Liputan Tropicality: Revisited

12 Karya Arsitek Indonesia sebagai representasi arsitektur tropis pada di Deutsches ArchitektMuseum, Frankfurt

Author

Foto oleh Reza Mahdi

Tim kurator berserta para arsitek dan pihak yang mendukung

“Arsitektur, bagi beberapa orang adalah ilmu mendirikan bangunan yang indah. Namun, Arsitektur juga merupakan sebuah kebudayaan yang terus berevolusi dari waktu ke waktu. Kita dapat melihatnya dari rumah Joglo di Jogja, atap Minangkabau di Sumatera Barat, rumah zaman kolonial hingga bentuk rumah di zaman modern saat ini.” Hal tersebut disampaikan oleh Setiadi Sopandi sebagai salah satu kurator pameran Tropicality: Revisited, Recent Approaches by Indonesian Architects.

Pameran Tropicality: Revisited merupakan bagian dari rangkaian acara Indonesia menjadi tamu kehormatan (guest of honour) pada Frankfurt Book Fair 2015. Pameran yang diadakan di Deutches Arktitektur Museum (DAM) berlangsung sejak tanggal 29 Agustus 2015 – 17 Januari 2016.  

Foto oleh Reza Mahdi

Pengunjung menyimak salah satu display pameran

Tropicality:Revisited dibuka pada tanggal 28 Agustus 2015 oleh Fauzi Bowo yang berperan sebagai duta besar Indonesia di Jerman. Pada pembukaan, direktur DAM Peter Cachola Schmal yang juga berperan sebagai kurator turut memberi sambutan. Sebelum pengunjung dapat menikmati pameran yang terletak di lantai 3 DAM, Avianti Armand dan Setiadi Sopandi sebagai kurator memanggil 8 dari 12 arsitek peserta pameran, untuk maju ke panggung.

Ruang pamer pada hari pembukaan dipadati oleh sebagain besar warga Jerman. Pada saat itu saya berpikir, apa yang menyebabkan ide-ide arsitek Indonesia menjadi begitu menarik bagi publik Jerman? Indonesia dan Jerman jelas memiliki iklim yang berbeda. Di Jerman, musim panas hanya berlangsung selama 3 bulan sementara di Indonesia matahari bersinar sepanjang tahun dengan waktu yang sama, sejak pukul 6 pagi sampai 6 petang.

Pesona pameran Tropicality:Revisited tidak hanya terfokus kepada desain dan bentuk bangunan. Pada pameran ini pengunjung dapat melihat bagaimana arsitek mencari solusi untuk memecahkan permasalahan iklim tropis Indonesia dengan menggabungkan kembali ilmu arsitektur modern dengan nilai nilai kebudayaan lokal.

 

Foto oleh Reza Mahdi

Garis Hitam sebagai penanda timeline beserta sejarah teori tropikal

Untuk menyampaikan pesan tersebut, Avianti Armand dan Setiadi Sopandi membagi pameran menjadi dua bagian. Bagian pertama Tropicality menjelaskan bagaimana asal mula munculnya arsitektur tropis. Dengan menggunakan history timeline, yang dimulai sejak abad ke 18 sampai 2015, dipaparkan bagaimana isu tropikalitas di Indonesia dan di dunia. Di Indonesia, timeline diawali oleh perjumpaan koloni orang Eropa dengan iklim Indonesia yang jauh berbeda dengan belahan bumi utara. Penelitian Setiadi Sopandi menjelaskan bagaimana orang Eropa berusaha untuk mempelajari bentuk bangunan penduduk setempat (arsitektur vernakular). Selain itu, orang Eropa pun memberikan nilai-nilai dan wawasan baru yang juga diserap oleh kebudayaan Indonesia hingga sekarang. Perkawinan dua budaya arsitektur ini dapat kita lihat dari bentuk arsitektur zaman kolonial dengan ciri khas atap yang tinggi, zoning ruang dan ventilasi untuk menjaga kenyamanan di dalam ruangan.

Seiring berkembangnya teknologi, dan perkembangan arsitektur modern, desain arsitektur tropis semakin ditinggal. Bentuk arsitektur modern dengan slogan utama “less is more” menjadi sebuah gaya yang universal. Iklim dan cuaca tidak lagi menjadi bahan pertimbangan arsitek karena kenyamanan ruangan dapat diselesaikan dengan air conditioner. Dengan jumlah populasi penduduk Indonesia dan ketergantungan desain terhadap AC mengakibatkan perkembangan yang tidak sustainable dan berdampak buruk bagi pemanasan global.

Dengan munculnya kesadaran masyarakat akan bahaya dari pemanasan global, dan dampaknya yang dapat dirasakan secara langsung melalui meningkatnya temperatur, pola pikir arsitek pun kian berubah. Sustainable design menjadi sebuah tren. Dalam konteks jaman tersebut, 43 arsitek mengajukan total 86 karya untuk dapat dikurasi pada pameran Tropicality:Revisited.  Dari seluruh karya tersebut, terpilih 12 proyek dari 12 arsitek.

Ke-12 proyek ini menjadi bagian kedua pameran: Case Study . Melalui studi kasus 12 proyek tersebut, kita dapat melihat bagaimana 12 arsitek Indonesia mengadapi iklim tropis dengan konsepnya masing-masing. Pendekatan yang dilakukan oleh tiap arsitek memiliki ciri khas tersendiri.

Case Studies-12 Arsitek Indonesia menanggapi iklim tropis Indonesia

Karya studio Akanoma (Yu Sing dan Kristoporus Primeloka), berjudul Rumah Kayu Ciledug menawarkan konsep rumah low-budget dengan tapak yang kecil. Kristoporus menyatukan beberapa ruang menjadi satu ruang serba guna (ruang keluarga, dapur, ruang tamu, dan ruang belajar). Ruang serba guna ini memiliki ventilasi udara alami dan menjadi tempat berkumpul keluarga. Material yang dipilih rumah ini menggunakan kayu daur ulang karena lebih murah dan tidak mengundang rayap karena kayu sudah kering. Kristoporus menjelaskan pada pembukaan pameran bahwa mereka pun menanam pohon apel. Pohon apel pada halaman rumah berfungsi untuk menarik semut yang juga adalah predator alami rayap.

 

Ruang Keluarga di rumah Kayu Ciledug

Foto oleh Paul Kadarisman

Eko Prawoto memiliki pendekatan yang lebih natural, sosial, dan sadar akan konteks tapak. Ia menekankan bahwa alam bukan saja sebagai sumber daya, namun juga sebagai makhluk hidup yang perlu dijaga dan dihormati.  Karya yang ditampilkan adalah rumahnya sendiri yang sudah berumur 30 tahun. Ruangan-ruang di dalam rumah tidak didefenisikan berdasarkan fungsi, namun suasana, aktifitas, dan emosi yang ingin didapatkan pada saat menggunakan ruang tersebut. Material yang ia gunakan adalah material daur ulang dan bekas. Selain halaman yang besar, Eko Prawoto membiarkan pohon yang cukup besar tumbuh di tengah ruang keluarga. Walaupun pohon tersebut mengakibatkan air hujan yang membasahi furnitur, namun membuat rumah ini terkesan natural dan bersatu dengan alam.

 

Ruang Keluarga di rumah Eko Prawoto

Foto oleh Paul Kadarisman

Apabila arsitek-arsitek sebelumnya menekankan pada material daur ulang dan konsep ruang yang fleksibel, Effan dari EFF studio Bali menampilkan karya-karya yang menggunakan material bambu. Almarik Restaurant, Lombok, menjadi salah satu karya yang cukup menarik untuk pengunjung Jerman karena material tersebut jarang sekali digunakan di belahan dunia utara. Effan menjelaskan bagaimana awalnya ia bermaksud untuk mengurangi budget konstruksi dengan mengganti material baja ringan dengan bambu. Konsep penggunaan material bambu, dan detail pekerjaannya bukanlah sesuatu yang diberikan sebagai kurikulum kuliah di Jerman maupun di Indonesia. Pengetahuan yang didapat dari pengetahuan lokal menunjukkan betapa kaya pengetahuan lokal Indonesia dalam bidang konstruksi.

Selain pemilihan material, proyek lainnya pun beragam. Achmad Tardiyana dengan karya “Rumah Baca” menekankan kepada konteks sosial dimana seluruh lantai dasar rumahnya dibuat sebagai taman baca bagi tetangganya. Karya lainnya menampilkan fungsi yang berbeda. Contoh Masjid Baiturahman, desa Kopeng, Slemang, Yogyakarta yang dibangun untuk membantu korban meletus gunung Merapi beberapa tahun yang silam. Adapula ‘Misbar’ atau Gerimis Bubar, yang merupakan bioskop layar tancap yang dihidupkan kembali dari nilai tradisional ke dalam bangunan non-permanen. Konsep open air teater menumbuhkan kembali nilai nilai adat tradisional untuk berkumpul dan menggunakan ruang publik untuk berkarya.

Namun dari semua karya yang ditampilkan, kurator menjelaskan bahwa semua studi kasus yang ditampilkan bukanlah karya yang sepenuhnya sempurna. Kedua belas karaya ini bukanlah solusi untuk menjawab problematik pemanasan global ataupun menjadi identitas arsitektur tropis Indonesia. Beberapa studi kasus masih bermasalah dengan nyamuk, dan beberapa masih bergantung pada air conditioner atau alat lainnya. Kedua belas karya ini menunjukkan jalur dan arah arsitektur Indonesia saat ini. History timeline yang ditampilkan pada pameran ini akan terus berlanjut, berubah bentuk, dan fasad akan terus berubah-ubah. Namun untuk arsitektur Indonesia terus maju, kita tidak boleh melupakan identitas atau kebudayaan Indonesia. Sesekali, kita perlu mendelik dan melihat kembali sejarah arsitektur tropis Indonesia, dan menjadikannya sebagai basis berkarya.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu