Private Preview of Indonesian Pavilion

Reportase pertemuan tim kurator, para pendukung dan pihak sponsor untuk Pameran Arsitektur Internasional Venice Biennale ke-14.

Author

Lima hari lagi, untuk pertama kalinya paviliun nasional Indonesia resmi dibuka untuk umum sebagai bagian Pameran Arsitektur Internasional Venice Biennale ke-14  (14th  Architectural International Exhibition) yang diselenggarakan oleh La Biennale di Venezia. Sebelumnya, pada tanggal 20 Mei, tim kurator, perwakilan pendukung (Kemenparekraf, Kemendikbud dan IAI Jakarta) dan perwakilan sponsor berkumpul di Casa D’Oro, Hotel Kempinski dalam acara Private Preview Indonesian Pavilion.

Private preview of Indonesia pavilion dimulai sekitar pukul 14.30 dengan dipandu oleh Becky Tumewu. Acara itu bertujuan untuk menyampaikan kembali  tema serta material yang dipilih oleh tim kurator, persiapan , hingga potensi dari keikutsertaan paviliun Indonesia di Pameran Arsitektur Internasional Venice Biennale ke-14 yang  diadakan di Arsenale dan Giardini, Venesia, Italia.

Dalam acara itu, hadir Mari Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia), Wiendu Nuryanti (Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), perwakilan IAI Jakarta  dan para perwakilan sponsor antara lain dari Yayasan Agung Podomoro Land, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Ciputra Group, PT Jaya Raya Utama.

Material dan ketukangan Indonesia

Rem Koolhaas sebagai kurator utama Pameran Arsitektur Internasional Venice Biennale  ke-14 mengusung Fundamentals sebagai tema utama. Sedangkan tema khusus untuk pameran yang diisi oleh paviliun berbagai negara adalah Absorbing Modernity:1914-2014. Dari tema itu, Indonesia menjawab bagaimana modernitas mempengaruhi sejarah arsitektur Indonesia dengan paviliun bertema ketukangan:kesadaran material.

Sebagai pembuka, Avianti Armand mewakili tim kurator (Setiadi Sopandi, David Hutama, Achmad Tardiyana, dan Robin Hartanto) bercerita tentang ketukangan sebagai tema Paviliun Indonesia. Tema ini dianggap menjadi aspek yang mempengaruhi seabad perjalananan arsitektur Indonesia yang bersinggungan dengan  modernitas . Untuk menyampaikan tema ini, dipilih enam material yang berperan dalam ketukangan Indonesia  yaitu: kayu, batu, bata, beton, metal dan bambu. “Masing-masing material akan mempunyai kisah hidup yang unik. Jadi hampir seperti manusia ada naik turunnya, ada waktu kapan dia menjadi hype, kadang dia menjadi whit,” ujar Avianti Armand.

Sesi preview  dipandu oleh Setiadi Sopandi dengan menayangkan tiga dari tujuh video yang akan tampil di Venesia. Tiga video itu menampilkan cerita dari perjalanan material kayu, batu dan metal.  Sedangkan tiga video sisanya akan menampilkan perjalanan material bata, beton dan bambu ditambah satu video berisi footage tukang yang sedang bekerja dan materi-materi lain yang terkait ketukangan lintas material. Pada pameran nanti, tujuh video itu akan ditampilkan secara bersamaan melalui proyektor yang diarahkan ke tujuh  bagian dinding kaca yang masing-masing  memiliki lebar 3 meter dan tinggi 2.7 meter 

Penanyangan pertama berkisah tentang material kayu. Setiadi menceritakan bahwa material ini sempat distigmatisasi menjadi arsitektur lokal ketika arsitektur kolonial yang berbahan dasar bata dan beton datang ke Indonesia. Lalu muncul karya inovatif yang memadukan kayu dengan teknologi maju, seperti  bangunan aula barat ITB hasil karya Henry Maclaine Pont. Namun lama-kelamaan material kayu semakin sulit didapatkan. Hal ini memacu kreativitas dari arsitek kontemporer Indonesia seperti Andra Matin, Gede Tresna dan Adi Purnomo,untuk tetap menggunakan material kayu pada karya mereka dengan keterbatasan sumber daya yang ada.

Tayangan kedua berkisah tentang material batu. Bangunan berbahan dasar batu identik dengan nilai khusus dan spritual, salah satu contohnya adalah Candi Borobudur. Romo Mangun adalah salah satu contoh arsitek yang bereksplorasi dengan material batu alam. Ia banyak mempergunakan batu sebagai material utama pada karyanya seperti tempat perziarahan di Sendangsono. Pada tahun 70-an, 80-an hingga kini, batu banyak digunakan sebagai elemen dekorasi, seperti pada  karya-karya dari Frederich Silaban. Lama-kelamaan material batu menempati tempat yang spesial, terutama di Bali dan tempat -tempat wisata lainnya. Hal ini membuat batu alam dijadikan indeks untuk mewakili sesuatu yang bersifat lokal.

Video ketiga bercerita tentang baja. Pada awalnya baja hadir dalam bentuk besi cor yang difungsikan sebagai elemen pembentuk rel kereta api. Pada perkembangannya besi dan  baja yang mulai digunakan sebagai elemen struktural berubah menjadi elemen dekoratif seperti yang terjadi di Keraton Sultan Yogyakarta. Lama-kelamaan besi dan baja banyak digunakan sebagai komponen dari beton,sehingga sifatnya sebagai tulangan membuat material baja menjadi lebih superior.


Para undangan menyaksikan video tentang  salah satu material.

Rencana program acara di paviliun Indonesia

Tim kurator menyampaikan beberapa program yang akan ada selama enam bulan penyelenggaraan Paviliun Indonesia di Vennice Biennale ke 14. Terdapat enam seminar dengan enam tema berbeda. Masing-masing akan menampilkan dua pembicara arsitek Indonesia.  Avianti Armand menyampaikan bahwa  pada program tersebut,  pihak Indonesia yang diwakili oleh IAI cabang Eropa sedang mengupayakan kerjasama dengan Institut Urban Desain dan Arsitektur yang ada di Venesia.

Acara seminar pertama akan mengusung tema Ketukangan Tradisional. Yori Antar dan Eko Prawoto akan hadir sebagai pembicaranyapada tanggal 7 Juni 2014. Namun untuk lima acara yang juga akan mengangkat tema tentang ketukangan masih  belum disponsori. Hingga saat ini tim kurator masih terus mengupayakan dan mencari sponsor agar semua program serta acara yang telah direncanakan dapat berlangsung dengan baik.

Paviliun Indonesia disambut positif

Keikutsertaan Indonesia dalam Architecture International Exhibition Venice Biennale ke 14 disambut baik oleh banyak pihak. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Mari Elka Pangestu menyampaikan apresiasinya terhadap tim kurator yang mampu mengemas perjalanan arsitektur Indonesia selama 100 tahun dengan sangat baik. “Yang muncul juga adalah kearifan lokal serta warisan budaya yang bercampur dengan penggunaan bahan yang dibawa kekiniannya. Ini yang luar biasa.”ujar Ibu Mari. Menurutnya,  Indonesia patut bersyukur karena masih bisa melihat keterampilan tukang batu, kayu, dan sebagainya karena kita masih menjalani living tradition.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti juga merasa bangga dengan hadirmya Paviliun Indonesia di Venice Biennale  ke-14. “Saya kira Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama-sama dengan Kementerian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyambut ini dengan sangat bangga, dan mudah-mudahan ini menjadi langkah awal untuk menuju kepada satu upaya diplomasi budaya yang unggul dan handal di panggung internasional, ” ujar Ibu Wiendu.

Dampak keikutsertaan Indonesia dalam Venice Biennale bagi dunia arsitektur lokal

Menurut Mari Elka Pangestu, butuh waktu cukup lama untuk arsitektur Indonesia merasakan dampak dari keikutsertaan Indonesia dalam Architecture Venice Biennale. Ia berharap dunia arsitektur dan semua industri serta jasa yang terkait dengan arsitektur akan terangkat lewat hadirnya Paviliun Indonesia. “Dengan demikian, baik pertumbuhan dari sektor kita secara nasional maupun ekspor bisa meningkat.”

Avianti Armand selaku ketua dari tim kurator merasa keikutsertaan Indonesia dalam ajang internasional ini mampu menjadi bahan refleksi untuk tidak lagi menggunakan arsitektur dari luar sebagai bahan referensi. “Kami berharap arsitek-arsitek di Indonesia ini kemudian sadar bahwa mereka sebetulnya sama kompetennya dengan arsitek-arsitek di luar,” katanya,” kesadaran akan kemampuan inilah yang mampu membantu pekerja arsitektur untuk melihat permasalahan yang nyata di Indonesia, dan menyelesaikannya dengan kemampuan nyata yang mereka miliki.”

Wiendu Nuryanti melihat kehadiran Indonesia di kancah dunia mampu menjadi alat berdiplomasi budaya yang strategis dan megangkat citra Indonesia. “Biasanya kalau kita tampil di luar, dikagumi oleh dunia maka kita menjadi bangga dengan apa yang kita miliki, ”ujarnya.

Untuk mengikuti bagaimana proses persiapan paviliun Indonesia di Venice, silahkan kunjungi blog resmi tim kurator paviliun Indonesia: http://ketukangan.wordpress.com/

 

 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu