Author

Dengan begitu banyaknya paviliun di Pameran Arsitektur Internasional ke-14 – la Biennale di Venezia, Anda tentu perlu pintar-pintar memilah. Oleh karena itu, kami meminta David Hutama, kurator Paviliun Indonesia, untuk menentukan paviliun terbaik pilihannya.

Tentu tidak mudah bagi saya untuk bisa menyerap seluruh materi yang disajikan oleh seluruh negara peserta Pameran Arsitektur Internasional ke-14 – la Biennale di Venezia. 66 negara ikut serta di dalamnya, merespons tema Absorbing Modernity: 1914-2014 yang diajukan oleh Rem Koolhaas, kurator utama, dengan tujuan membedah 100 tahun perkembangan periode arsitektur di masing-masing negara. Selain tempat pamerannya yang luas dan lokasinya berada di dua tempat berbeda, tiap negara berupaya untuk menyajikan informasi yang tidak sedikit, dengan pendekatan yang amat beragam.

Membuka katalog pameran juga tidak banyak membantu. Buku setebal 573 halaman tersebut, yang sejatinya adalah sebuah peta, begitu pekat dengan informasi hingga bikin kepala pening.

Namun, pilihan tetap perlu ditentukan. Setelah berkeliling selama lima hari dan mencermati ratusan lembar katalog pameran, inilah enam paviliun terbaik pilihan saya: tiga bertempat di Arsenale, tiga lagi di Giardini.

 

Crow’s Eye View: The Korean Peninsula

Tur 360° Paviliun Korea (Foto: Jelena Prokopljevic, tres60virtual.com)

Paviliun Korea berjudul Crow’s Eye View: The Korean Peninsula adalah peraih penghargaan Golden Lion, penghargaan tertinggi dari la Biennale di Venezia untuk keikutsertaan di ajang dua tahunan tersebut. Tidak ada kesan bobot informasi yang berat di Paviliun Korea yang bertempat di Giardini ini. Paviliun diatur seperti sebuah etalase yang rapi. Juga tidak ada penggunaan media dan teknologi yang canggih dan tidak biasa.

Minsuk Cho, Hyungmin Pai, dan Changmo Ahn, kurator dari Paviliun Korea, mengusung tema penting dalam menanggapi isu pelik hubungan Korea Selatan dan Korea Utara—pemisahan yang terjadi akibat dari pecahnya Perang Dunia ke-II.

Judul pameran Crow’s Eye View dipinjam dari puisi karya Yi Sang (1910-1937), seorang arsitek korea yang kemudian menjadi penulis puisi. Crow’s eye view ditempatkan sebagai lawan dari bird’s eye view—sebagai ungkapan untuk pandangan yang luas dan menyeluruh. Crow’s eye view, sebaliknya, adalah pandangan yang terkotak-kotak, namun tetap berhubungan.

Dalam pameran ini, tim kurator hendak menyajikan Korea sebagai sebuah bangsa dan budaya yang utuh. Keterbatasan komunikasi dan akses informasi bagi masyarakat Korea Selatan tentang saudaranya di Utara, membuat “pandangan” dan peta yang dibuat sulit utuh. Arsitektur lalu ditempatkan sebagai agen untuk membuat sebuah peta arsitektur yang utuh tentang Semenanjung Korea, bukan lagi tentang Korea Selatan atau Korea Utara.

 

Interiors. Notes and Figures

 

Paviliun Belgia (Foto: David hutama)

Paviliun Belgia berada di Giardini. Tim kurator Sebastien Martinez Barat, Bernard Dubois, Sarah Levy, dan Judith Wielander memberi judul Paviliun mereka Interiors. Notes and Figures.

Pameran ini adalah hasil riset selama 5 bulan mempelajari ribuan foto dari ruang domestik rumah tinggal. Paviliun Belgia hendak menunjukkan bahwa fenomena proses modernisasi justru bisa dengan jelas tampak dalam gerak perubahan dari ruang domestik arsitektur. Munculnya perangkat rumah tinggal baru atau teknologi hunian yang lebih canggih secara otomatis “memaksa” ruang domestik mereka beraptasi.

Ruang pameran dicat putih, diisi oleh instalasi berbagai elemen interior rumah dengan gestur yang minimal. Instalasi-instalasi tersebut disandingkan dengan foto-foto ruang domestik vernakular yang menunjukkan bagaimana masyarakat Belgia menyerap dan menyesuaikan diri dengan modernitas.

 

In The Real World

Paviliun Jepang (Foto: Konteks.org)

Paviliun ketiga dari lokasi Giardini adalah Paviliun Jepang dengan judul In The Real World. Norihito Nakatani, kurator Paviliun Jepang, meletakkan periode 1970-an sebagai sebuah titik balik dalam perkembangan arsitektur di Jepang. Setelah restorasi Meiji sampai dengan 1970-an, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat. Ranah arsitektur secara otomatis menikmati buahnya. Eksperimen arsitektur lewat pemberdayaan teknologi banyak dilakukan seperti oleh para arsitek gerakan metabolis. Expo 1970 di Osaka dianggap sebagai puncak dari masa ini.

Nakatani, pada Paviliun Jepang ini, hendak memaparkan apa yang terjadi setelah masa puncak tersebut. Situasi ekonomi yang tidak sebaik dulu, ditambah munculnya isu-isu baru seperti isu lingkungan, mendorong terjadinya riset-riset dan eksperimen baru dalam berarsitektur. Para arsitek jepang pasca 1970 tadi pergi ke banyak tempat di dunia untuk mempelajari kemungkinan-kemungkinan baru dalam berarsitektur. Pameran di Paviliun Jepang seperti memasuki sebuah museum. Gambar, sketsa, sampel riset, diletakkan sebagai artefak-artefak untuk memperlihatkan bagaimana arsitektur kontemporer Jepang tidak hadir dalam sekejap.

 

Ideal/Real

Paviliun Argentina (Foto: Konteks.org)

Paviliun Argentina berjudul Ideal/Real digawangi oleh tim kurator Emilio Rivoira dan Juan Fontana. Metode pemaparan paviliun ini sebetulnya biasa saja. Sejarah arsitektur Argentina dalam 100 tahun belakangan ini diceritakan secara kronologis dan linear. Modernisme diposisikan sebagai sesuatu yang ideal, suatu ide yang dalam kenyataannya berbeda.

Bagian yang menarik dari paviliun ini adalah cara menyajikannya. Pameran ini dibagi menjadi 8 bagian: 1914-1925 Eurocentrism and Metropolis, 1925-1940 Eruption of the Modern Movement, 1945-1955 Growth and Social Responsibility, 1955-1965 Cultural Optimism – 1960s boom, 1975-1983 Authoritarian State – The Infrastructure of Power, 1990-2000 Global City – Real City, 2000-2014 Environmental Discourse – the inclusive state, dan yang terakhir Architecture and The Film-maker’s Eye.

Pada setiap bagian, kurator menyandingkan antara apa yang ideal dan apa yang real. Ideal digambarkan dengan proyek-proyek arsitektur yang disajikan dengan medium panel presentasi, sementara real digambarkan melalui cuplikan film-film Argentina yang diproyeksikan ke panel-panel kayu. Dengan susunan panel-panel besar di kanan dan kiri membentuk suatu koridor, Paviliun Argentina mengajak pengunjungnya untuk memahami sejarah 100 tahun arsitektur Argentina sebagai suatu produk sosial-politik dan budaya.

 

Fitting Abstraction

Paviliun Kroasia (Foto: Konteks.org)

Paviliun Kroasia tidak mempunyai tempat yang luas. Ruangannya berbagi dengan Paviliun Thailand di Arsenale. Namun, hal ini tidak mengurangi kualitas dari materi dan penyajiannya.

Paviliun Kroasia, dengan judul Fitting Abstraction, menyajikan materi mereka lewat delapan meja yang digantung dan disusun secara paralel. Tiap meja ini mewakili delapan atribut mendasar dari arsitektur Kroasia. Pada tiap meja terdapat maket-maket, diagram, dan paparan. Pada setiap atribut, dipilih sejumlah karya arsitektur yang kemudian dibedah secara spesifik berdasarkan atribut teresbut.

Pameran yang dikuratori oleh Igor Ekstajn ini bertujuan untuk menghubungkan antara otonomi arsitektural dan isu budaya dan identitas negara Kroasia. Dengan menyelami peran modernisme dalam hubungan ini, terungkap bahwa, dalam konteks arsitektur, modernisme ternyata malah menjadi agen aktif dalam membangun budaya dan identitas bangsa.

 

Monolith Controversies

Paviliun Chile (Foto: Konteks.org)

Dari luar paviliun yang bertempat di Arsenale ini, hanya tampak sebuah ruang tamu kecil yang sederhana. Setelah memasuki sebuah pintu kecil yang terdapat dalam ruang tamu tersebut, barulah kita menemukan ruangan yang lebih luas. Di tengah ruangan, terdapat sebuah panel beton yang cukup besar. Pada dinding, disajikan maket apartemen-apartemen yang menggunakan teknologi panel beton. Berseberangan dari dinding maket tersebut, digantung sebuah televisi yang menayangkan kejadian-kejadian yang terkait dengan panel beton tersebut. Adapun ruang tamu yang mengantar di awal rupanya rekonstruksi ruang tamu dari rumah panel beton milik salah seorang warga Chile.

Paviliun Chile ini, dengan judul Monolith Controversies, menerima penghargaan honorable mention dalam la Biennale 2014. Kurator Pedro Alonso dan Hugo Palmarola menceritakan 100 tahun sejarah Chile dengan menggunakan sebuah elemen arsitektur yaitu panel prefabrikasi beton sebagai porosnya.

Pada tahun 1972,sebuah panel beton besar diproduksi di kota Quilpie oleh industri yang didanai Uni Soviet. Panel ini digunakan untuk keperluan proyek perumahan rakyat pemerintah Unidad Popular. Sistem ini kemudian dikenal sebagai KPD, akronim dari Bahasa Rusia (krupnopanelnoye domostroyenie) yang berarti Panel Beton Besar. Sekitar 170 juta apartemen berhasil dibangun dari tahun 1945-1985 lewat teknologi panel ini. Terlepas dari aplikasi praktisnya, ternyata panel beton ini juga selalu menjadi simbol yang dikaitkan dengan sosial dan politik, juga seni.



comments powered by Disqus
 

Login dahulu