Kompetisi Nasional Mahasiswa: Arsitektur Rimpang

Reportase penjurian Kompetisi yang diadakan oleh Aboday dan Jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan.

Author

 

Senin 7 Juli 2014, dua pemenang Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur Rimpang, kompetisi yang diadakan oleh Aboday dan Universitas Pelita Harapan, telah ditetapkan. Kedua pemenang mendapatkan hadiah travel grant ke Jepang selama enam hari.

Acara presentasi dan penjurian tersebut dimulai pukul 14:00 di kantor Aboday, Kemang, Jakarta. Djohan, pemenang kompetisi Aboday tahun lalu, mengawali acara dengan membagikan kisahnya selama di Jepang. Setelah itu, MC memperkenalkan keempat juri, yaitu Ary Indra, David Hutama, Andra Matin, dan Agung Dwiyanto, serta mempersilahkan Rafael David, salah seorang prinsipal Aboday dan founder dari kompetisi ini, memberikan sambutan.

“Acara kompetisi yang dilaksanakan oleh kerjasama antara Aboday dan Arsitektur UPH ini merupakan salah satu program Corporate Social Responsibility dari Aboday,” ujar Rafael, “Aboday ingin memberikan suatu sumbangan yang diterjemahkan secara edukatif. Gagasan ini ditanggapi oleh David Hutama selaku Ketua Jurusan Arsitektur UPH dengan mengadakannya setiap tahun.”

Rafael memberikan beberapa catatan penting. Ia menyebutkan, salah satu kesulitan pada sayembara ini adalah topik yang sangat spesifik sehingga jumlah pesertanya menurun. Namun, ia menilai bahwa kualitas peserta tidak kalah dari tahun lalu. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa hasil kompetisi ini menunjukkan kualitas pendidikan arsitektur di Indonesia yang semakin merata. Jumlah finalis dari luar Jakarta-Bandung meningkat banyak dibandingkan tahun lalu.

Kata sambutan dari Rafael David

Kata sambutan dari Rafael David.

 

“Arah tren pendidikan sangat dibantu oleh banyak hal, termasuk keterbukaan media informasi dan sebagainya. Ini dapat membuat Indonesia menjadi lebih baik sebagai satu bagian dalam perkembangan praktik arsitektur di dunia ke depan,” katanya.

Selanjutnya kelima finalis mempresentasikan karya mereka dengan urutan sebagai berikut: Reni Dwi Rahayu (Universitas Brawijaya, Malang), Firdiansyah Fathoni (Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya), Angga Dwi Susilohadi (Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya), Evelyn Witono Putri (Universitas Tarumanegara, Jakarta), dan Hikmatyar Abdul Aziz (Universitas Sebelas Maret, Solo).

 

Reni Dwi Rahayu: Smell Ended Village

Reni, finalis dari Universitas Brawijaya, Malang, mengangkat industri terasi di desa Ngaglik, Tuban, Jawa Timur. Para penduduk di desa ini biasa mengolah terasi di rumah masing-masing dan di ruang-ruang terbuka—terutama untuk tempat menjemur udang rebon basah (bahan dasar terasi). Kondisi ini menimbulkan bau yang tak sedap, membuat tingkat sanitasi memburuk, dan menurunkan kualitas produk yang dibuat. Selain itu, ruang-ruang produksi yang tidak tertata dengan teratur, menyebabkan kurangnya integrasi antara produsen utama dan penunjang.

Reni menawarkan solusi dengan mengelompokkan tempat produksi, mulai dari bahan baku udang rebon hingga digiling. Selanjutnya bahan-bahan terasi yang sudah jadi bisa dibawa pulang oleh warga untuk selanjutnya dikemas. Ia membuat massing tempat produksi seperti huruf “F”, untuk memisahkan antara bahan baku kering dan basah. Dengan demikian, sanitasi dapat terjaga.

Bangunan rancangannya dihadapkan pada arah matahari untuk memaksimalkan kualitas penjemuran. Masalah bau yang menyebar pada pemukiman warga ia solusikan dengan roster briket arang karbon aktif pada ventilasi. Material ini membantu dalam menyaring bau. Selain itu juga akan ada penanaman pohon-pohon di sekeliling rumah warga dengan tujuan serupa.

 

Firdiansyah Fathoni: Pasar Kampung Kue Surabaya

Firdiansyah, finalis dari Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, mencoba mengamati industri kue rumahan yang berada di kawasan Kalirungkut, tenggara Surabaya. Letak kawasan itu strategis karena menghubungkan Surabaya dan Sidoardjo. Sekitar 65 keluarga memproduksi kue di kampung ini dan mendistribusikan produknya ke berbagai warung dan pasar di Surabaya. Masalahnya, kue tersebut biasa dijual di luar kampung saja. Ini disebabkan oleh sempitnya akses yang hanya berupa gang sehingga tidak ada tempat untuk bisa berjualan. Sementara ruang sosialisasi warga juga hanya sebatas di ruang-ruang itu saja.

Firdiansyah menggunakan pendekatan berbeda dari Reni. Alih-alih membuat satu sentra produksi, ia membuat modul shelter lipat yang praktis dan dapat diletakkan di depan rumah warga. Shelter ini bisa dibuka dan ditutup sehingga keberadaannya fleksibel sesuai kebutuhan. Selain terdapat meja dan kursi, di shelter ini juga bisa diberi pot-pot tanaman untuk penghijauan dan juga papan nama untuk pengenal tempat berjualan. Fungsinya dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan warga. Shelter lipat ini ia harapkan dapat menjawab kebutuhan warga tanpa harus mengubah ataupun menghilangkan karakteristik dari kampung ini.

 

Angga Dwi Susilohadi: Watu Kuning

Angga, juga dari Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, mengambil lokasi di Kawasan Kedung Kenjeran, Surabaya, yang dekat dengan laut. Mayoritas penduduk di kawasan ini bekerja di bidang pengolahan hasil laut.

Wacana untuk mengembangkan tempat ini sebagai kawasan usaha kreatif untuk hasil-hasil laut sebenarnya sudah ada. Pemerintah membuat rencana penambahan akses jalan raya dan juga stasiun akhir monorel di kawasan ini. Namun, hal ini tidak dapat berjalan maksimal karena warga yang tidak terlalu terbuka, konsentrasi penduduk yang padat pada bibir pantai, dan tidak adanya hal yang unik yang dapat menarik wisatawan. Kegiatan perdagangan hasil laut pada akhirnya lebih sering terjadi di luar kampung.

Solusi yang ditawarkan Angga adalah dengan menata kembali guna lahan. Ia mulai dengan membersihkan kawasan bibir pantai dari rumah-rumah ilegal. Selanjutnya, ia usulkan konsentrasi pemukiman dan pembukaan akses. Bagian pinggir pantai yang sudah bersih dibuatkan dermaga untuk memudahkan nelayan dan wisatawan berlabuh. Selain itu, sepanjang garis pantai juga digunakan untuk tempat jemur hasil laut yang didapat para nelayan, sehingga dapat dinikmati juga oleh pengunjung. Elemen watu kuning, atau batu-batu berwarna kuning, disusun sepanjang jalan-jalan tepi pantai sehingga menjadi elemen penarik perhatian. Warna kuning sendiri diambil karena mencolok secara visual dan disukai oleh lingkup komunitas Madura.

 

Evelyn Witono Putri: Re-Imaji Pasar Loak di Kawasan Poncol

Evelyn, finalis dari Universitas Tarumanegara, Jakarta, memilih kawasan pasar loak Poncol, Senen, Jakarta. Kondisi area ini ramai oleh kios-kios pedagang kecil yang berada di sepanjang sungai. Di sana, terdapat juga permukiman dan industri kecil di rumah dua lantai. Selain itu, ada area milik swasta yang disewakan dan menjadi lahan untuk parkir pada kawasan ini.

Evelyn melihat beberapa permasalahan yang ada di tapak ini: kemacetan, banjir, kriminalitas, kondisi kios yang sudah memprihatinkan, dan sirkulasi yang semrawut. Gagasan Re-Imaji diambil oleh Evelyn untuk mengubah citra kawasan ini, dari konotasi yang buruk menjadi citra baru yang lebih baik.

Berbagai program dimasukkan ke dalam kawasan ini, antara lain: workshop barang bekas, panggung rakyat, taman jajan, kios pedagang, kantor pengelola, dan tempat servis. Program-program ini dikomposisikan berdasarkan proses eksperimen menggunakan abstraksi material sekumpulan sekrup yang membentuk jalur pedestrian di sepanjang dan bagian atas sungai. Kios-kios yang tadinya terletak di jalan Kalibaru Barat sebagian besar direlokasi ke dalam tapak kios baru yang letaknya di area milik swasta, terutama untuk kios-kios dengan komoditas alat berat. 

 

Hikmatyar Abdul Azis: Grow Up

Hikmatyar dari Universitas Sebelas Maret, Solo, memilih tapak di Kampung Code, Yogyakarta.  Kampung Code pernah ditata oleh Y.B. Mangunwijaya, dan mendapatkan penghargaan Aga Khan Award for Architecture tahun 1992 . Setelah Mangunwijaya wafat, permasalahan pada pemukiman ini semakin kompleks. Hikmatyar menilai, keadaan kampung yang tidak tertata membuat potensi pada industri-industri rumahan seperti industri kerajinan dari barang dan ban bekas, makanan kecil, dan juga seniman-seniman tidak dapat berkembang.

Melihat permasalahan itu, ia melihat perlunya penataan lingkungan. Ia usulkan untuk memusatkan industri rumahan ke bagian utara kawasan yang memiliki daya tarik dan akses yang lebih mudah untuk orang dari luar kawasan ini. Pusat ini menjadi cikal bakal ruang publik yang menjadi fasilitas dan urban plaza. 

Hikmatyar membagi zona publik dan privat sehingga warga masih mendapatkan privasinya. Detail arsitektur dibuat dengan mempertahankan bentuk arsitektur khas Romo Mangun. Terdapat tiga macam tipe bangunan: hunian, bale budaya, dan pasar industri. Hunian dibuat dua lantai dengan ruang kreatif di lantai dasar yang bisa terbuka ataupun tertutup. Bale budaya juga dibuat dua lantai; bagian bawahnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan seperti latihan tari dan musik, sementara bagian atas digunakan untk edukasi berupa perpustakaan. Bangunan pasar industri dibuat dengan modul 3x3, sebagai area pamer produk industri dan transaksi jual beli. Modul-modul ini dapat dikombinasikan menjadi suatu kumpulan kios-kios yang ditata secara efektf.

 

Dan pemenangnya adalah...

Pukul 17:00, semua finalis selesai mempresentasikan karya mereka. Para juri pindah ruang untuk merundingkan siapa pemenangnya. Sementara itu, Rafael memberikan apreasiasi untuk kerja keras para finalis, terutama untuk penyajian presentasi mereka yang sepenuhnya menggunakan video. Rafael menyebutkan bahwa ia sebetulnya memaksudkan format video hanya untuk penyajian observasi tapak. Rupanya, seluruh finalis hari itu berinisiatif lebih jauh.

Setengah jam kemudian, para juri selesai berunding. Agung, salah satu juri, mengantar dengan menceritakan bagaimana topik Arsitektur Rimpang bermula. Ketika bertemu dengan Ary setahun lalu di lobi hotel Semarang, Ary meminta ide topik kompetisi. Spontan, Agung mengusulkan topik industri rumahan. Menurutnya banyak kota-kota di Indonesia yang melakukan integrasi seperti ini. Apalagi, problem dan potensi yang muncul akibat industri rumahan punya dampak besar pada kota.

 

Agung Dwiyanto, menceritakan bagaimana topik Arsitektur Rimpang bermula. 

Rupanya topik itu betulan dipilih. Ia sendiri mengakui bahwa TOR yang diberikan agak sulit. “Saya berkali-kali baca dan ndak mudeng-mudeng gitu,” ujarnya. Namun, ia memberikan apresiasi pada para finalis yang dengan jeli menguraikan topik ini. Menurutnya, para finalis telah memberikan jawaban yang baik atas permasalahan yang mereka angkat dari setiap tapak.

Dewan juri memilih pemenang dengan dua kriteria: desain yang komprehensif dalam menjawab TOR dan desain yang aplikatif dalam pemecahan masalah. Reni Dwi Rahayu, dengan karyanya Smell-Ended Village, terpilih sebagai pemenang pertama. Firdiansyah Fathoni dengan karya berjudul Pasar Kampung Kue Surabaya terpilih sebagai pemenang kedua.

Selamat untuk kedua pemenang. Selamat menikmati negeri Sakura!

 Baca juga: Arsitektur Rimpang dan Jebakan-jebakannya



comments powered by Disqus
 

Login dahulu