Jiwa dan Napas Kota Tua

Pameran seni rupa kontemporer memberi nafas baru bagi bangunan tua pada Kota Tua Creative Festival 2014

Author

"Untitled #1" oleh Asmudjo J. Irianto (foto:Paskalis Khrisno)

Akhir pekan merupakan pelarian dari segala kesibukan. Mendengar rangkaian acara "Kota Tua Creative Festival 2014" (KTCF 2014), saya langsung menjadikan acara itu prioritas utama untuk dikunjungi.

Sebagai mahasiswa arsitektur, tujuan utama saya adalah mendatangi pameran arsitektur “Jakarta Old Town Reborn”, sebuah pameran ide desain untuk bangunan-bangunan terbengkalai di Kota Tua Jakarta. "Kota tua telah kehilangan jiwanya," tulis Yori Antar pada catatan kuratorialnya. Selain itu, sebagai penikmat seni, saya juga tertarik dengan pameran seni kontemporer yang diadakan di lantai dua pada gedung yang sama.

Pameran tersebut merupakan salah satu dari rangkaian acara pada KTCF 2014, sebuah proyek yang diinisiasi oleh Liveable Cites taskforce dari Indonesian Diaspora Network bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan IDBC. Pameran seni kontemporer berlangsung pada tanggal 21-22 Juni 2014. Pameran tersebut memperagakan karya-karya seni kontemporer hasil kurasi Rizki A. Zaelani dari 29 seniman di dalam Gedung Tjipta Niaga.

Pada pameran itu, bukan hanya beragam karya seni kontemporer - dengan pengejawantahan unik - yang saya temukan, namun juga pencarian makna baru terhadap ruang-ruang yang terlupakan di dalam Gedung Tjipta Niaga.

Gedung Tjipta Niaga adalah bangunan tua berumur lebih dari 100 tahun. Pada tahun 1912 gedung itu dibangun sebagai kantor sebuah perusahaan asuransi, Koloniale Zee en Brand Assurantie. Perusahaan tersebut melewati proses nasionalisasi dan menjadi PN Tjipta Niaga, lalu menjadi PT. Cipta Niaga. Wilayah Kota Tua Jakarta telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya yang dilindungi sejak tahun 1972. namuun, pembangunan Jakarta yang terpusat di kawasan segitiga emas (Jl. Sudirman, Jl. MH. Thamrin dan Jl. HR. Rasuna Said) membuat seolah-oleh pemerintah melupakan Kota Tua dan bangunan-bangunannya. KTCF 2014 berusaha mendorong para pengunjung untuk mengingat Kota Tua kembali.

Sepanjang hidup, saya memiliki kesempatan untuk menikmati berbagai pameran dengan berbagai kurasi. Pameran “Instravel” yang digelar di Dia.Lo.Gue Artspace memiliki kurasi yang memamerkan 15 foto dengan format persegi berukuran 15x15cm, oleh 15 arsitek. Pameran “Unoriginal Sin” oleh Asmudjo J. Irianto memamerkan karya-karya yang merepresentasikan dirinya sendiri sebagai obyek yang mengikuti berbagai gaya seniman lain. Pameran itu mencerminkan keadaan zaman ini yang penuh dengan narsisme dan budaya copy-paste. Saya juga berkesempatan mengunjungi pameran “Nude Men” di Leopold Museum yang menunjukan bagaimana perubahan zaman dan perubahan cara pandang terhadap peran lelaki tercermin melalui karya-karya lelaki telanjang. Setiap kurasi yang bercerita mendorong kesadaran baru dan memberikan pengalaman yang lebih berharga. 

Awalanya saya menikmati pameran tanpa mengetahui tujuannya. Saat memasuki ruang pamer, saya tidak melewati papan yang menampilkan catatan kuratorial oleh Rizki A. Zaelani. Setelah saya melihat “Chrysalis” oleh Alvin Tjitrowirjo, Tiarma Dame Ruth Sirait, dan Abdul Sobur, sebuah gubahan bentuk dari bahan rotan, saya sadar bahwa karya tersebut pernah dipamerkan sebelumnya di Galeri Nasional. Lalu apa yang baru dari pameran ini? Cerita apa yang perlu saya cari?

“Chrysalis” oleh Alvin Tjitrowirjo, Tiarma Dame Ruth Sirait, dan Abdul Sobur (foto:Paskalis Khrisno)

Seiring waktu, saya sadar bahwa karya-karya yang dipamerkan tidak memiliki kesamaan maupun cerita. Sebuah patung putih terbuat dari fiberglass, "Yang Mendamba Kesunyian" oleh Andre Tanama, duduk dengan manis bagaikan anak kecil polos yang tidak ingin melihat realita dunia dan memilih tenggelam ke dalam realita kecilnya. "Mors Vincit Omnia" oleh Ghina Fianny, sebuah kumpulan gambar rontgen yang ditambahkan noda-noda dengan cat akrilik, memberi pesan bahwa semua akan ditaklukan oleh kematian. "Dia & Tanduknya" oleh Ykha Amelz, mengintrepertasikan kembali peribahasa "Mulutmu adalah harimau-mu" dengan menggunakan banteng sebagai analogi tindakan. Semua menunjukan suatu pemikiran pesan yang dalam layaknya sebuah karya seni, namun tidak saling berhubungan.

Pada pameran seni kontemporer ini, pengunjung tidak dipaksa menikmati berdasarkan alur tertentu. "Karya-karya disini dipamerin tanpa alur ya." kata teman saya. Tidak adanya cerita dan alur tersebut justru memberikan peluang bagi pengunjung untuk mengintrepertasikan ruangnya.

Seni kontemporer telah memberikan napas baru pada bangunan lama. Sebuah patung manusia hijau, mengkilap, plastis, berdiri menutupi sebuah lubang pintu dengan tumpukan buku-buku di kepalanya. Pengunjung dapat mendatangi sang patung, berfoto dengannya, mencoba melewati sela-sela kecil diantara patung dan lubang pintu, mendekat dari sisi belakang atau mengamati patung di antara lubang-lubang bukaan lainnya (patung-bukaan-buku-pintu). Lalu ada dua buah kain tipis yang ditarik kerangka serta ditempeli resin dengan warna merah muda tergantung di sebuah ruang kecil 3x3 meter. Pengunjung terpaksa mendekati dan menghayati materialitas karya yang disinari cahaya alami jendela di dekatnya, memutari karya, menyentuh resin, memandang ke atas dan mengamati bagaimana ia digantung (resin-kain-cahaya-ruang). Sebuah lukisan berdiri di sudut ruangan dengan bekas reruntuhan bangunan yang rapuh. Para pengunjung dapat mendekati dengan berhati-hati agar tidak tersandung reruntuhan, melihat dari kejauhan, mengamati kontras antara lukisan kontemporer dan reruntuhan tua (lukisan-reruntuhan-ruangan-sudut).

Karya seni berdampingan dengan reruntuhan (foto:Indra Prasasto)

Karya-karya seni kontemporer tersebut berdiri (atau kadang tergantung) di dalam gedung berumur lebih dari satu abad. Yang muda berdiri di dalam yang tua, yang lama menaungi yang baru. Manusia mengamati karya seni baru, karya seni baru berinteraksi dengan ruang lama. Ruang  lama menaungi manusia (ruang-seni-manusia-ruang-seni-manusia).Dialog yang konsisten muncul di pameran seni kontemporer ini.

Setelah melihat seluruh karya seni, saya baru membaca catatan kuratorial yang menyatakan bahwa, "Karya-karya yang dipamerkan ini lebih mirip sebagai sebuah dialog atau interaksi antara situasi 'yang lama' dengan 'yang baru', 'yang lalu' dengan 'yang kini', 'yang saat ini' dengan 'yang kemudian nanti'." Kesamaan yang dimiliki oleh semua karya di pameran ini adalah ke-'baru'-an nya yang bernaung dalam ke-'lama'-an.

Lalu bagaimana dengan nasib Kota Tua Jakarta yang “telah kehilangan jiwanya?” Kalau kita merujuk pada “jiwa” Kota Tua Jakarta sebagai pusat pemerintahan pada zaman kependudukan Belanda, jiwa tersebut perlahan-lahan meninggalkan Oud Batavia sejak wabah kolera menyerang wilayah tersebut pada awal abad ke-19.

Sebagai salah satu embrio Jakarta, Kota Tua mencerminkan kondisi warganya sendiri. Kota Tua telah melewati perubahan zaman bersama dengan warga-warganya, kondisinya yang telah memburuk menimbulkan tanya terhadap kondisi warganya sebagai manusia. Rasanya manusia Jakarta sudah makin dewasa, sudah makin matang, sudah makin baru. Kota Tua membutuhkan napas baru dari manusia, seperti halnya Gedung Tjipta Niaga mendapatkan napas baru dari karya-karya seni kontemporer. Dengan napas baru, Kota Tua dapat kembali hidup dengan jiwa baru pula. Karena itulah yang dibutuhkan Kota Tua, napas yang kekinian dan jujur, bukan napas yang dibuat-buat dan palsu.

(foto:Paskalis Khrisno)



comments powered by Disqus
 

Login dahulu