Ode Untuk Sang “Arsitek Tak Berbakat”

Liputan Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit di Surabaya.

Author

Harjono Sigit punya banyak hal untuk dikenal. Sebagai arsitek, ia mewujudkan puluhan karya terbangun dengan berbagai eksperimen struktur yang tak biasa pada masanya, seperti pemakaian busur penggantung atap pada Gedung PPS PT. Semen Indonesia dan penggunaan bentuk hypar pada atap lobi Pasar Atum Surabaya. Sebagai akademisi, ia ikut mendirikan Fakultas Teknik Arsitektur di Insitut Teknologi Sepuluh November, penyelenggara pendidikan arsitektur pertama di Surabaya, dan pernah menjadi rektor ITS pada 1978-1982. Sebagai tokoh, ia cucu dari Oemar Said Tjokroaminoto dan ayah dari Maia Estianty—hal terakhir ini, ia akui, lebih bikin ia dikenal orang ketimbang praktiknya sebagai arsitek.

Namun, yang menjadikan Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit, 8-15 Mei 2015 di Wisma Jerman, Surabaya, memikat, selain kerja dokumentasi yang gigih untuk mengangkat praktik arsitekturnya yang tak banyak diketahui bahkan oleh warga kota Surabaya sendiri, adalah kenakalan kurator pameran untuk tidak sekadar mengangkat topi pada deretan prestasinya. Pameran ini justru hendak menyoroti pergeseran fungsi dan makna ruang yang semula digariskan pada karya-karyanya, suatu upaya pembacaan kritis yang membuat pameran ini tidak hanya menjadi glorifikasi sosok Harjono Sigit semata.

“Yang bonek dan banal,” kata Ayos Purwoaji, kurator pameran, dalam catatan kuratorialnya, “yang barangkali tidak penting untuk dicatat atau juga didokumentasikan. Tapi justru sangat asyik untuk dinikmati sebagai sebuah bagian yang menyatu dalam laku arsitektur sehari-hari.”

Suasana Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit (Foto: Konteks.org)

Masuk ke Ruang Halle Wisma Jerman, pengunjung langsung dihadapkan pada panel kuratorial bertajuk Form Follows Fiasco; bentuk yang mengikuti kekacauan, suatu pelesetan dari diktum arsitektur modern form follows function. Sepenggal kutipan dari Bernard Tschumi tercantum di bawahnya: The aspect of the building that most interested you was the way it engaged with unexpected misuse. Its decay transgressed its anticipated form.

Di balik panel putih itu, empat panel lain menyambut di sisi kiri dan kanan, masing-masing menceritakan satu dari empat karya Harjono yang menjadi chorus pameran. Keempatnya mewakili berbagai tipologi perubahan hasil pengamatan kurator pada karya Harjono: Gedung PPS PT. Semen Indonesia yang hampir tidak berubah semenjak dibangun; Pasar Atum yang berubah sebagian oleh karena penambahan ruang-ruang untuk memaksimalkan luasan area perdagangan; gedung kantor milik PT. Mentras, perusahaan ransum tentara yang sudah mangkrak, yang karena telantar lalu diokupasi tanpa izin oleh usaha mebel; serta Gedung Direksi Perhutani yang sudah dibongkar total digantikan gedung lain berdinding kaca.

Foto-foto karya arsitektur Harjono itu, dari berbagai waktu, disandingkan, disertai maket bangunannya. Pada panel Gedung PT. Mentras, misalnya, terdapat dua pasang foto yang setiap pasangnya diambil dari sudut yang sama tetapi tampak berbeda drastis; pada foto tahun 2006, ruang lantai dasarnya relatif kosong tak terpakai, sementara pada foto tahun 2015, ruang yang sama sudah penuh meja dan kursi milik usaha mebel.

Gedung PT. Mentras, tahun 2006 (Foto: koleksi Murtijas Sulistyowati) dan tahun 2015 (Foto: Wahyu Gunawan)

Tschumi lalu muncul lagi, kali ini dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan di layar TV LCD.

If space is a material thing, does it have boundaries?

Is architecture the concept of space, the space and the definition of space?

If architecture is the art of making space distinct, is it also the art of stating the precise nature of space?

Pertanyaan-pertanyaan yang disadur dari bukunya Question of Spaces itu berganti-ganti dengan cepat seperti serbuan tembakan senapan mesin yang hendak menyasar isi kepala yang melihat. Ia menjadi interlude penghubung bagian utama dengan bagian kedua pameran, yang lebih santai dan lepas. Di bagian kedua, sketsa-sketsa Harjono Sigit disajikan tanpa beban pesan. Gambar kerja salah satu karyanya dipajang di atas meja gambar. Foto-foto lama Harjono sebagai arsitek dan video dokumentasi karya dan wawancara ditampilkan dalam nuansa yang ringan.

Sketsa-sketsa Harjono Sigit yang ditampilkan di pameran (Foto: Konteks.org)

***

Harjono Sigit tidak merasa dirinya pantas dikenal. Bertolak belakang dengan Frederich Silaban yang mengklaim ia bukan arsitek biasa, Harjono berkata sebaliknya: “Saya tidak berbakat menjadi arsitek terkenal, karena bangunan yang saya rancang biasa-biasa saja.” Pernyataan itu sengaja Ayos cantumkan di halaman pertama katalog pameran, seperti buku Rumah Silaban yang mencantumkan kalimat Silaban saat mengajukan pelayanan jasa ke PBB tersebut di halaman depan.

Harjono lahir di Madiun pada 21 September 1939 dan menempuh pendidikan arsitektur di Institut Teknologi Bandung, mulai tahun 1958—satu angkatan dengan Mohammad Danisworo, pendiri Pusat Studi Urban Desain, dan Yuswadi Saliya, salah satu pentolan Atelier Enam—hingga lulus pada 1964. Ia masih mengalami diajar oleh profesor Van Romondt.

“Waktu itu moto yang diajarkan adalah form follows function, aliran arsitektur modern. Profesor Romondt lalu menanamkan ke kami, walaupun form follows function, iklim di Indonesia itu tropis lembab. Jangan menjiplak desain di iklim dingin,” kata Harjono.

Selepas lulus, ia bermaksud tinggal di Surabaya, kota tempat ia sering berlibur semasa kecil. Di Surabaya ketika itu, jasa arsitek dicari-cari. Pada saat bersamaan, Djelantik, rekannya di ITB, mengajaknya masuk ke dalam tim Panitia Pendirian Fakultas Teknik Arsitektur ITS. Kedua peluang itu memantapkan niatnya berkarir di Surabaya, baik sebagai arsitek maupun akademisi.

Karya-karya Harjono, sekalipun ia menyebutnya biasa, sesungguhnya kaya dengan eksperimen struktur yang tak biasa di Indonesia. Namun, Harjono tak malu mengakui, ia kerap mengambil referensi dari arsitek-arsitek modern ternama. Busur penggantung atap pada Gedung PPS PT. Semen Indonesia, misalnya, ia tiru dari desain Le Corbusier, sedangkan atap hypar pada Pasar Atum ia jiplak dari karya Felix Candela.

Atap hypar Pasar Atum (Foto: koleksi Kami Arsitek Jengki)

Ia pun tidak berupaya menyembunyikannya saat diskusi mengenai karyanya diadakan sebagai rangkaian acara dari pameran ini.

 “Gedung Perhutani ini saya lihat orisinil. Apa ada arsitek yang menginspirasi bapak?” tanya seorang audiens.

“Waktu itu memang ada atap yang seperti ini. Ide kotaknya (massa bangunan) dari Le Corbusier, lalu saya beri topi. Atap bangunan seperti ini ada di Jawa Tengah,” jawab Harjono dengan jujur.

Seorang yang lain bertanya, “Yang saya lihat, Anda selalu bermain lembaran beton. Apakah saat itu memang lagi tren bermain lembaran beton atau ada ide-ide yang menginspirasi dari strukturnya?”

“Waktu itu memang bangunan baja belum muncul yang indah, kecuali Eiffel. Yang menginspirasi saya ya beton. Corbu banyak bikin beton. Nervi beton. Candela beton. Oscar Niemeyer beton,” kata Harjono.

Pertanyaan lain menanyakan mengenai anak-anak tangga cantilever beton yang ia gunakan di Kantor PT. Mentras.

Harjono menjawab, “Saat itu memang lagi ngetren.”

Ia memang banyak mengambil referensi dari luar. Namun, ia kerap mengerjakan sendiri kalkulasi strukturnya. Atap hypar di Pasar Atum dan struktur cangkang conoida di Gedung Direksi Perhutani, misalnya, ia hitung sendiri.

“Saya gunakan cara analitis yang dikuliahkan profesor Roosseno (Suryohadikusumo), mengenai bagaimana menghitung momen inersia balok yang tidak persegi. Saya terapkan di sini (struktur cangkang conoida), saya anggap balok tidak persegi, dihitung momen inersianya dan tegangannya. Waktu itu kontraktornya menunjukkan hasilnya pada profesor Roosseno. Profesor Roosseno manggut-manggut,” kata Harjono lalu tertawa.

Selain itu, Harjono juga tidak sekadar menduplikasi mentah-mentah. Ia menerjemahkan referensinya dengan perhitungan yang matang, menempatkan bangunan itu pada konteksnya, menimbang iklim dengan cermat, sambil mewadahi fungsi yang dibutuhkan klien. Busur penggantung atap di PPS PT. Semen Indonesia, misalnya, ia perlukan untuk menciptakan ruang auditorium di dalamnya yang bebas kolom. Lembaran beton vertikal di fasad Gedung Mentras ia miringkan dengan perhitungan derajat menyesuaikan arah cahaya matahari. Ia malah tak segan mengusulkan fungsi tambahan pada klien jika ia rasa penting, seperti pada Pasar Atum yang ia bikin dengan kolam renang di puncaknya untuk tandon air, mengingat pada bangunan pasar memang rentan terjadi kebakaran. Bangunan-bangunan Harjono Sigit, menurut Ayos, sudah teruji waktu. Mereka dirancang dengan ideal dan pernah bekerja dengan baik pada masanya.

***

Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit bermula tanpa bekal dan modal yang meyakinkan.

Ayos, yang alumnus Desain Produk ITS dan bekerja sebagai penulis lepas, tidak tahu-menahu soal Harjono Sigit sebelumnya ketika ia mau mengikuti workshop kurator muda yang diadakan Ruangrupa. Gagasan mengenai pameran Harjono Sigit muncul dari obrolan iseng bersama Rifandi Nugroho, temannya alumnus Arsitektur ITS yang aktif di komunitas Kami Arsitek Jengki. Fandi mengusulkan itu, sebab sosok Harjono memiliki karya-karya yang menarik, tetapi tidak diketahui orang banyak. Kebetulan, pada saat itu arsitek-arsitek muda Surabaya sedang merencanakan perjalanan mengunjungi karya-karya Harjono.

Trip arsitek-arsitek muda Surabaya akhirnya batal karena kesibukan masing-masing, tetapi tekad Ayos untuk mengadakan pameran Harjono Sigit telanjur bulat. Selepas workshop, ia menggandeng Fandi menjadi manajer proyek. Ia juga meminta bantuan teman-teman lain untuk membantu penelitian, dokumentasi, dan kerja grafis. Karena minimnya dana yang tersedia, mereka pun berkomitmen untuk bekerja pro bono.

Namun, mencari data mengenai Harjono Sigit rupanya bukan perkara gampang. Dari penelusuran Ayos, hanya pernah ada satu tesis yang membahas karya Harjono. Pun, pada pertemuan pertama dengan Harjono, mereka hanya mendapatkan sedikit sekali data. Harjono sama sekali tidak memiliki dokumentasi karya-karyanya. Hampir seluruh gambar kerja Harjono sudah tidak ada, termasuk untuk Gedung Direksi Perhutani, karya favoritnya yang sudah dirobohkan. Masalah lainnya, Harjono juga bukan orang yang banyak bercerita.

Gedung Direksi Perhutani, tahun 1972 dan 2015 (Foto: koleksi Kami Arsitek Jengki)

Niat Ayos mencari data dari sumber-sumber lain nihil hasil. “Saya mengulik arsip Kompas dari tahun 1960-an, arsip yang muncul mengenai Harjono Sigit sebagai arsitek sama sekali tidak ada. Adanya ia sebagai rektor ITS, 3-4 berita, dan ia sebagai ayahnya Maia, beberapa kali,” ungkap Ayos.

Tetapi Ayos tidak kehabisan akal. Ia, yang juga menyenangi bidang antropologi, memanfaatkan metode elisitasi—penggalian data dengan cara mewawancara sambil menunjukkan data-data visual seperti foto atau video. Setelah mendatangi karya-karya Harjono yang masih ada, ia membuat rough cut dokumentasi videonya dan mengajak Harjono untuk melihat hasilnya bareng-bareng. Untuk Gedung Perhutani yang sudah tidak ada wujud fisiknya, ia buatkan model digital tiga dimensi. Ketika ditunjukkan rekaman-rekaman itu, Harjono mulai menceritakan macam-macam.

Tak berapa lama setelah itu, hal tak disangka terjadi. Harjono memberitahu bahwa ia menemukan satu album foto-foto lama karya-karyanya. Data-data lain juga bermunculan, seperti ketika mereka menemukan foto lama Gedung Perhutani ketika menjadi latar arak-arakan lulusan-pertama arsitektur ITS di arsip dokumentasi kegiatan mahasiswa yang disimpan oleh dosen. Ditambah data-data yang mereka kumpulkan langsung dari lapangan, mereka sudah memiliki konten kuat untuk berpameran.

 Arak-arakan lulusan-pertama arsitektur ITS dengan latar Gedung Direksi Perhutani (Foto: koleksi Kami Arsitek Jengki)

Sementara itu, mereka masih mesti berhadapan dengan kendala pendanaan. Sponsor-sponsor yang tadinya diharapkan membantu pendanaan rupanya tidak kunjung memberi lampu hijau. Beruntung, karena sosok Harjono Sigit sebagai tokoh senior cukup dihormati, jalan mereka untuk bergerilya mencari dana jadi lebih mudah. Mereka sukses mengumpulkan donasi dari firma-firma arsitektur di Surabaya. Mereka juga mendapat keringanan untuk biaya pembuatan maket dan pencetakan katalog. Sementara untuk tempat pameran, mereka berhasil mendapat ruangan gratis di Wisma Jerman.

Kerja gigih tim pameran akhirnya menuai hasil sebanding. Pameran ini sukses diadakan dengan kuratorial yang matang dan penyajian yang cermat. Dengan skala ruangan yang intim, pameran ini berhasil merajut arsip-arsip yang mereka kumpulkan dalam wujud yang beragam, dari teks, foto, gambar, video, hingga maket. Berbagai acara diskusi yang menyertai pameran juga selalu dipenuhi audiens yang tak hanya berasal dari latar arsitektur.

“Cukup berkhayal juga bisa bikin pameran dengan materi seperti ini,” kata Fandi, “dengan tim yang awalnya cuma berlima. Kurator saja sampai harus ikut menggantung panelnya sendiri.”

Suasana diskusi "Di Balik Karya", dengan pembicara Harjono Sigit (Foto: Konteks.org)

Pameran ini juga mendapatkan respons positif berbagai pihak, termasuk dari Harjono Sigit sendiri yang tak menyangka, pada usianya yang sudah senja, masih dilirik karyanya.

Anitha Silvia, pengelola C2O library & collabtive dan klab jalan kaki Manic Street Walkers, menilai upaya Ayos dan tim sebagai temuan penting untuk pengetahuan kota Surabaya. “Kalau kita hendak menempatkan Surabaya sebagai kota kedua, sementara informasi mengenai Jakarta begitu deras padahal pengetahuan tentang kota kita sendiri sangat minim, maka upaya untuk menemukan pengetahuan lokal ini yang sangat menarik, bisa direpetisi dan diaplikasikan untuk project lainnya.”

Sementara Defry Ardianta, dosen Arsitektur ITS, melihat pameran ini sebagai peluang katalisasi pengetahuan arsitektur di Indonesia. “Saya yakin beberapa di daerah di Indonesia pasti ada. Orang-orang yang kalau istilah saya 'berkarya dalam diam', mereka yang tidak banyak terekspos dan tidak memiliki pikiran untuk mengekspos dirinya. Sayang sekali, jika mereka tidak kita ungkap.”

Bermula dari obrolan, karya-karya Harjono Sigit kini terdokumentasi dengan baik. Konten-konten pameran sengaja dibagikan gratis oleh tim pameran dengan lisensi creative commons, agar siapapun dapat ikut menyebarluaskannya dengan cuma-cuma. Katalog digital juga akan segera mereka unggah. Harapan Ayos, sosok Harjono sebagai arsitek dapat dikenal luas oleh warga kota Surabaya. Ia juga berharap, pamerannya mampu memancing studi-studi lanjutan mengenai karya-karya Harjono Sigit. Sosok “arsitek tak berbakat”, yang berkarya dalam diam itu, telah mendapat ode yang merdu, sebuah bentuk apresiasi yang layak ia terima. 

Pameran Arsip Arsitektur Harjono Sigit (Video: Irfan Irwanuddin) 

Baca juga: Ayos Purwoaji: "Itu Kan Arsitektur yang Bonek dan Banal!"



comments powered by Disqus
 

Login dahulu