Titik Mula

Amatan tentang Paviliun Indonesia pertama di ajang Venice Architecture Biennale.

Author

Red: Tulisan ini dibuat dalam Bahasa Inggris—tertera di bawah—dan diterjemahkan oleh redaksi. / The text was written in Englishlisted below—and was translated by the editorial staff.


 

Tak ada acara arsitektural yang pengaruhnya menandingi Venice Architecture Biennale dalam menjelajahi isu-isu disiplin arsitektur terkini. Namun, alih-alih mengangkat topik kontemporer, ajang Venice Biennale tahun ini justru membedah masa lalu. Rem Koolhaas, kurator utama pameran, menugaskan keenam puluh enam negara peserta, dengan tema besar Absorbing Modernity: 1914-2014, untuk mengkaji pengaruh modernisme pada karakteristik masing-masing negara selama 100 tahun terakhir.

Dalam merepresentasikan Indonesia, tim kurator terpilih yang beranggotakan Avianti Armand, Setiadi Sopandi, David Hutama, Robin Hartanto, dan Achmad Tardiyana menetapkan tema Ketukangan: Kesadaran Material. Tema tersebut hendak menegaskan bahwa, dalam seabad terakhir mengimpor modernitas, karakteristik nasional Indonesia telah melalui perjalanan ketukangan dari enam material yang signifikan: kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu—masing-masingnya mengalami transformasi berkelanjutan akibat perubahan kondisi sosial, politik, dan ekonomi.

Kurator Paviliun Indonesia berpendapat bahwa melalui ketukangan, narasi-narasi yang seringkali terabaikan justru dapat merajut satu sudut pandang sejarah yang segar, sebuah antitesis dari sejarah umum yang menitikberatkan pada narasi sosial dan politik. Ketukangan, lebih lanjut lagi, menyoroti konsekuensi negatif yang mungkin terjadi akibat meningkatnya permintaan atas efisiensi pada era modern. Misinya, mengutip pengantar katalog Paviliun Indonesia, untuk “bukan saja membuka diri untuk menjawab kondisi sosial-ekonomi Indonesia, tetapi juga menyegarkan kembali sikap etis dan estetis dalam arsitektur dewasa ini.”

Pada materi yang disajikan di Paviliun Indonesia, terdapat keterbatasan rentang tipologi dan arsitek dalam menceritakan sejarah arsitektur Indonesia. Misalnya, sejarah terkini dari kayu, bata, beton, dan metal sebagai material dekoratif yang diceritakan melalui Potato Head Beach Club, Le Bo Ye, Java Plant Office, Bakoel Koffie—keempatnya dirancang arsitek yang sama—dan sejumlah proyek hunian privat.

Potato Head Beach Club, karya Andra Matin (Foto: Paul Kadarisman)

Padahal, dalam waktu yang bersamaan, lanskap urban Indonesia terus-menerus bertransformasi dengan hadirnya arsitektur pencakar langit, superblok, ruko, dan kota-kota satelit. Proyek-proyek berskala besar ini, sayangnya, tidak termasuk dalam materi Paviliun Indonesia.

Pertanyaannya, apakah tidak ada satupun dari tipologi “mainstream” tersebut, yang sejatinya sama-sama dibangun oleh pekerja Indonesia, yang merepresentasikan ketukangan dalam artiannya sebagai kesadaran material? Di negara yang dikendarai oleh kekuatan kapitalistik, mencari jejak-jejak ketukangan pada arsitektur yang lazim tersebut, saya pikir, vital untuk mendukung argumen bahwa ketukangan benar mewakili identitas Indonesia—sebuah semangat yang adaptif dalam merespons berbagai pengaruh modernitas yang tidak hanya terbatas pada tipologi yang memang didorong oleh estetika.

Pada biennale arsitektur, cara penyajian sebuah pameran juga sama pentingnya dengan isi sajiannya. Di Venice Biennale tahun ini, ada enam puluh enam paviliun nasional, masing-masing berkompetisi untuk merebut perhatian audiens melalui berbagai macam metode representasi yang interaktif. Paviliun Indonesia terletak di lokasi yang primer, dengan luasan yang lega, di Arsenale. Namun untuk sampai di Paviliun Indonesia, apabila mengikuti prosesi standar, setiap orang perlu melewati belasan paviliun negara terlebih dahulu.

Peta Arsenale dan lokasi Paviliun Indonesia (dalam bulatan merah).

Paviliun Indonesia menampilkan tujuh proyeksi gambar bergerak pada tujuh panel kaca yang terbentang di sepanjang ruang pameran. Panel pertama berisi introduksi, sedangkan enam sisanya menceritakan sejarah seratus tahun masing-masing material: kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu.

Ada sejumlah gagasan puitis, estetis, dan kritis di balik metode representasi ini. Di antaranya adalah karakter imaterialitas dari gambar bergerak untuk merepresentasikan keenam material yang literal, paradoks penggunaan kaca (kaca tidak termasuk ke dalam enam material yang diceritakan), dan referensi sastrawi pada politik rumah kaca Pramoedya Ananta Toer. Dari sudut pandang pengunjung, aspek paling berhasil dari wujud fisik Paviliun Indonesia adalah pernyataan tegasnya untuk menghapus stereotip paviliun Asia Tenggara yang lazim direpresentasikan dengan referensi vernakular.

Namun, ada kelemahan praktis pada penggunaan film sebagai metode representasi satu-satunya. Dalam biennale berskala raksasa yang mengekspos materi-materi yang berat dan ekstensif mengenai sejarah, pengunjung akan mencari berbagai pilihan dan variasi dalam memahami materi-materi tersebut. Ketika tiba di Paviliun Indonesia dan setelah melalui sejarah seratus tahun belasan negara, menonton proyeksi film selama satu jam, dengan berdiri, adalah tuntutan berat. Ketujuh film, masing-masing berdurasi 8 menit, ditampilkan dalam bentuk dokumenter: rekaman-rekaman yang bergantian menunjukkan detail dan atmosfer dari material dan bangunan, dengan teks penjelasan mengenai sejarah material. Bentuk dokumenter ini mungkin telah melalui pertimbangan yang matang serta konsisten dengan niatan untuk merepresentasikan materi pameran dengan objektif, namun kekurangannya dalam menjaga intensitas perhatian pengunjung sungguh disayangkan.

Pada teks katalog Paviliun Indonesia, ketukangan disebut sebagai tema yang merevolusi cara arsitek dan audiens Indonesia melihat arsitektur, sebab di dalamnya terkandung tantangan-tantangan ke depan yang melampaui ruang lingkup arsitek. Seruan terhadap ketukangan berarti juga seruan untuk membangun ekonomi kecil, industri kreatif, dan masyarakat informal. Mungkin ini juga berarti seruan untuk merefleksikan, mendefinisikan kembali, dan mengembangkan peran arsitek.

Selepas melihat Paviliun Indonesia, berbagai pertanyaan bermunculan: Pada saat wujud urban semakin diarahkan oleh kapitalisme, bagaimana cara untuk membuat ketukangan—identitas arsitektur Indonesia—berkembang, tidak sebagai alternatif saja, melainkan sebagai “identitas” itu sendiri? Bagaimana ketukangan lokal dapat menawarkan pilihan yang kompetitif dan efisien, yang menyetarai sistem kapitalistik? Akankah ketukangan mampu masuk ke beragam tipologi yang belum ada di lingkupnya saat ini? Bisakah teknologi menjadi perkakas untuk mencapai tujuan itu?

Secara keseluruhan, Paviliun Indonesia di Venice Biennale menyiapkan panggung untuk percepatan solusi atas berbagai kelemahan dalam disiplin arsitektur di Indonesia saat ini, seperti yang disebut dalam pengantar katalog Paviliun Indonesia. Pada minimnya dokumentasi yang komprehensif dari sejarah arsitektur Indonesia, ia menghimpun katalog yang solid dengan temuan-temuan yang kaya; pada terbatasnya ragam titik pandang sejarah, ia menuturkan narasi sejarah-sejarah kecil yang kerap terpinggirkan; pada kurangnya titik acuan dalam memandang modernitas, ia punya pendirian yang kokoh; dan semua itu dihadirkan melalui perspektif kritis yang segar. Paviliun Indonesia berhasil mencapai khalayak arsitektur yang lebih luas untuk menjadi lebih sensitif terhadap ketukangan. Untuk mencapai publik yang lebih luas lagi, adalah tugas masing-masing kita.

Baca juga: Liputan Venice Biennale 2014

Paviliun Indonesia (foto: Konteks.org)



Points of Departure

There is no event more influential than the Venice Architecture Biennale when it comes to exploring the current affairs of architecture discipline. Yet this year’s biennale is all about dissecting the past in order to move the discipline forward. Curator Rem Koolhaas assigned sixty-six national pavilions with the theme Absorbing Modernity: 1914-2014, where each participating country is invited to evaluate what modernism has spared for their nation's characters in the past 100 years.

In representing Indonesia, Craftsmanship: Material Consciousness was the theme selected by the winning curatorial team of Avianti Armand, Setiadi Sopandi, David Hutama, Robin Hartanto, and Achmad Tardiyana. The theme suggests that within the past century of importing modernity, Indonesia's national character has thrived through the craftsmanship of six selected materials: timber, stone, brick, steel, concrete, and bamboo, each undergoing transformation affected by social, political, and economic changes.

The curators argue that through craftsmanship, typically overlooked narratives weave together a fresh historical point of view, an antithesis to a history that has heavily focused on social and political narratives. Moreover, craftsmanship brings into attention the consequences of its endangerment due to the increasing demand of efficiency of the modern era. Its mission, as written in the introduction of Indonesia Pavilion’s catalogue, is to "open one's self to respond to Indonesia's socio-economy conditions [and to refresh] the ethics and aesthetics in architecture in this present time".

In observing the materials presented in the Indonesia Pavilion, one would question the exposure of limited typologies and architects in illustrating the recent history. For example, the most recent history on the use of timber, brick, concrete, and metal as decorative materials are represented by Potato Head Beach Club, Le Bo Ye and Java Plant offices, Bakoel Koffie, and a handful of private residential projects.

During the same time period, the urban landscapes of Indonesia were being continually transformed by the architecture of towers, superblocks, shophouses (ruko), and satellite town developments. These larger scale projects are not included in the materials of Indonesia pavilion.

The question becomes, are none among the latter, larger, more "mainstream" typologies judged representational of the craftsmanship as defined through material consciousness, having equally been built by Indonesian workers? In a nation increasingly run by capitalistic developments, finding traces of craftsmanship in these common architecture is vital to support the argument that craftsmanship is indeed, Indonesia's main identity—a spirit that is adaptable to various forces of modernity not limited to selected niche of aesthetically driven typologies.

In architecture biennales, the way an exhibition is presented is just as important as the content itself. In this year's biennale, there are sixty-six national pavilions, each competing for attention through various interactive method of representation. Indonesia Pavilion is located in a prime, generous space in the Arsenale. However, to get to the Indonesia Pavilion, following a standard procession, one would need to go through a dozen national pavilions. The pavilion is presented as seven film projections on seven glass panels stretching across the exhibition room. The first panel contains the introduction, while the rest tells the 100 year history of each material: timber, stone, brick, concrete, steel, and bamboo.

There are notable poetic, aesthetic, and critical reasons behind this method of representation. Among these are the immateriality of film to represent the literal materials, the paradox of using glass (glass is not one of the six materials chosen for exposition), and the literary reference to Pramoedya Ananta Toer's glass house politics. From visitor's point of view, the most successful aspect of the Pavilion's physical form is that it is a bold statement that erases the stereotype of Southeast Asian pavilions typically represented by vernacular references.

However, there are practical drawbacks to using film as the sole method of representation. In a biennale of this scale that exposes heavy and extensive subjects on history, visitors look for options and variations on understanding the materials. Arriving at the Indonesia Pavilion and having gone through 100 years of history of a dozen countries, it was a demanding task to watch an hour long film projection, standing up. The films, each 8 minutes long, were projected in documentary style: changing footages showing details and atmospheres of the materials and buildings, with text explaining the history of the material. While this documentary style may have been an intentional decision and consistent with the desire to objectively represent the materials, its inability to engage viewers was a missed opportunity.

The text in the Indonesia Pavilion catalog suggests that craftsmanship is a theme that revolutionizes the way architects and Indonesian audience view architecture, for it poses challenges ahead which are beyond the current scope of architects. A call to craftsmanship means a call for shaping the small economies, creative industries, and informal communities. Perhaps this is also a call to reflect, redefine, and expand the role of architects. 

Leaving the Indonesia Pavilion, several questions emerged: In a time where urban forms are increasingly driven by capitalism, what are the ways to make craftsmanship - the identity of Indonesian architecture - develop, not as an underdog or "alternative", but as "the" identity? How can local craftsmanship offer a competitive alternative and efficiency matching that of the capitalistic system? Will craftsmanship be able to embrace typologies beyond its current territory? Can technology become one tool to adapt to this?

All in all, the first Indonesia Pavilion in Venice Biennale sets the stage for the acceleration of solutions for the drawbacks the discipline is facing, as presented in the foreword of the Indonesia Pavilion catalogue. For the lack of comprehensive documentation of Indonesian architecture history, it compiled a solid catalog filled with rich discoveries; for the lack of varied and underrepresented historical point of view, it told a narrative of small histories; for the lack of point of reference of modernity, it took a stand; and all these done through a critically refreshing perspective. Thus far, the Indonesia Pavilion has been successful in reaching a wider architecture audience in becoming more sensitive to craftsmanship. To reach an even wider audience, perhaps is a task for each one of us. 

 



comments powered by Disqus
 

Login dahulu