Mengenal Lina Bo Bardi

Pameran tentang seorang arsitek Brasil diadakan di Jakarta. Ringkas dalam isi, jitu dalam kemasan.

Author

Akhir pekan lalu saya melihat sketsa-sketsa Lina Bo Bardi untuk pertama kali. Sekitar tiga puluh dijejer rapi di dinding dan di atas meja ruang pamer sebuah galeri di bilangan Kemang. Tidak seperti gambar-gambar arsitektural yang biasanya “wah” dalam bentuk, sketsa-sketsanya berfokus pada figur manusia dalam berbagai aktivitas. Sebagian tampak seperti kolase yang menggado-gadokan benda dan manusia, beberapa lagi malah terlihat seperti gambar anak-anak dengan warna yang macam-macam dan garis yang tidak lurus tegas. Ruang, dalam bayangan sketsa-sketsa itu, menjadi latar yang tidak lebih penting dari hal-hal yang mengisinya.

Sketsa-sketsa tersebut dipamerkan sebagai bagian dari acara Lina Bo Bardi: Architecture and Design yang dikurasi oleh Danny Wicaksono, Laura Miotto, dan Savina Nicolini. Acara itu diadakan di Dia.Lo.Gue Kemang, Jakarta, 28-30 November 2014, untuk merayakan seabad kursi Bowl Chair karya Lina Bo Bardi. Selain pameran yang menampilkan gambar-gambar dan juga kursi karyanya itu, diadakan juga presentasi oleh para kurator dan diskusi yang mengulas pandangan-pandangan arsitektural Lina Bo Bardi oleh Hikmat Subarkah, Adi Purnomo, dan Eko Prawoto.

Nama Lina mungkin tidak setenar Oscar Niemeyer atau Paulo Mendes da Rocha, dua arsitek legendaris Brasil peraih Pritzker Prize. Tetapi Lina punya ceritanya sendiri yang membuatnya dekat dengan masyarakat Brasil.

Lina merupakan arsitek berdarah Italia. Ia lahir di Roma pada 1914 dan lulus dari Rome School of Architecture tahun 1939. Ia sempat bekerja dengan Carlo Pagani di Milan sebelum menikah pada tahun 1946 dengan Pietro Maria Bardi, seorang jurnalis dan kritikus seni. Pada tahun yang sama, mereka melakukan perjalanan ke Rio, Brasil, sebuah kota yang meninggalkan kesan mendalam pada pemikiran kreatifnya. Ia jatuh cinta dengan kebudayaan dan seninya, lalu akhirnya memilih menjadi warga negara Brasil, tahun 1950, bersamaan dengan berdirinya karya pertamanya, Glass House—tempat tinggalnya yang juga tempat ia meninggal pada 1992.

Di Brasil lah Lina produktif berkarya. Beberapa bangunan karyanya yang terkenal selain Glass House adalah Sao Paolo Museum of Art dan Sesc Pompeia. Selain merancang bangunan, Lina juga merancang macam-macam hal, dari urusan furnitur hingga fesyen. Ia kerap terlibat juga dalam pembuatan teater dan film.

Apa yang membuat Lina berbeda bukanlah keistimewaan bentuk, melainkan justru “ketidakistimewaan” gagasan-gagasan desainnya. Ia, kata Adi Purnomo dalam diskusi pada Sabtu, 29 November itu, mengombinasikan hal-hal yang tampaknya sederhana dan sehari-hari dalam masyarakat untuk menciptakan hubungan timbal balik antara masyarakat dan karyanya. Dalam sketsa-sketsanya, ia selalu menonjolkan aktivitas manusia dan hubungan elemen-elemen alami yang terjadi di dalamnya. Kursi bowl chair miliknya bahkan berangkat dari sebuah ide dan pengamatan merakyat yang sederhana tentang penggunaan tempat tidur gantung dalam keseharian masyarakat Brasil, yang menjadi tempat untuk duduk, makan, bercakap-cakap, hingga tidur.

Lina juga memiliki keberpihakan yang tegas pada kalangan sosial masyarakat bawah. Salah satu contohnya, yang disoroti oleh Eko Prawoto, adalah ketika Lina menuliskan kegelisahannya tentang isu craftsmanship yang berangsur hilang karena tertelan arus modernisme dan industrialisasi. Padahal, keistimewaan seni dari setiap daerah bisa dilihat dari keterampilan asli masyarakatnya, yang sederhana tetapi sebenarnya istimewa. Apabila tidak dirawat baik-baik, mereka akan dilupakan dan identitas budaya setempat bisa saja hilang.

Ia mencari jalan keluar dengan mengintegrasikan modernisme dan nilai craftsmanship setempat dalam karya-karyanya. Hal itu ia terapkan, misalnya, pada penggunaan material beton daur ulang di bangunan Sesc Pompeia, yang dikerjakan bersama-sama dengan masyarakat, diukir dan dibentuk oleh tangan mereka sendiri. Bangunan tersebut akhirnya menyimpan memori tentang bagaimana Lina dengan tegas lebih memilih teknik pengerjaan yang merakyat. Ia melakukannya bersama masyarakat setempat dan dengan keterampilan lokal mereka.

Tetapi, yang paling menarik dari Lina barangkali adalah ketegangan yang selalu muncul di karya-karyanya di antara dua unsur yang berlawanan. Di tengah arus industrialisasi dan munculnya material-material seragam, ia terus berusaha memasukkan unsur kebudayaan masyarakat setempat Brasil, yang sering ia sebut dengan popular art. Di setiap kekerasan dan ketegasan bentuk bangunannya, ia tak lupa memperhatikan detail-detail kecil yang halus, seperti coakan jendela pada Sesc Pompeia yang dilengkapi partisi merah di belakangnya.

Lina Bo Bardi: Architecture and Design berhasil menyampaikan spirit-spirit Lina tersebut dalam penyampaian yang sederhana tetapi jitu. Sketsa-sketsanya ditampilkan dengan sederhana, tanpa banyak embel-embel. Selain sketsa, ada juga video berisi foto-foto karyanya yang diputar terus menerus dalam sebuah ruang kecil yang remang dan dingin tanpa suara. Di setiap adegannya selalu ada interaksi manusia dengan arsitekturnya, entah sedang berjalan, duduk membaca koran, atau mobil-mobil berseliweran. Ditemani dengan sofa yang empuk, ruang itu menjadi tempat yang pas untuk sebuah perenungan di hari yang dingin-dingin sejuk.

Kursi bowl chair-nya yang bebas dicoba-coba di sudut ruang juga menarik minat banyak pengunjung. Selain untuk duduk, kursi tersebut memancing banyak tafsir dalam mengeksplorasi fungsinya: entah dimiringkan menjadi tempat tidur, dibalik menjadi meja kecil, atau diputar menjadi naungan. Interaksi tersebut memperkaya pengalaman menikmati pameran ini.

Dengan waktu penyelenggaraan yang singkat dan materi yang ringkas, acara ini berhasil membuat para audiens tertarik untuk berkenalan dengan arsitek dari belahan dunia yang nan jauh di sana. Sebuah sajian ringan tapi bermutu di akhir pekan.

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu