"Pemenang" Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur "Simpul"

Reportase Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur “Simpul”

Author

Kamis 2 Juli 2015 kemarin, penjurian Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur “Simpul” diadakan. Kompetisi hasil kerja sama jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan dan Aboday yang rutin dilaksanakan tiap tahun, pada tahun 2015 ini membawa hasil tanpa kemenangan. Pemenang yang bukan pemenang menjadi topik hangat usai kompetisi. Namun apresiasi tetap diberikan kepada peserta yang hampir menyentuh kriteria yang dinilai oleh para juri.

Simpul, tempat dua atau lebih jaringan bertemu, menjadi tema besar pada kompetisi kali ini. Tema ini sesuai dengan permintaan dari perguruan tinggi yang memenangkan kompetisi “Rimpang”, yaitu Institut Sepuluh Nopember (ITS).Defry Ardianta, dosen di ITS, mengusulkankan tema itu. Tema "Simpul" berangkat dari kompleksitas ruang-ruang kota yang diakibatkan beragamnya aktivitas dan kebutuhan manusia. Simpul jalan sebagai titik penting dalam ruang kota tentu mengundang peningkatan konsentrasi aktivitas dengan berbagai kepentingan yang tumpang tindih. Simpul dapat menjadi titik temu, ruang transisi, titik tujuan, lintasan, pengarah, penghubung, titik distribusi, dan lainnya.       

"Kita ingin tahu bagaimana seseorang menerjemahkan ide menjadi produk. Itu juga repotnya, karena biasanya mahasiswa belum punya daya kepekaan,”komentar AryIndradari Aboday. Dengan tema sayembara yang secair ini, penyelengara kompetisi mengharapkan untuk dapat melihat bagaimana mahasiswa dapat mengidentifikasi suatu masalah dan kemudian mengeksekusinya. Dengan hanya memberikan tema serta variabel, penyelenggara mengharapkan agar kompetisi ini menjadi lebih fair, semua peserta terjun dengan tangan yang kosong.

Dari total 27 karya yang masuk, juri menyeleksi hingga 10 besar dan mengundang 5 besar terpilih untuk melakukan presentasi langsung di Jakarta. Acara penjurian final yang dilakukan di Universitas Pelita Harapan berlangsung hingga 5 jam. Kelima besar yang terpilih datang dengan berbagai alasan dan tujuan, darimenambah pengalaman, mengisi waktu luang, memenuhi ketertarikan akan tema sayembara, mengejar hadiahnya, hingga mengejar kesempatan bertemu denganjuri-jurinya.

Kelima peserta terbaik ini datang dari berbagai macam universitas dengan konsep  yang beragam. I Made Nuradi dari Universitas Parahyangan) dengan “Stories of Coexistence”, ingin mengubah simpul kebudayaan dan ekonomi yang ditunjangi dengan visi masa depan yang sustainable secara sosial, eknomi dan ekologi. Yohanes Richo dari Universitas Kristen Petra Surabaya dengan karyanya “Sub-Merged”, membuat sebuah projek untuk mengurangi adanya kemacetan yang terdapat di depan KAI di Malang, dikarenakan banyaknya PKL di sekitar titik persimpangan KAI tersebut. Lalu, Eka Pradhistya dari Universitas Gadjah Mada dengan “Teras Pecinan Yogyakarta, membuat sebuah konsep untuk menghidupkan sebuah budaya minoritas di Yogyakarta dengan memfasilitasinya. Aldo Siregar (Universitas Brawijaya) dengan “Peloro Bridge”, yang dengan bersusah payah merekam bahkan mewawancarai penduduk di sekitar jembatan tersebut untuk mengetahui inti dari masalah yang ada. Serta Deddy Laundryansyah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan “Shared Nodes”, mencoba menghentikan kemacetan di titik persimpangan jalan dengan sebuah konsep pencahayaan yang unik.

STORIES OF  COEXISTENCE oleh I Made Nuradi - Universitas Parahyangan

SHARED NODES oleh Deddy Laudryansyah - Insititut Teknologi Sepuluh November

TERAS PECINAN  YOGYAKARTA oleh Eka Pradhistya - Universitas Gadjah Mada

PELORO BRIDGE oleh Aldo Siregar - Universitas Brawijaya

"SUB MERGED" oleh Yohanes Richo - Universitas Kristen Petra Surabaya

 "SUB MERGED" oleh Yohanes Richo - Universitas Kristen Petra Surabaya

Dalam hal pencarian site, kelima peserta terbaik dari kompetisi ini memiliki cara yang berbeda-beda. Deddy Laundryansyah, juara dua dari kompetisi ini, menelusuri titik-titik perjalanan dari kampusnya ke rumahnya. Ia meneliti satu titik serta titik lainnya untuk menentukan titik mana yang paling menarik. Sementara itu, Eka Pradhistya, peserta yang lain, memilih lokasi yang ia pilih dengan tempat yang terbesit begitu saja di benaknya, yaitu  jalan Malioboro. Berbeda dengan Yohanes Richo Ia memilih lokasi dengan pengalamannya di kampung halaman,  Malang.

Aldo Siregar sebagai pemenang dari kompetisi kali ini, pada awalnya mengikuti kompetisi ini tanpa ada prasangka bahwa Ia akan masuk ke lima besar, bahkan menjadi menjadi juara 1 dari Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur "Simpul". Sebenarnya Aldo hanya berharap  agar  karya yang ia tampilkan yaitu Peloro Bridge, yang juga merupakan karya dari tugas akhirnya dapat direvisi atau atau dikoreksi oleh juri. Selain itu Ia pada mulanya, hanya menginginkan bahwa karnyanya dapat menjadi share knowledge tentang masalah yang ada di lingkungannya

Menurut Aldo sendiri, permasalahan arsitektural yang ada di Indonesia lebih ke arah kehidupan masyarakat. Maka dari itu, Aldo berpendapat bahwa sudah seharusnya arsitektur-arsitektur Indonesia memegang peran yang lebih didalam infrastruktur kota serta permukiman. Hal tersebutlah yang menjadi dasar Aldo dalam mendesain  Peloro Bridge.

 

“Pemenang”

 

Empat juri yang diundang dan terlibat langsung dalam menilai karya peserta yakni Han Awal, Kevin Mark Low, Johansen, dan Defry Ardianta, merasa bahwa kompetisi kali ini adalah sebuah pembelajaran yang cukup menarik untuk mengetahui bagaimana calon arsitek-arsitek muda dalam memecahkan suatu masalah yang ada disekitar mereka.

 

Menurut Defry Ardiantra, dari sisi solusi tidak ada yang menonjol, maka dari itu para juri hanya melihat dari segi pendekatan masalahnya yang terbaik. Hal itu disetujui oleh Han Awal, yang berpendapat bahwa solusi yang diberikan oleh para peserta sudah cukup baik namun masih dalam kategori ‘rata–rata’–tidak ada yang menonjol.

Namun, karena Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur "Simpul" ini bukanlah sayembara ide, penekanan yang ada sebetulnya bukan pada pemahaman masalah saja. ­­­­­ Itu sebabnya, Johansen, juri yang menyampaikan pengumuman pemenang Kompetisi Nasional Mahasiswa arsitektur “Simpul”, mengatakan,, "Terus terang, karena saya mengikuti kompetisi ini selama 3 tahun, jika dibandingkan dengan kualitas di tahun sebelumnya sebagai parameter pembanding, memang terjadi penurunan. Walau kita tadi memberikan penghargaan, bukanlah pembenaran bahwa kita boleh membuat yang segini-gini aja, toh, menang juga. Kalau mau benar-benar ikutin tema bisa aja tidak ada pemenang.”

Ia menambahkan, “Kami hanya ingin memberikan suatu booster, tapi parameter penilaian kali ini hanya sampai pada pendekatan masalah. Kami masih belum melihat di proses dan hasil akhir. Karena bila melihat itu semua, tidak akan ada pemenangnya." Begitulah pembelajaran manis yang bisa didapat dari hasil penjurian Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur "Simpul" kemarin.  

Sebuah pesan menarik bagi mahasiswa maupun praktisi yang baik, agar ketika mengikuti suatu kompetisi di lain hari, benar - benar memahami satu konteks, satu problem, satu proyek, luar dan dalam. Seperti kata Kevin Mark Low, "Memahami suatu konsep, seperti memahami diri sendiri."



comments powered by Disqus
 

Login dahulu