang tidak bisa kami lakukan di Eropa. Karena masih ada kemampuan ketukangan yang tidak akan kami temukan di Eropa,” kata Ole, sembari memperlihatkan panel-panel fasad bangunan dari beton pracetak yang dikerjakan oleh kontraktor di Malaysia. Meskipun memiliki karakteristik yang serupa, panel-panel tersebut tidak ada yang benar-benar sama.

Ia memuji kemampuan para tukang di Asia yang mampu menyelesaikan masalah secara kreatif walaupun masih menggunakan keterampilan tangan. “Justru kualitas handmade itulah yang sudah sangat jarang kami temui di negara-negara Eropa,” katanya.

Ruang dalam Learning Hub, NTU (Foto: Hufton and Crow)

Selepas presentasi Ole, acara dilanjutkan ke sesi tanya jawab yang dipandu oleh Henry Tjhie dari HGT Architects. Para peserta terlibat dalam tanya jawab yang beragam mengenai Thomas Heatherwick, Heatherwick Studio, dan karya-karya mereka. 

Terlepas dari tidak tuntasnya rasa penasaran saya pribadi mengenai bagaimana dinamika dapur dari Heatherwick Studio dalam mengerjakan desain yang beragam, Ole telah memberikan pemahaman yang esensial mengenai praktik merancang Heatherwick Studio. Ia mengungkap pentingnya penguasaan kualitas serta karakteristik material dalam merancang. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa sebuah desain yang berhasil adalah desain yang menyeluruh, yang melibatkan perencanaan mulai dari hal-hal yang bersifat major hingga detail-detail yang mungkin dianggap tidak penting namun bisa menjadi poin yang menarik dalam suatu rancangan. 

(Foto: William Sutanto)



comments powered by Disqus
 

Login dahulu