Ole Scheeren: The World Of Cities

Presentasi pertama oleh Ole Scheeren di panggung utama mencerminkan bagaimana WAF 2014 akan berlangsung.

Author
Ole Scheeren (kiri) dan Paul Finch (kanan) di panggung utama WAF 2014

Bagaimana sebuah festival dibuka memberikan impresi tentang bagaimana ia akan berlangsung selanjutnya.

Rabu, 1 Oktober 2014, adalah hari pertama World Architecture Festival (WAF) yang ketujuh. Ini kali ketiga festival itu bertempat  di Marina Bay Sands, Singapura. Seminar pertama di panggung utama dibuka oleh Paul Finch, direktur program WAF yang juga menjabat sebagai direktur editorial Architectural Review dan Architects Journal. Setelah itu, ia mengundang  Ole Scheeren (arsitek prinsip di Büro Ole Scheeren ) sebagai pembicara kunci pertama.

Ia membawakan seminarnya dengan Judul The World of Cities. Judul itu mengesankan sebuah pembahasan yang menyeluruh dalam skala besar yaitu dunia dari berbagai kota. Kita bisa membayangkan banyak hal mulai dari manusia yang menghuni kota, pemerintah yang membuat  regulasi sampai berbagai faktor lain seperti ekonomi, sosial, politik atau budaya. Tapi Ole tidak berbicara tentang itu.Ia berbicara tentang proyek-proyek bangunan skala besarnya yang berada di dalam sebuah kota.

Ole membuka penjelasan dengan membeberkan masalah yang terjadi di kota. Kota yang semakin padat, menurut Ole, saat ini telah mengarah pada pembangunan bangunan-bangunan tinggi. Mereka tumbuh untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan. Hal itu alami terjadi di kota, dan mungkin tidak dapat dihindari lagi. Dalam pertumbuhannya yang serentak, setiap arsitek berfokus pada bangunannya saja. Akibatnya, bangunan-bangunan tinggi tersebut menciptakan masalah baru, yaitu kualitas ruang yang tercipta di antaranya menjadi tak terkendali. Bagaimana ruang tersebut berperan demi kelayakan hidup manusia di kota?

Bangunan tinggi itu akhirnya menjadi individual tower yang tidak saling berinteraksi. Ruang-ruang yang tercipta di antaranya menjadi tidak terdefenisi. Dalam keadaan itu, Ole ingin menunjukan peran arsitektur yang bergerak dari pembentukan ruang, bukan hanya bentuk. Ia ingin membuat sebuah bangunan yang bersinergi dengan konteks kota secara luas dan konteks tapak secara spesifik.

Enam contoh bangunan karyanya menjadi contoh, bagaimana prinsipnya tersebut diaplikasikan ke dalam sebuah bangunan.

Bangunan pertama yang ia presentasikan bernama  The Interlace, sebuah hunian di Singapura. Pada proyek ini ia mengubah tipologi hunian di Singapura yang vertikal menjadi horisontal. Massa bangunan itu tercipta dari komposisi heksagonal. Bagian tengah heksagon itu kemudian menjadi sebuah ruang  terbuka yang digunakan untuk area berbeda-beda. Area inilah yang diinginkan sebagai kualitas ruang huni yang saling berinteraksi, bukan hanya sekedar bentuk.

(The Interlace, sumber: http://www.buro-os.com)

Bangunan kedua bernama  DUO, sebuah bangunan tinggi yang multifungsi. Pada proyek ini, ia ingin menunjukan bahwa massa bangunan yang ia ciptakan adalah dampak dari ruang publik yang sudah lebih dulu ada di sekitar tapak. Dengan cara pikir seperti ini, ia berharap DUO dapat berinteraksi dengan sekitar.

(DUO, sumber: http://www.buro-os.com)

Bangunan ketiga bernama Angkasa Raya, bangunan multifungsi yang berada di hadapan bangunan Petronas di Malaysia. Dilema yang dihadapi proyek ini adalah, bagaimana membuat sebuah bangunan yang special di hadapan bangunan yang sudah sangat spesial? Ole menunjukan sikapnya dengan mendesain bangunan yang harmonis dengan bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya. Pada bagian podium, ia membuat sirkulasi tak terputus dari jalan yang membuat publik bisa mengaksesnya dengan bebas.

(Angkasa Raya, sumber: http://www.buro-os.com)

Bangunan keempatnya adalah MahaNakhon, bangunan multifungsi di Bangkok.  Bangunan ini ingin menggantikan peran podium sebagai elemen bangunan tinggi skala pejalan. Massa bangunan ia buat seolah-olah menyatu dengan tanah secara perlahan, mulai dari puncak bangunan sampai ke dasar.

(MahaNakhon, sumber: http://www.buro-os.com)

Proyek kelima, proyek yang ia anggap tidak bisa tidak pasti ia bicarakan adalah CCTV building di Beijing. Hampir sama dengan presentasinya di awal, CCTV dirancang dengan menghindari tipologi bangunan yang sangat vertikal. Akhirnya ia membuat massa yang seolah-oleh mengalir tanpa putus yang memiliki tipologi dominan menjadi horisontal.

(CCTV, sumber: http://www.buro-os.com)

Ia menutup presentasinya dengan sebuah proyek yang berbeda, yaitu Archipelago Cinema, sebuah proyek membuat bioskop yang mengapung di lautan.

(Archipelago Cinema, sumber: http://www.buro-os.com)

Entah mengapa World Architecture Festival yang ketujuh ini dibuka oleh presentasinya. Tapi ia bisa dianggap sebagai cerminan bagiamana festival ini akan berlangsung: bahwa festival ini akan membiacarakan permasalahan kota melalui pembahasan karya masing-masing presentator.

Hari pertama telah berlalu. Dari para presentator yang tampil di panggung utama, hampir semua memiliki pola seperti itu. Tak banyak wacana baru yang dilontarkan. Semua permasalahan tentang kota berkutat pada padatnya penduduk dan keterbatasan lahan, desain yang berkelanjutan, peran budaya dan ekonomi bagi kota dan isu-isu lainnya. 

Festival masih berlangsung dua hari lagi. Mungkin dalam dua hari itu ada wacana segar atau penampilan yang menghibur dari proyek yang tak terduga. Setelah tiga hari itu, kita bisa melihat, kontribusi apa yang coba mereka berikan melalui festival arsitektur terbesar di dunia.

 

 

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu