Ketukangan: Hambatan atau Kesempatan?

Bagaimana wacana ketukangan dapat menjadi relevan.

Author
Vila di Petitenget, karya Adi Purnomo. Karya ini ditampilkan di Paviliun Indonesia.

 

Red: Tulisan ini dibuat dalam Bahasa Inggris—tertera di bawah—dan diterjemahkan oleh redaksi. / The text was written in Englishlisted below—and was translated by the editorial staff.


 

Paviliun pertama Indonesia di Venice Architecture Biennale adalah pameran yang menawan.

Di tengah gempuran pemaparan, Paviliun Indonesia ibarat sebuah oasis. Ruangnya nyaris kosong; hanya terdapat dinding kaca yang diletakkan diagonal, tempat gambar-gambar bergerak diproyeksikan untuk menceritakan sejarah seabad arsitektur Indonesia dalam enam topik: kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu. Setiap topik mengisahkan riwayat masing-masing material dan karya yang dibangun dengannya, yang menunjukkan betapa kayanya ragam arsitektur di Indonesia. Pengunjung yang berjalan di sisi lain dinding kaca tampak berbayang di balik cahaya proyeksi, menciptakan kualitas puitis pada ruangan yang melampaui konten pameran itu sendiri. Selain sajian gambar-gambar bergerak, fisik pameran ini sendiri menarik untuk diamati.

Tema yang dipilih oleh para kurator Paviliun Indonesia adalah Ketukangan: Kesadaran Material. Ketika pertama kali mendengarnya, pilihan tersebut terdengar terlalu biasa dan gamblang, hampir seperti memilih sepatu kayu untuk tema Paviliun Belanda. Namun, tim kurator tidak memandang hal ini sebagai sesuatu yang remeh, dan mengembangkan tema tersebut sebagai konsep yang kompleks, kaya, dan esensial bagi arsitektur. Tema utama dari paviliun negara di Biennale adalah Absorbing Modernity: 1914-2014, dan meningkatnya tegangan antara ketukangan dan industrialisasi serta rasionalisasi sangat mungkin menjadi kualitas penentu pada arsitektur kontemporer di Indonesia.

Selama kunjungan saya ke Venesia, saya menghadiri tiga bagian dari Paviliun Indonesia: pameran, seminar oleh Eko Prawoto dan Yori Antar—dua arsitek senior Indonesia—dan serangkaian paparan oleh sepuluh arsitek muda Belanda, diikuti diskusi oleh kolega-kolega dari Indonesia. Setiap paparan menyentuh aspek lain dari ketukangan: kesadaran material, kepekaan sosial, dan kerinduan akan “surga” yang hilang.

Unsur material dan pemanfaatannya oleh para arsitek diuraikan lengkap di dalam katalog pameran dengan menunjukkan contoh-contoh impresif seperti rumah beton oleh Andra Matin, ornamen bata yang sensitif oleh Adi Purnomo, konstruksi bambu yang menawan dari Andrea Fitrianto, dan banyak karya arsitek lain. Paparan tersebut menunjukkan bagaimana arsitektur Indonesia telah mencapai tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dan bagaimana, melalui berbagai cara, kepekaan terhadap material telah menjadi salah satu karakter arsitektur Indonesia.

Pada konteks Belanda, wacana ketukangan di berbagai diskusi justru muncul dalam wajah gundah. Saya menghadiri satu pertemuan arsitek seminggu setelah kembali ke Rotterdam. Europan-NL, kompetisi dua tahunan bergengsi di Eropa cabang Belanda, mengundang para pemenang dari Belanda untuk mendiskusikan masa depan Europan. Dari permulaan diskusi, jelas bahwa kami tidak sedang membicarakan masa depan organisasi Europan, melainkan masa depan arsitektur dari segi bisnis. Europan selalu menuntut desain yang inovatif, dan menjanjikan para pemenang untuk betul-betul membangun karya mereka. Banyak ide inovatif yang masuk, tetapi dalam diskusi tersebut, inovasi malah kehilangan daya tariknya. Jarak lebar antara desain dan bangunan semakin nyata; banyak biro yang lebih memilih untuk fokus merancang, dan melempar pekerjaan teknis persiapan pembangunan ke perusahaan lain. Ketukangan memang dilihat sebagai gagasan untuk menghadapkan kembali arsitek pada bangunan, tetapi dalam diskusi tersebut ketukangan merujuk lebih pada kemampuan arsitek ketimbang pembangun yang sebenarnya. Bukannya memanfaatkan kemampuan pembangun, kerja kontraktor justru dipersiapkan dengan rinci oleh arsitek, sehingga hanya menyisakan ruang sempit untuk hal-hal yang di luar rencana. Ujung dari semua itu adalah dokumen kontrak produksi setebal buku novel, yang pada setiap garisnya, setiap sekrupnya, mengatur setiap tindakan. Konsep tersebut patut dipertanyakan ketika arsitek sendiri juga amat bergantung pada klien, yang bisa dengan mudah beralih pada kontraktor, dan membalikkan situasi arsitek. Semakin banyak arsitek di Eropa yang, bukannya memimpin kontraktor, malah dikontrak oleh kontraktor. Kerinduan akan “surga” hilang yang sesungguhnya.

Gagasan ketukangan yang dipaparkan oleh Eko dan Yori berbeda secara radikal dan berfokus pada dimensi sosial. Terdapat unsur eksploitasi pada ketukangan [di Indonesia], yang berjuang melalui upah kerja yang murah. Pembatik, misalnya, yang menghabiskan satu setengah hari hanya untuk selembar kain, kerap melihat karyanya diproses menjadi pasangan yang buruk untuk kaos polo murahan. Namun Eko Prawoto memakai ketukangan pada bangunannya untuk memberdayakan masyarakat. Ketika diminta untuk berkarya di Eropa, Cina, atau Jepang, ia selalu membawa tukang-tukangnya, memberikan kesempatan pada mereka untuk melihat dunia yang mungkin, dalam kondisi sehari-hari, tidak akan bisa mereka saksikan langsung. Yori Antar memperlakukan ketukangan sebagai ruang pembelajaran lisan, dengan membangun ulang rumah tradisional, bekerjasama dengan masyarakat setempat. Kedua arsitek memberdayakan masyarakat dengan meningkatkan rasa percaya diri mereka, membuat mereka bangga dengan karya mereka.

Diskusi Ketukangan Tradisional di Venesia. 

Namun, sekalipun karya-karya mereka begitu menarik, contoh-contoh yang ditampilkan di Paviliun Indonesia tergolong insidental, berskala kecil, dan sebagian besar berada di pedesaan atau pinggir kota. Mereka adalah bagian dari lapis tipis “krim” dalam arsitektur, namun tidak menyentuh praktik umum. Sementara itu, sulit membayangkan kota Surabaya dan Jakarta dibangun hanya dengan ketukangan.

Jika wacana arsitektur ini ingin dikembangkan secara serius, karya-karya sentuhan Indonesia pada ketukangan perlu diaplikasikan dalam skala besar. Eko Prawoto menyebutkan pada presentasinya, bahwa industrialisasi berujung pada hilangnya kepercayaan diri tukang akan kemampuannya sendiri. Ia mungkin benar, tetapi industrialisasi telah berkembang menjadi unsur yang tak terpisahkan dari kehidupan modern. Pendekatan baru dibutuhkan. Menariknya, beberapa arsitek Belanda dalam acara diskusi Paviliun Indonesia menampilkan ruang-ruang kemungkinan, dengan menggunakan teknologi-cc (creative common), 3d-printing, dan teknologi komputer lain yang memungkinkan untuk membuat produk spesifik melalui proses industrial, dan melibatkan masyarakat dan klien dalam menciptakan arsitektur.

Ketika diterapkan sebagai ornamen, ketukangan adalah jembatan antar gagasan, kerap merujuk pada sesuatu yang tak terkait dengan ruang tempatnya berada. Kesejahteraan, alam, spiritual, dan impian. Baik Eko Prawoto dan Yori Antar menggunakan kapasitas ketukangan tersebut dengan cara yang baru dan menakjubkan, memberikan hubungan baru bagi masyarakat miskin dengan dunia. Mereka tidak hanya menerapkan ketukangan milik orang lain, melainkan juga milik mereka sendiri; mereka menunjukkan kemampuan improvisasi dengan menggabungkan masukan dari beragam kelompok pembangun menjadi satu bangunan yang dirancang dengan baik.

Generasi muda juga membangun contoh mereka sendiri. Yandi Yatmo dan Paramita Atmodiwirjo, yang memenangkan penghargaan internasional Holcim Award, dan SHAU, yang membangun kampung vertikal di Muara Angke, juga menggunakan arsitektur untuk menopang masyarakat dari kemiskinan menuju kelas sosial yang lebih baik. Baru-baru ini, SHAU, berkolaborasi dengan Diana Ang, membawa praktik ini ke dalam level baru, menyenangkan, dan berskala urban pada acara di Kota Tua, Jakarta. Kanopi warna-warni dibuat dari ribuan harapan personal masyakarat, menunjukkan pendekatan arsitektur yang lebih santai dan tidak dogmatis serta menyenangkan dari kolega-kolega mereka yang lebih tua. SHAU dan Ang mewakili generasi baru yang bekerja di kantor-kantor arsitek tenar seperti OMA dan MVRDV, yang mengetahui bagaimana merencanakan tanpa takut untuk berimprovisasi.

 Kota Tua Creative Festival. (Foto: Paskalis Khrisno)

Mungkin itulah titik mula dari pendekatan baru yang diperlukan. Dengan menerapkan, pada saat bersamaan, ketukangan tradisional dan 3-d printing, beton prefab dan ketukangan bata, material bekas dan rangka aluminium yang terstandardisasi, muncul kesempatan bagi arsitektur untuk meresapi modernitas dan tradisi.

 

 

Craftsmanship: Defiance or Opportunity? 

The first ever Indonesian pavilion at the Venice Architecture Biennale is a beautifully crafted exhibition. Amidst a cacophony of expositions, the Indonesia Pavilion is an oasis of rest. It is an almost empty room with a diagonally placed glass wall on which images are projected to show a century of Indonesian architecture in six themes: wood, stone, brick, steel, concrete, and bamboo. Each theme is dedicated to each material and buildings constructed of it, showing a rich variety of high level architecture realized in Indonesia. Spectators on the other side of the wall shimmer through the images, giving the space an ephemeral quality that both transcends and underlines the information; not just the beamed slideshow, also the exhibition in itself is worth looking at.

The Indonesian sub theme chosen by the curators is Craftsmanship: Material Consciousness. An obvious choice, at first glance, close to cheesy even, almost like choosing wooden shoes as a theme for the Dutch Pavilion. However, the curatorial team did not fall for the easy result and elaborated the theme in a way showing that craftsmanship as a concept is complex, rich, and at the very core of architecture. The central theme of the national pavilions in the Biennale is Absorbing Modernity: 1914-2014, and the growing tension between craftsmanship and industrialization and rationalization may very well be an identifying quality of contemporary Indonesian architecture.

During my visit to Venice, I attended three elements of the pavilion: the exhibition, a lecture by Eko Prawoto and Yori Antar, two senior Indonesian architects, and a series of pitches by ten young Dutch architects, followed by a discussion with their Indonesian colleagues. Each element touched on other aspects of craftsmanship: material consciousness, social consciousness, and melancholy for a paradise lost.

The element of material and its use by architects is thoroughly elaborated in the catalogue of the exhibition, showing impressive examples of concrete villas by Andra Matin, sensitive brick ornaments by Adi Purnomo, and beautiful bamboo constructions by Andrea Fitrianto, as well as the works of many other architects. It shows how Indonesian architecture has reached a new level of self-confidence and how, through all the different styles, material sensitivity has become one of the trademarks of it.

Looking at the Dutch context, craftsmanship appears in discussions on the loss of self-confidence. I attended another architects meeting a week later, back in Rotterdam. Europan-NL, the Dutch branch of the prestigious europe-wide bi-annual competition, had invited the Dutch winners to discuss the future of Europan. From the first remark on it was clear that we were not talking about the organization of Europan, but the future of architecture as a trade. Europan has always been asking for innovative designs, promising the winning entries to actually be built. Indeed many innovative ideas were send in, but in this discussion innovation had lost its glare. A growing gap between designing, and building was seen, since many offices find it economically more interesting to focus on designing and outsource the act of technically preparing a design to be build. Craftsmanship was seen as the very concept to reconnect architects to buildings, but in this discussion it referred to the skill of the architects themselves, rather than that of the actual builders. Instead of using the skills of the builders, the work of contractors is to be prepared meticulously by the architects, leaving little to coincidence. It leads to the production of contract documents as long as novels, in which every line, every screw, every action is accounted for. It is a questionable concept though, since the architect too relies on trust, from his client, who can easily turn to the contractor instead, flipping the situation for the architect. More and more architects in Europe find themselves hired by a contractor instead of leading him. Melancholy for a paradise lost indeed.

The concept of craftsmanship as presented by Prawoto and Antar is radically different and focuses on a social dimension. There is an element of exploitation in craftsmanship, since it survives through cheap labor. The batik worker, spending a day and a half on a piece of fabric, often sees his product processed into a badly fitting polo shirt sold for a dime. Eko Prawoto however, employs craftsmanship in his buildings to empower communities. Asked to make a work of art in Europe, China, or Japan, he will always bring his own craftsmen, allowing them thus to see more of the world then they would normally have been able to. Yori Antar uses craftsmanship to serve as a kind of oral databank, by exactly recreating traditional houses in close collaboration with the communities he builds for. Both architects empower communities by enlarging their self-esteem, giving them pride in their work.

Still, though they are beautiful, all examples shown in the Indonesian pavilion are incidental, small scaled, and often rural or suburban. They represent the cream of the architecture, but hardly the common practice, and it is hard to imagine cities like Surabaya and Jakarta being built by craftsmanship only.

If architecture wants to be taken seriously, this showcased Indonesian touch to craftsmanship needs to be applied in large scale building processes. Eko Prawoto stated in his presentation that the industrialization leads to loss of confidence in one's own skills. He might very well be right, but industrialization has already evolved into an inseparable element of modern life. A new approach is required. Interesting enough, some of the young Dutch architects at the pavilion showed a glimpse of what could be possible in this; using cc-technology, 3d-printing, and other computer related technology to be able to make specific products in an industrial process, and involve communities and clients in creating architecture.

When applied in ornaments, craftsmanship is a bridge between concepts, always referring to something outside of the space where it is applied. Wealth, nature, divine perfection, or dreams. Both Eko Prawoto and Yori Antar use the bridging capacities of craftsmanship in a new and fascinating way, giving poor communities a new connection to the world. Not only do they apply the craftsmanship of others, they also apply their own, showing great improvisation skills by combining the input of a diverse group of builders into one single, well composed building.

A younger generation is building on upon their examples. Yandi Yatmo and Paramita Atmodiwirjo, who won an international Holcim Award, and SHAU, who is building the vertical kampung in Muara Angke, are also using architecture to lift communities from poverty to middle class. Recently, SHAU, in collaboration with Diana Ang, brought this practice to a new, playful, and urban level in the event for Kota Tua, Jakarta. A colorful canopy was created out of thousands of personal notes from the community, showing a less serious and dogmatic, and more playful approach to architecture than that of their older colleagues. SHAU and Ang represent a new generation who worked in high level offices like OMA and MVRDV, know how to plan, but are not afraid to improvise.

This might very well be the start of the new approach that is needed. Being able to apply both the traditional carpentry, as the art of 3-d printing, both prefabricated concrete, as crafty bricks, used building elements and standardized aluminum frames, gives architecture a chance to absorb both modernity and tradition.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu