Surat Putus Kampungan

"Aku bisa bayangkan mukamu sekarang ikutan Romo kegemaranmu itu: manyun."

Author
Untuk Atik yang bohay

Surat ini dimuat pertama kali dalam BERKAS: Terbitan Berkala Jakarta Biennale, disunting oleh Ardi Yunanto & Ninus D. Andarnuswari, sebagai bagian dari Jakarta Biennale 2013: SIASAT yang diadakan pada 9 – 30 November 2013. BERKAS terbit pada akhir acara, 30 November 2013.

 

Atik yang bohay (semoga masih boleh aku memanggilmu demikian),

Izinkan aku mengutip sepenggal dialog dari Burung-burung Manyar, karangan Romo Mangun yang akhir-akhir ini semakin kamu gandrungi itu:

“Kalau Indonesia kelak merdeka, negara kita tidak akan kejam.”

“Mudah-mudahan, Tik.”

“Tidak boleh mudah-mudahan, Pap. Harus.”

Ketika kamu temukan dan, semoga, baca surat ini, kamu mungkin sedang berada di pesawat balik ke Rotterdam. Sengaja hanya kutulis, lalu kuselipkan saja surat ini ke dalam tasmu. Mending aku membayar lebih beberapa ratus dolar untuk menunda penerbanganku. Sekian belas jam duduk di sampingmu dan mengalami lagi banjir air matamu, aku tak akan mampu.

Aku minta maaf karena perbuatanku membuat perjalanan ke kampung halaman, yang seharusnya jadi sebuah perjalanan produktif ini, berantakan. Tapi aku setuju, perpisahan ini memang tak terelakkan lagi.

Memang semua bermula karena aku yang kelepasan ngomong Belanda, “Verrekt!”. Kamu tentu belum lupa. Waktu itu aku mengumpat ke arah materi-materi pameran di bagian kanan pintu masuk, di ruang pamer Erasmus Huis itu. Sabtu sore terakhir. Aku pikir kamu akan tertawa, kemudian menghardik, “Ih, cabul! Manggil-manggil perek!” seperti biasanya. Ketika malah tatapan kebencian yang kudapat, aku sadar bahwa yang kulupa adalah bagaimana perjalanan kali ini sudah membuat kau berpihak kepada mereka.

Aku lupa bahwa dulu, sebelum kita bertemu di Delft, kamu memulai kariermu lewat jalur “kemanusiaan” semacam ini. Ke Aceh, habis tsunami. Dan kamu memang mulai sering mengungkit-ungkit tema penggusuran di Waduk Pluit atau Kali Ciliwung beberapa saat terakhir, ketika kita masih di Rotterdam sebelum berangkat. Namun kupikir pergi sekolah ke luar negeri sudah mengubahmu. Kupikir kau sudah lebih seperti aku.

Ya, aku, yang di atas kertas bergelar seorang ahli tata kota. Tapi latar belakang keluarga tentara membuat aku ini pada dasarnya seorang serdadu, atau soldadu, dari kata soldei alias upah. Kata kontemporernya: profesional, atau orang upahan untuk membela dan menyokong kepentingan siapa pun yang mengupah. Bagiku, ekonomi harus ditempatkan di atas segalanya. Kemanusiaan, atau kesejahteraan bangsa, tentu penting, tapi tidak semendesak kemakmuran masing-masing kita sebagai orang ini. Kita harus bertanggung jawab penuh terhadap diri sendiri, terlebih ketika tak ada memang yang mengurusi. Karena itulah materi pameran di ruang pameran kanan itu tak sejalan denganku. Aku tak tahu saat itu bahwa perdebatan kita akan berakhir begini, jadi izinkanlah aku membela diri dalam surat ini.

Maaf, sekali lagi, tapi emosiku tak terbendung melihat gambar-gambar yang kebanyakan dibuat oleh arsitek-arsitek lokal itu. Jika memang kemiskinan adalah yang mereka perangi, mengapa mereka mempertahankannya begitu rupa? Bahkan sampai mengajukan solusi arsitektur demi mempertahankan permukiman kumuh! Bukan saja itu akan membuat kota menjadi buruk rupa, tapi kekumuhan itu biang penyakit, termasuk penyakit sosial. Mereka yang kumuh harus dibersihkan bukan hanya karena mereka tidak memperindah wajah kota, tapi bahkan dari zaman Ali Sadikin pun seantero kota sudah menganggap mereka berpotensi mengganggu ketertiban umum. Tak percaya? Cek saja buku catatan beliau yang diterbitkan dengan judul Gita Jaya, yang terbit persis setahun sebelum aku lahiritu. Dengan logika komando dari penguasa di atas, kaum sol-sepatu di bawah macam mereka itu harus terus kita beri terapi kejut dan bentakan dari atas.

Masih sejalan dengan Ali Sadikin zaman itu, sekarang ini semua tingkat kepemimpinan, dari DKI-nya Jokowi dan Ahok, sampai pusat lewat Kemenparekraf, masih berpendapat sama. Terbukti lewat keterlibatan mereka dalam pameran “eksplorasi desain inovatif” yang digagas oleh kawan-kawan arsitek lokal yang pernah sekolah ke luar negeri, sehingga berbau internasional ini. Buatku pameran ini adalah sebuah bukti bahwa kita semua, pemerintah dan profesional, setuju bahwa kaum pinggiran kota ini masalah yang musti bukan saja dipecahkan, tapi seharusnya diberantas! Tentu yang kita bunuh bukanlah manusianya, tapi kemiskinannya. Bikin mereka kaya cukupan, sehingga bisa bayar, tak lagi colong listrik, air, dan sewa. Bikin mereka masuk dan bekerja dalam sistem. Semua pihak senang. Beres, tokh?

Belum lagi kalau kita menyentuh arsitektur yang kawan-kawanmu itu hadirkan! Arsitektur dengan wajah apalagi yang hadir lewat pendekatan mereka itu? Bahkan apakah itu Arsitektur? Bagiku, karya mereka mencerminkan apa yang terjadi jika siapa pun tinggal di lingkungan yang penuh koreng dan kudis. Tambal-sulam jugalah estetika yang bisa ia hadirkan.

Masih ingat kamu, bahwa ada dari mereka yang hanya bantu masyarakat bikin MCK! Tak ada terobosan desain yang mereka tawarkan, boro-boro ngurusintampilannya seperti apa. Bikin sekolah-sekolah, sanggar-sanggar yang tak jelas juntrungannya. Aku bingung, dalam otak mereka, siapa yang akan meng-hire mereka di masa depan bila mereka bawa contoh karya macam itu? Mau ditaruh di mana muka Jakarta bila begini?

Sedih tak ayal menghampiriku bila mengingat sebenarnya kita datang ke pameran tersebut untuk melihat salah satu project kita berdua, yang kita kerjakan bersama beberapa rekan asal Belanda dan Swiss yang ter-display di sebelah kiri ruang pamer, langsung berseberangan dengan para perancang kampungan tadi. Sedih, karena hal tersebut tak mungkin terjadi lagi. Seperti banyak hubungan percintaanku sebelum kamu, kita itu tersatukan oleh hasrat dan keseriusan profesional kita.

Setelah dengan bangga aku mematuti panel yang menunjukkan project kita yang berwarna-warni, di-render secara profesional, mengubah citra kampung yang kampungan menjadi hunian layak huni, dan tentunya layak pamer, ada rasa pilu yang kurasakan ketika menengok mukamu yang menatap panel yang sama dengan pandangan kosong. Seakan mempertanyakan alasan awal mengapa kamu sudi melibatkan diri ke dalam project seperti ini.

Di titik itu seharusnya aku sadar bahwa hubungan ini sudah tak tertolong lagi. Tapi, mengutip kamu yang mengutip Romo Mangun, yang kamu anggap “Bapak Arsitektur Modern Indonesia” itu: “Yang seharusnya dan senyatanya itu kan masih dua soal yang belum tentu klop.” Dasar Romo manyun.

Senasib dengan project kita, dengan pandangan kosong kamu seperti mempertanyakan kesahihan materi-materi pameran yang terdiri dari karya-karya yang menurutku bertaraf internasional, terkelompok di sebelah kiri ruang pameran.

“Kamu pikir pameran yang seperti punya pembagian kiri-kanan ini disengaja atau tidak?” tanyaku saat itu mencoba mencairkan suasana, berharap kamu bisa bercanda dan tersenyum lagi. Tapi kamu hanya diam, melengos, dan akhirnya bilang bahwa ternyata mental kita masih mental jajahan dan pandanganku merupakan salah satu buktinya, ketika kita berdebat setelahnya.

Tudinganmu itu tak bisa tidak menjajah pikiranku beberapa saat belakangan ini. Ya, bagiku kamulah yang penjajah, bukan orang-orang asing itu!

Begini pendapatku: dunia sudah berubah. Kekuatan kapitalisme global sudah tak terbendung membuat swasta jaya kapan-kapan dan di mana-mana. Kalau mau omong citra, belalah semua citra selain citra kampung, yang memang tak pernah ramah pasar. Kecuali bila itu dapat mendongkrak harga, semisal membuat singkong yang biasa laku cuma seribu jadi lima kali lipat harganya semula, baru okelah kampung sebagai estetika itu kau hadirkan.

Gunakan saja kesempatan yang boleh jadi tak datang dua kali ini. Seperti yang kita berdua tahu, bukan hanya perusahaan-perusahaan bangsa Belanda yang tertarik dengan perkembangan kota dan bangsa Indonesia sekarang ini. Korporasi-korporasi asal Jerman, Prancis, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, sampai negeri-negeri Skandinavia yang kaya itu juga (belum menyebut negeri China, yang secara pribadi aku masih belum yakin bagaimana harus menentukan sikap). Apa salahnya bekerja mendukung mereka? Bukankah dengan minat bekerja di sini mereka sudah membuktikan dukungan mereka kepada kita?

Transnasional dong, Neng! Tidak zaman lagi mengurus jati diri dan bahasa citra, yang katamu artinya “mementingkan kejujuran sikap dalam merancang.” Kuno itu, ah!

Jadi emosi aku membicarakan ini. Tapi lihatlah bagaimana sejarah manusia melakukan perjuangan mereka lewat estetika. Kamu seharusnya belajar dari Romo-mu itu, yang mewarnai kampung di Kali Code cuma biar kampung itu menjadi indah di mata para pejabat yang ketika itu ingin menggusur mereka. Estetika tak pernah netral. Dia bukan perkara visual semata, tapi lebih tentang survival. Untuk itulah gambar-citraan cantik harus rajin kita bikin dan sebarkan, salah satunya melalui pameran ini walau terlebih sering lagi lewat media massa serta reklame-reklame raksasa di seluruh penjuru kota. Seperti yang kita pelajari di universitas dulu, gunakan dan pelajarilah trend gaya-gaya perancangan yang sedang laku. Fungsi juga, gunakan saja! Kalau apartemen sedang laku, bikin apartemen, superblok, rancang superblok, bahkan kampung, garap saja kampung itu. Hanya begitulah cara untuk laris, dikenal, dan mendapat banyak pengakuan. Dan dengan begitu survive.

Mereka yang kau bela itu jelek (dan sepertinya bahkan para agen pembela mereka, geng kananmu itu, amat ingin mempertahankan kejelekan mereka), sedangkan apa yang kami tawarkan cantik. Baru. Menimbulkan hasrat. Bayangkan Manggarai yang tak lagi kumuh, namun punya pencakar langit berkesan piramida terbalik, misalnya. Akankah warga kampung di situ tetap gemar tawuran dengan kampung lain di seberang kali, ketika mereka bahkan tak lagi hidup dalam kampung tapi disusun efektif secara vertikal, seperti banyak proposal yang kita lihat di sini dan banyak lagi di pameran serupa yang pernah kita berdua ikuti? Tidakkah ini bukan saja lebih livable bagi mereka,tapi yang terpenting juga buat kita?

Aku bangga dikategorikan bersama kawan-kawan perancang di bagian kiri pameran. Memang mayoritas orang asing dimasukkan ke bagian ini, yang boleh jadi bermoyang langsung para agresor yang selalu kita curigai. Tetapi sekarang, kita juga yang mengemis-ngemis agar mereka sudi kembali. Bila dulu kita sebut zaman agresi mereka sebagai zaman dursetut, nah,sekarang terbukti kangen juga kita ini di-setut-setut mereka. Kita memang pengemis mentalnya, sampai kadang malu punya kulit sawo matang ini.

Satu lagi hal yang harus kuluruskan: ingat ketika kamu memuji perubahan Kereta Api Commuter Line yang baru tahun ini diberlakukan? Menurutmu perubahan ini cerdas dan tepat guna. Tak ada pembangunan infrastruktur yang menyumbat aktivitas kota sehari-hari, yang ada hanya strategi pengaturan ulang, dari peremajaan armada kereta, perubahan jumlah bagi masing-masing kelas pelayanan, rebranding, sampai perjuangan subsidi bagi setiap penumpang untuk menekan harga yang bisa jadi amat melonjak. “Lihat efek tiket kartu langganan, satu pintu keluar-masuk yang terkontrol, dan keberpihakan kepada warga yang tak mampu lewat subsidi: meningkatnya tingkat keamanan dan kenyamanan penumpang, yang diikuti lonjakan angka penumpang. Bukankah itu suatu teladan yang patut kita contoh?” ujarmu. Saat itu aku mengangguk setuju.

Namun, sejujurnya, anggukan itu hanyalah kemalasanku. Kemalasan untuk berdebat, dan ketidakinginanku untuk memikirkan hal yang tak pernah kunikmati manfaatnya. Aku hampir tak pernah naik kereta di Jakarta. Untuk mobilku, jalanan tetap (kalau tak tambah) macet, tak berubah banyak. Tak banyak juga pembangunan yang ditawarkan pengembangan macam ini bagi perancang seperti kita untuk berproyek, bukan?

Tapi buatku subsidi itu yang paling menuai pertanyaan: sampai kapan subsidi ini bisa bertahan, dan lebih penting lagi siapa yang melihat dan menikmati? Lagi-lagi para cecunguk yang kalah itu. Mereka itu jongos, jangan perlakukan mereka seperti ndoro yang patut dibela. Mereka kalah persaingan, atau terkadang keduluan start, dan hidup memang tak pernah ramah untuk yang kalah. Subsidi itu cuma obat bius sementara, ketika habis mereka akan terbangun dengan derita yang lebih tak tertahankan.

Kamu itu seperti layaknya kereta api ini, agaknya resisten dengan perubahan. Kamu percaya pada pembentukan kepribadian yang merdeka, dan perubahan akan mengalir seiring kepribadian yang terbentuk tersebut. Menurutmu, dengan cara ini tak ada yang dipaksakan, tidak perlu ada apa pun yang dikarbit. Sebuah cita-cita luhur yang demi pencapaiannya kita tidak punya waktu. Andaikan aku ini seorang menteri, akan kupakai kuasaku demi minteri para jelata ini. Akan kugalakkan pembangunan macam Transjakarta Busway, seperti yang dilakukan oleh Sutiyoso (kuharap MRT dan Monorail yang sedang diperjuangkan pemerintah kota sekarang mengambil jalur ini).

Melalui program-program ini dipraktikkan betul kekuatan terapi kejut pada ruang terbangun kota untuk—meminjam kata-kata Abidin Kusno yang sama-sama sering kita kutip—“menaklukkan perilaku, serta reka ulang imajinasi warga terhadap kotanya dengan meninggalkan jejak yang amat terlihat.” Mereka juga menggunakan operasi membangun secara maksimal, besar-besaran. Kehebohan media massa tak terbendung. Banyak lapangan pekerjaan, walau sekejap, mereka hadirkan. Bukankah itu fungsi pembangunan bagi ekonomi?

Omong-omong pembangunan, sebagai profesional dan anak ABRI, tak bisa tidak aku memang masih kagum pada mantan Presiden Soeharto, Bapak Pembangunan kita itu. Mengangguk setuju aku setiap kulihat kaus atau stiker yang di atasnya terbubuhkan foto beliau, yang makin banyak terlihat akhir-akhir ini. Decak kagumku tak tertahan ketika kubaca kutipan kata-kata mutiara tambahan di sana: “Piye kabare, masih enak jamanku to?” Ingin suatu ketika nanti, kalimat yang sama kusemburkan ke seorang mantan kekasih yang mengajak rujuk. Mungkinkah ke kamu suatu saat nanti?

Aku bisa bayangkan mukamu sekarang ikutan Romo kegemaranmu itu: manyun.

Aku ini, berlawanan denganmu yang kereta, lebih mirip proyek Busway: lebih niat memanfaatkan pembangunan sebagai motor ekonomi. Harus besar-besaran. Korban yang tertelan memang warga nomor sekian itu beserta permukiman kumuh mereka. Mereka harus pindah, dan menjadi bahan bakar tenaga kerja di kawasan-kawasan yang sudah ditentukan agar roda ekonomi besar terus berjalan. Mereka inilah nanti yang di masa depan akan “kami undang masuk menjadi kelas menengah baru yang harus terus tumbuh secara angka, dengan syarat mereka harus menyesuaikan diri dengan norma dan bentuk lingkungan baru ini” (lagi-lagi mengutip si Abidin Kusno). Dalam proses pemindahan yang “sukarela” (dibikin sukar-sukar sampai rela) ini, bersamaan dengan perubahan sektor ekonomi informal ke sebuah sistem hibrida yang punya sumbangan bagi sistem finansial global, adalah kesempatan bagiku dan kawan-kawan arsitek untuk berproyek. Ikut sumbang ide, keahlian, dan tenaga demi pembangunan. Mengikuti pola pikir dan pandang ini, aku percaya bahwa superblok, beserta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sebisa mungkin meniadakan campur tangan pemerintah dalam pelaksanaan ekonomi global adalah jawabannya. Hidup pasar bebas. Hidup pembangunan.

Terakhir, seperti niatan awal mengapa kutulis surat ini, aku mengucapkan selamat tinggal dan semoga sukses bagimu. Aku bisa melihat alasan rencanamu untuk meninggalkan Rotterdam, dan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Walau harus jujur, aku tak sepenuhnya mengerti. Mengapa perjuangan harus kau lakukan dari dalam negeri yang karut-marut itu? Bukankah banyak hal yang dapat kau lakukan malah ketika kau tak di Jakarta, tapi bersamaku di Eropa?

Keputusan itu memang keputusan pribadimu, tapi kalau kau sudah tidak lagi tergiur dengan masa depan praktik desain internasional yang mungkin bisa kita raih bersama, aku memang sudah tidak bisa lagi meneruskan hubungan ini, dan berterima kasih bahwa kamulah yang akhirnya cukup berani untuk menyebutkan kata “putus.”

Aku memang sakit hati dan tak bisa mengerti, tapi sebenarnya aku kagum dengan kemampuanmu untuk melepas semua ambisi dan tiba-tiba memutuskan untuk mudik selamanya ke negeri tercinta. Seperti ada panggilan kuat dari dasar hati yang tak pernah aku alami atau pahami.

Karena paham hidup kita yang berseberangan inilah, untuk sekarang hanya doaku yang bisa kusertakan, seperti Papinya si Atik di kutipan awal surat ini. Walau ini berarti kita akan terus-menerus berada di pihak yang berlawanan, kudoakan semoga kau berhasil menggapai cita-citamu yang baru. Tapi, sepertinya tidak boleh hanya semoga, Tik. Mungkin harus.

Kecup sayang untuk terakhir kali,

Teto-mu

 

Jakarta, 16 Juni 2013

 

Catatan Akhir

Pilihan kata dan gaya bahasa diambil, dan di beberapa tempat diplesetkan, dari novel dan buku Y. B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar (Jakarta: Djambatan, 2007), dan Wastu Citra: Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektural Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh/Latihan-latihan Praktis, cetakan kelima (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013); juga dari buku Abidin Kusno, Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto (Yogyakarta: Ombak, 2009), yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Lilawati Kurnia dan disunting oleh Manneke Budiman.

 Istilah “Verrekt” adalah ungkapan tak baku bahasa Belanda yang artinya adalah “Keseleyolah kau!”, atau dalam bahasa Inggris saat ini berarti “damned”. Kata “Verrekt” dalam “surat” ini mencontek istilah yang digunakan oleh Romo Mangun dalam novelnya Burung-burung Manyar, dan digunakan karena itu adalah slang Belanda, biasa diucapkan pula oleh orang-orang yang Kebelanda-belandaan, dan bunyinya dekat dengan umpatan “perek”. Arti kata “perek” yang populer sejak 1980-an di Jakarta adalah “perempuan eksperimen” atau perempuan yang bukan pelacur namun gemar bereksperimen secara seksual dengan banyak lelaki.

 “Dursetut” adalah istilah yang merujuk pada masa Agresi Militer Belanda I dan II. Asalnya dari kata “doorstoot” yang arti harafiahnya adalah “tohokan” atau “pukulan menerobos”. “Setut” adalah slang zaman ini yang setara dengan kata “embat”, “hajar” atau “beri pelajaran” dan bisa dipakai untuk menjelaskan: memukul, menghabisi, menampar, menipu, mengerjai, sampai menyetubuhi.

Imajinasi untuk menggunakan slogan “Piye Kabare, Masih Enak Jamanku To?” dipinjam dari Soeharto Song : DJ T4UMY & Mr X-Katrok @xplusk. Tautan: http://bit.ly/1hvb8xx, terakhir diakses 31 Oktober 2013.

Soal penggusuran demi penciptaan sumber daya manusia bagi Kawasan Ekonomi Khusus dapat dilihat dalam kajian Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), lewat laman-laman seperti ini dan ini, terakhir diakses 31 Oktober 2013.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu