Memoar Prof Eko

Pendirian, dedikasi, dan keseharian Eko Budiharjo dalam ingatan koleganya.

Author
Eko Budiharjo ketika menjadi pembicara di peluncuran dan bedah buku "Kagunan". (foto: Evawani Ellisa)

9 Juni 2014, Eko Budihardjo merayakan ulang tahunnya yang ke-70, bersamaan dengan paripurna bhakti-nya di Universitas Diponegoro, Semarang. Tak lama setelah itu, 22 Juli 2014, ia meninggalkan dunia arsitektur dan perkotaan Indonesia untuk selamanya—kepergian yang terlalu cepat bagi sahabat, kolega, dan anak didiknya.

Mengenalkan arsitektur

Prof Eko—begitu ia kerap disapa—adalah begawan arsitektur perkotaan. Sumbangsih utamanya bagi perkembangan arsitektur di Indonesia adalah pengenalan arsitektur kepada masyarakat, yang ia lakukan sejak sebagian masyarakat masih mengenal aanemer sebagai kontraktor dan profesi arsitek sebagai perancang bangunan masih awam dikenal.

Ketika arsitek lain sibuk menggarap proyek-proyek perancangan, ia rajin menulis tentang arsitektur perkotaan dan permukiman di berbagai surat kabar berskala nasional maupun regional. Sinyalemennya tentang arsitektur kota yang tunggal rupa membuat isu “identitas” dan “jati diri” dalam berarsitektur mengemuka di Indonesia. Bersama beberapa arsitek, ia membidani lahirnya gagasan “arsitektur berwawasan jati diri” yang kemudian menjadi jargon program pembangunan di Jawa Tengah pada era Gubernur Muhammad Ismail (1983-1993). Penghargaan Upanyasa Bhakti Upapradana tahun 1989 merupakan bukti dedikasinya pada pengembangan arsitektur di Jawa Tengah.

Ia meraih gelar master di bidang town planning dari University of Wales Institute of Science & Technology di Cardiff (1978), beberapa tahun setelah setiap kota diwajibkan memiliki master plan. Perhatiannya pada kaum papa dan pemukiman kumuh di kota terlihat sejak ia berpartisipasi dalam Workshop Bouwcentrum  (1981) tentang permukiman bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Ia juga menekuni bidang lanskap, terutama sejak ia menggantikan perkuliahan koleganya yang berpindah kampus selama tahun 1970-1975. Kecintaannya pada lanskap muncul kembali ketika membuat rancangan kediamannya, tahun 2006. Pada rumahnya itu, ia membuat gagasan bermukim di tengah taman yang dikombinasikan dengan arsitektur Jawa, Bali, dan Jepang. Kritiknya tentang “bunuh diri arsitektur” ia lontarkan ketika Taman Menteri Supeno (Taman KB), taman kota di sebelah kantor gubernur Jawa Tengah, hendak dirombak menjadi bangunan bertingkat (1998). Keberhasilannya mempertahankan taman itu membuatnya dapat Penghargaan Kalpataru tahun 1998.

Sebagian sikap kritisnya pada dekade 1980-1990 mungkin dipengaruhi konsep both/and (tetapi-juga). Misalnya, konsep membangun (tetapi-juga) tanpa menggusur yang ia aplikasikan pada Rumah Susun Pekunden Semarang (1991).

Prinsip tetapi-juga yang ia wujudkan sebagai professional brotherhood menjadi solusi alternatif untuk menghadapi batu karang permasalahan, terutama terkait dengan birokrasi pemerintahan. Professional brotherhood berakar pada prinsip sebelumnya Willem Ortano, singkatan dari dijawil gelem ora tau nolak atau selalu siap apabila diajak bekerjasama, yang ia bawa dari masa perkuliahan di kampus Bulaksumur.

Dalam upaya melestarikan Benteng Vastenbrug yang akan disulap menjadi mall (1985), ia melihat perlunya penerapan prinsip tersebut: mempertahankan bangunan, tetapi-juga memasukkan fungsi baru.

Sungguh tepat beliau didaulat sebagai Ketua Dewan Penasehat Arsitektur dan Pembangunan Perkotaan Semarang (1994). Ia adalah penjembatan perbedaan-perbedaan pendapat dan penyelaras yang handal, yang tak tergantikan hingga wafatnya.

Memelopori pelestarian bangunan kuno

Upaya pelestarian bangunan kuno sering dipandang sebelah mata di kalangan arsitek. Namun, keprihatinan Prof Eko terhadap pelestarian bangunan kuno sebetulnya sangat mendasar. Menurutnya, “kota tanpa bangunan kuno ibarat orang tanpa ingatan.

Ia berkali-kali menyuarakan pelestarian bangunan. Ia merespons perobohan bangunan Rumah Setan La Constance et Fidle (1801) di Pendrikan Semarang sekitar tahun 1974, yang pernah menjadi tempat ibadah kaum Freemason, dengan menekankan bahwa pelestarian bangunan yang dibangun pada masa kolonial tidak berarti melanggengkan karya kolonial.

Ia juga menyatakan kritiknya pada perobohan Stasiun Sentral Jurnatan yang dibangun oleh Semarang Joana Stoomtram-Maatschappij pada tahun 1913. Setelah difungsikan sebagai Terminal Bus Bubakan pada tahun 1974, bangunan itu dirobohkan pada tahun 1982 dan digantikan kompleks Pertokoan Bubakan.

Beberapa bulan sebelum UU No.5 Tahun 1992 Benda Cagar Budaya terbit, ia membuat daftar 101 bangunan kuno di Semarang yang harus dikonservasi dalam SK. Walikota Semarang No. 646/50/1992. Kebetulan, Soetrisno Suharto, Walikota Semarang saat itu, getol menata taman kota, sampai-sampai muncul istilah wagiman, walikota gila taman.

Contoh lain adalah penanganan lahan bekas bangunan kuno seperti Pendopo Kanjengan yang terlanjur dipindahkan ke Gunung Talang dan kemudian roboh bercerai-berai. Menurutnya, penanganan tersebut tidak boleh dilakukan secara terpotong-potong, atau seperti loncatan katak, melainkanharus secara menyeluruh (1996). Kritik tajamnya juga terlontar ketika taman di timur Banjirkanal Barat berkurang dan berubah fungsi.

Perjuangan terakhirnya di bidang pelestarian dilakukan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang yang mampu menghentikan sementara (2012) proses perobohan bangunan Pasar Bulu (1954) dengan upaya melakukan re-desain. Beradu cepat dengan proses pembongkarannya, Pasar Bulu yang didesain dengan semangat menghargai pilar-pilar cendawan Pasar Djohar (1933) karya Thomas Karsten sayangnya roboh juga, mengikuti robohnya slachthuis (rumah pemotongan hewan) karya Thomas Karsten (1925) setelah tahun 1995.

Menghargai kreativitas dan kekhasan

Sepulangnya meraih master dengan tesis tentang arsitektur Bali, ia menjadi mentor pada periode ujian sarjana yang diketuai Profesor Sidharta. Ia sepakat menggabungkan dua judul sinopsis Tugas Akhir yang saya ajukan: Pengembangan Pusat Desa Adat Tradisional Pejeng Bali, dan Perancangan Museum Purbakala (1978). Hebatnya, dalam sidang wawancara desain, dari 15 dosen penguji, beliau justru tidak mengajukan pertanyaan.

Dalam sidang peer-group menjelang pengukuhan guru besar tahun 2007, Eko mengusulkan agar orasi saya tentang potensi arsitektur lokal ditulis dengan free hand dantidak menggunakan bantuan komputer, sebagai penghargaan terhadap potensi (kekhasan karakter tulisan yang dimiliki) seseorang. Andaikan terlaksana, itu akan menjadi satu-satunya teks orasi guru besar dengan tulisan tangan.

Selain mencintai dunia tulisan, Prof Eko juga kerap menekankan pentingnya gambar. Gambar arsitektural, baginya, harus informatif bagi pemerhatinya. ia juga tidak segan-segan mengharuskan mahasiswa bimbingannya untuk selalu melengkapi dengan ilustrasi grafis penjelas sebagai kekhasan penyajian di bidang arsitektur.

Kepercayaan berkreasi diberikan Prof Eko sepenuhnya, seperti ketika ia meminta saya mendesain cover buku karya awalnya Menuju Arsitektur Indonesia (1983), Arsitektur dan Kota di Indonesia (1984), dan Sejumlah Masalah Permukiman Kota (1984); merekonstruksi bangunan kuno Gerbang Paldam kini DP Mall (1993); mengembangkan alternatif desain Masjid Kampus Undip (2005); merancang kediamannya di Telaga Bodas (2006); mendekorasi panggung purna bhakti Rektor Undip (2006); hingga menulis kartu undangan Peringatan 40 Tahun Pernikahan (8 April 2013), dan Paripurna Bhakti (9 Juni 2014) yang dikerjakan dengan manual.

Buku Menuju Arsitektur Indonesia (1983) (Foto: Yohanes Dimas)

Kebiasaan dan kesibukan

Kalimat “doa mendoakan yang terbaik” selalu menyertai berbagai sms Prof Eko sebelum berpulang.

Ia juga senang berpuisi. Sulit menebak kapan tepatnya ia mulai berpuisi. Mungkin setelah penyair Darmanto Jatman menuliskan puisi tentang Omah pada seminar yang diprakarsainya tahun 1984, atau setelah pengukuhannya sebagai guru besar tahun 1990. Mungkin juga setelah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah tahun 1993. Kemampuannya menghafal teks-teks puisi yang ia gemari—terutama yang jenaka—sangatlah mengagumkan, dan selalu ditunggu di setiap akhir ceramahnya.

Setiap bepergian ke luar negeri, Prof Eko selalu membawakan oleh-oleh berupa buku baru untuk koleksi perpustakaan. Kesibukannya setelah paripurna bhakti, bukannya berkurang, malah semakin padat. Perihal itu bisa ditelusuri dari kompilasi sms yang berisi izin berpamitan meninggalkan kampus yang dikirimkannya setiap memulai serangkaian kegiatan. Dapat dipastikan kebiasaan menuliskan catatan-catatan jadwal kegiatannya dengan tulisan kecil-kecil semakin memenuhi buku hariannya.

Di tengah-tengah kesibukannya, Prof Eko masih rajin berada di jurusan. Kebetulan ruang kerja beliau bersebelahan dengan ruang saya, sehingga tawa dan candanya kepada teman bicara via ponsel terdengar jelas. Sesekali dosen-dosen yang dibimbingnya diingatkan untuk segera menyelesaikan disertasi. Sosok seorang begawan yang terlihat ringkih berubah menjadi sangat tegar ketika berada di atas mimbar.

Itu sebagian kenangan saya tentangnya. Selamat jalan mahaguru.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu